Setelah ikut kelas Menyusun Kurikulum Belajar Anak Berbasis Metode Charlotte Mason bersama mbak Ellen Kristi, saya mencoba menarasikan materi tersebut kepada suami. Latihan untuk menjadikan pengetahuan yang saya pelajari 'menjadi milik saya' dan sekaligus menggandeng suami saya agar bisa melangkah bersama dalam perjalanan panjang kami sebagai orangtuanya R. Materi yang disampaikan selama 2,5 jam ini sangat padat dan benar-benar membuat kami merasa perlu untuk membongkar kurikulum pendidikan yang selama ini kami pakai dalam pelajaran R sehari-hari. Dan, status saya kali ini hanya menceritakan sebagian kecil dari peristiwa yang terjadi sewaktu saya menarasikan materi yang disampaikan mbak Ellen Kristi tadi pagi.
Sewaktu saya bercerita bahwa cara narasi itu beragam, sesuai dengan materi dan kebutuhan, R pas ikut nimbrung. Materi yang berupa teks yang dibacakan, seperti pelajaran sejarah, narasi bisa berupa narasi lisan dan atau narasi tertulis. Sedangkan picture study, narasinya berupa narasi lisan dan gambar. Dan materi belajar di alam, narasinya berupa jurnal alam.
"R, ketika kita mengamati daun nangka, kita juga sedang belajar matematika lho, belajar pola. Di satu pohon nangka, ada puluhan daun nangka yang polanya sama, sehingga semua daun di pohon itu mirip. Pola di daun nangka sangat berbeda dengan pola di daun pisang. Nah, dengan membuat jurnalnya, kita jadi menyempatkan diri untuk mengamati dengan detail sehingga tahu pola yang ada di tulang daun masing-masing tanaman. Kita juga bisa meraba dan mencium aroma daun-daun tersebut. Kita bisa menuliskan hasil pengamatan itu di jurnal kita, juga menambahkan puisi lho."
R: "Iya ya Bu. Pantesan buah pepaya dalam bahasa Jawa disebut telo gantung, sebab daunnya mirip sekali dengan daun pohon ketela (telo)."
Bapak: "Betul! Kalau pepaya itu telo gantung, kalau telo yang biasa kita makan, yang rasanya manis, telo apa?"
R: "Telo urug!"
Bapak dan Ibu: Wkwkwk... Itu telo pendem Mas...
Ibu: "Pola daun yang mirip itu bisa menjadi bahan dalam mengelompokkan tanaman berdasarkan ciri-ciri tertentu dan melakukan penamaannya. Ini jadi salah satu dasar dalam ilmu biologi."
Kemudian saya menarasikan prinsip belajar yang diajarkan CM: sedikit demi sedikit, perlahan dan konsisten. Pondasinya harus dipastikan sudah kuat baru kemudian ditambah materi berikutnya, tidak perlu terburu-buru seperti sedang adu balap karung. Tahap belajar harus selalu disesuaikan dengan kesiapan anak; berangkat dari realitas anak, maju bertahap mencapai visi; dan kemajuan tidak bersifat linier. R tidak berkomentar apapun.
Namun begitu saya menceritakan tentang teknik belajar matematika, R ikut nimbrung lagi. Ia setuju dengan teknik ini, yang kami praktekan selama ini, sehingga ia jadi paham perkalian. Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam belajar perkalian itu ada cara yang lebih mudah dan praktis, sehingga tidak boros kertas, tapi tidak berlaku untuk semua angka.
R: "Kebanyakan orang kan ketika pertama kali dijelaskan tentang perkalian itu caranya seperti ini: misalnya 2x9 itu sama dengan 2+2+2+2+2+2+2+2+2. Itu kan ribet dan buat ngitung seperti itu butuh kertas yang kemudian disia-siakan. Padahal ada cara yang lebih mudah dan menghemat kertas. Seperti misalnya: pada perkalian 1, angka yang dikali 1 itu sama dengan angka yang dikali itu tadi. Perkalian 2, misalnya 2x9= 9+9. Perkalian 4, mirip sekali dengan perkalian 2, namun setelah itu dikali 2 lagi. Perkalian 10, misalnya 9x10 itu sama dengan 9 ditambah akhiran 0. Perkalian 5, seperti perkalian 10 namun setelah itu dibagi 2. Bagi yang tidak tahu dibagi 2, itu seperti meja persegi dengan suatu luas tertentu yang digaris tengahnya agar terbagi 2 bagian sama besar. Perkalian 9, angkanya selalu turun 1, jadi misalnya 3x9, angka 3 nya berubah jadi 2, terus antara 2 dan 9 dicari selisihnya. Selisih adalah seperti pengurangan angka yang lebih besar dikurangi angka yang lebih kecil, misalnya selisih 2 dan 9 adalah 9-2=7. Jadi 3x9=27. Berikutnya, perkalian 11. Misalnya 8x11, angka 8nya didobelkan saja, tidak perlu menghitung 8 dijumlahkan dengan 8 sampai 11 kali. Jadi lebih mudah, cepat dan hemat kertas kan? Perkalian dari 1 sampai 10 selain angka-angka itu, terserah mau dihitung dengan cara apa."
Saya jadi menyadari bahwa sebenarnya yang membutuhkan kurikulum pendidikan itu tidak hanya anak kami, namun juga kami. Agar kami pantas menjadi orangtua yang menjadi teman seperjalanan yang baik untuk anak kami. Bersama berusaha menjadi pribadi yang 'magnanimous'. Apa itu pribadi yang magnanimous? Bersambung di edisi selanjutnya. 😁
#HSKeluargaAIR
#kebonusugudel
#refleksidiri