Jumat, 27 Januari 2017

#NHW1_adab menuntut ilmu

Belajar Menjadi Diri yang Utuh
Oleh: Noor Aini Prasetyawati

Semenjak saya kecil sampai menjelang menikah, saya nyaris tidak pernah melakukan pekerjaan teknis rumah tangga. Saya diberi kesempatan seluas-luasnya oleh kedua orangtua saya untuk mengembangkan potensi akademik dan organisasi saya. Bapak dan Ibu saya sama-sama sibuk bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan keluarga. Saya anak pertama dari empat bersaudara. Keluarga kami selalu mempunyai asisten rumah tangga yang sigap menyelesaikan urusan teknis di rumah. Bapak dan Ibu juga lebih sering meminta bantuan orang lain untuk memperbaiki berbagai kerusakan di rumah, mulai dari memperbaiki kran yang rusak (kalau soal ini kadang Bapak saya masih sempat melakukan) sampai memperbaiki atap rumah yang bocor. Bapak dan Ibu saya sebenarnya cukup terampil untuk mengerjakan semua itu, namun mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukannya. Ibu saya bisa menjahit baju, baju-baju beliau semasa gadis hampir semua hasil karya beliau sendiri. Saya dan adik perempuan saya pun pernah merasakan memakai baju karya Ibu saya. Meskipun demikian, ilmu dan ketrampilan tersebut nyaris tidak saya kuasai sama sekali. Ibu saya sangat pintar memasak, terutama masakan khas Jawa. Masakan beliau enak-enak. Ibu saya pernah mempunyai warung makan dan berbisnis katering yang cukup besar (melayani karyawan pabrik dan karyawan rumah sakit) ketika beliau masih aktif menjadi guru. Lagi-lagi, keahlian beliau ini tidak saya kuasai. Setelah Bapak saya meninggal, keluarga kami menjalankan bisnis katering sebagai bisnis keluarga. Semua anggota keluarga terlibat sesuai kemampuan dan pilihan masing-masing. Saya cenderung memilih menjadi bagian yang membuat proposal penawaran ke instansi-instansi, menemani Ibu saya rapat atau mengajukan tender, belanja, mengawasi karyawan dan mengerjakan urusan administrasi. Saya melakukan itu di antara waktu kuliah dan bekerja di salah satu NGO di Yogyakarta. Sejak Bapak meninggal, saya semakin memahami siapa Ibu saya. Beliau seorang perempuan hebat yang multi talented, kompetitif, pandai berorganisasi dan selalu bersemangat melakukan semua tugasnya, terutama untuk anak-anaknya. Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang Ibu yang bekerja di luar rumah tetap bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Saya ingin seperti Ibu saya, yang tetap bisa berkarier di luar rumah, namun keluarga tetap terurus dengan baik, dengan manajemen yang tepat, termasuk membagi banyak pekerjaan dengan asisten rumah tangga dan orang lain. Begitu kuat keyakinan saya itu, sehingga saya memilih untuk belajar ilmu apa saja yang berorientasi pekerjaan di luar rumah. Saya ingat betul jawaban saya ketika seorang teman bertanya tentang bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, dengan penuh semangat saya jawab: “Bekal untuk menjadi wanita karir. Pekerjaan rumah? Ya saya tinggal menggaji asisten rumah tangga dong, biar nanti dia yang mengerjakan.”
Namun demikian, rupanya Allah berkehendak lain. Allah memberi saya kesempatan belajar menjadi seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di rumah, produktif di rumah J
Sebelum menikah, saya terkena toxoplasma, rubella dan CMV yang cukup parah. Penyakit itu benar-benar mengubah hidup saya. Saya tidak bisa seaktif dan selincah dulu karena saya jadi gampang capek dan sering kambuh. Saya juga selalu khawatir dengan kemampuan reproduksi saya dan kondisi anak yang kelak saya lahirkan. Saya dan keluarga menempuh berbagai cara agar saya sembuh. Alhamdulillah, ketika menikah, saya sudah sembuh dari penyakit ini. Kemudian, ketika hamil, saya tes lagi, dan alhamdulillah, sudah negatif sehingga saya bisa menjalani kehamilan dengan bahagia. Alhamdulillah, anak kami lahir selamat, sehat, dan normal segala sesuatunya. Sungguh, saya merasa sangat lega J
Setelah melahirkan, saya terkena baby blues syndroma. Cukup parah sampai mengganggu kuliah S2 saya sehingga terpaksa tidak saya selesaikan. Meskipun berat, namun langkah itu yang paling realistis saya pilih waktu itu. Salah satunya karena kondisi tubuh saya tidak memungkinkan untuk menempuh perjalanan Yogya Solo nyaris setiap hari. Saya jadi mudah sekali merasa capek dan sering kambuh meski tidak separah dulu. Oleh karena itu, suami saya menyarankan agar saya tinggal di rumah, konsentrasi mendidik anak. Suami saya berpesan: “Ijazahmu adalah Roetji (anak kami)”. Pesan suami saya ini yang sekarang menjadi amanah besar bagi saya. Kami pun memilih homeschooling sebagai jalur pendidikan kami sekeluarga. Kami ingin belajar bersama, bertumbuh bersama. Sekarang, saya mantap memutuskan untuk menjadi seorang ibu yang produktif dari rumah.
Berangkat dari latar belakang itulah kemudian saya melatih diri saya untuk menjadi diri yang seutuhnya, yang sebisa mungkin menjalani semua peran yang melekat pada diri saya, dengan iklas dan bahagia. Saya ingin menjadi diri saya sendiri, anak yang berbakti kepada orangtua saya, istri yang diridhoi suami dan ibu yang asyik bagi anak kami J
Saya menyadari bahwa bekal ilmu yang saya miliki saat ini masih sangat kurang, tidak hanya kurang komplit namun juga kurang rapi. Saya melihat Allah telah memberi saya bekal berupa pengalaman sepanjang hidup saya, namun bekal itu seperti tapak-tapak yang terserak, belum tersusun rapi menjadi alur perjalanan yang mantap untuk terus dilalui sampai tujuan. Tapak-tapak bekal itu juga perlu saya mantapkan bersama keluarga kecil kami, untuk kami lalui bersama, menuju tujuan bersama, tentu dengan iklas dan bahagia. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, saya memutuskan memilih ilmu untuk menjadi ibu profesional. Saya berharap dengan bekal ilmu tersebut, saya bisa menjalani peran  saya seutuhnya dengan lebih optimal, tidak sekedar mengalir bersama waktu. Saya berharap bisa memenuhi amanah suami saya, memperoleh ‘ijazah’ saya dengan membersamai tumbuh kembang anak kami sesuai fitrahnya, bersinergi dengan suami saya, menjalankan peran suci kami. Kami menjadi keluarga pembelajar, menjalani Sekolah Rumah (homeschooling) kami dengan seoptimal mungkin.
Dalam upaya saya untuk memperbaiki diri, Insyaallah saya akan membuka diri, membuang mental block saya, agar saya bisa menerima ilmu ini dengan sebaik-baiknya, tidak memilih yang saya suka / setuju saja. Dan mengkomunikasikan ilmu yang saya peroleh dengan suami saya, agar kami dapat berubah, bertumbuh dan berkembang bersama dengan lebih baik. Terlebih ilmu ibu profesional ini bukan ilmu hafalan, ilmu pasti, apalagi ilmu ghaib. Semua yang diajarkan di institute ini perlu diresapi, dipilih dan dipilah dengan cermat dan pertimbangan yang matang, dan tentu saja dipraktikkan dengan sebaik-baiknya.
Saya menyadari bahwa selama ini saya punya kecenderungan untuk menganggap gampang beberapa hal sehingga sering kali tidak menyelesaikan pembelajaran tersebut dengan baik. Misalnya, ketika membaca suatu buku, jika buku tersebut tidak benar-benar menarik bagi saya, jarang saya baca utuh dari bab pengantar sampai penutup. Sebelum selesai membaca buku tersebut, saya beralih ke buku lain yang sekiranya lebih menarik. Selain itu, ketika membaca suatu resep masakan, sering kali saya hanya berhenti pada membaca resep tersebut, tidak saya praktekkan. Kalau suatu saat resep tersebut saya praktekkan, acapkali resep tersebut berubah, menyesuaikan isi kulkas kami (namun kalau membuat kue / roti, sebisa mungkin saya mengikuti resep). Atau, saya sering menyusun menu mingguan untuk keluarga kami, namun tidak pernah saya patuhi. Oleh karena itu, saya berharap dalam mencari ilmu ibu profesional ini, saya mau dan bisa membacanya secara utuh dan mendalam, mempraktekkannya sesuai ‘resep’ untuk hal-hal yang memang lebih baik jika dilakukan sesuai ‘resep’ dan memodifikasinya jika sekiranya akan lebih pas jika disesuaikan kebutuhan dan kondisi kami. Saya juga akan belajar konsisten, menjalani semua yang sudah dijadwalkan, dengan runut dan runtut sesuai tahap pembelajaran.

Bismillah, semoga tulisan ini bisa menjadi awalan langkah saya membangun tapak-tapak kehidupan keluarga kami yang lebih baik J