Sabtu, 17 Juni 2017

Komunikasi Produktif dengan Anak

Hari ke sepuluh, 
Jum’at 16 Juni 2017


Agenda di luar rutinitas harian adalah ikut ibu ke bank dan antri tiket prameks untuk mudik. R sangat bersemangat, ia ingin segera bertemu dengan neneknya. Ia pun dengan suka rela mandi sendiri dan segera mengenakan bajunya sendiri, nyaris tanpa perlawanan setelah ia selesai membaca bukunya. Saya cuma mengingatkan kesepakatan kami sekali saja.

Sore harinya, kami ada pertemuan dengan komunitas praktisi homeschooling Solo Raya di rumah salah satu anggota. R sangat bersemangat dengan agenda ini, ia ingin bermain bersama teman-temannya. Mandi sore ia lakukan dengan suka rela, cukup diingatkan sekali saja. Begitu pula dengan ‘acara’ memakai baju sendiri. Saya cukup mengingatkannya dengan kesepakatan kami maka ia segera mengenakan bajunya sendiri. R juga sudah mau mengenakan kaos dan celananya dengan baik dan benar, tidak terbalik lagi.


#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

Komunikasi Produktif dengan Anak

Hari ke sembilan, 
Kamis 15 Juni 2017

Pagi ini R tidak mau pergi kemana-mana, ia ingin di rumah saja. Kami pun menyusun ‘proposal riset’ yang akan R lakukan. Kami berencana membuat 10 percobaan, namun R baru berhasil menyusun 3 proposal. Ia membaca buku-bukunya tentang percobaan sains, kemudian menggambar bahan-bahan yang diperlukan untuk masing-masing percobaan. Ia belum mau menuliskan bahan-bahan tersebut dan bersikeras saya yang menulis. Sebelum melakukan ini, kami membuat kesepakatan bahwa R akan mandi setelah kegiatan ini selesai. Dan, R pun melaksanakan kesepakatan ini. Ia pun mandi dan mengenakan bajunya sendiri dengan suka rela.

Siang harinya, tanpa direncana, bapak e R pulang sebentar karena ada sesuatu yang tertinggal di rumah. Tanpa kami duga, R ngotot ingin ikut bapak e ke kantor. Tumben, bapak e mengijinkan. Alhasil, saya sendirian di rumah. Kami bersepakat bahwa R akan pulang sekitar jam 15.00. Namun ternyata, R sangat betah di kantor bapak e sehingga tidak mau pulang, ngotot ikut acara buka bersama di kampus. Yah, R jadi tidak mandi sore deh. Sekitar jam 20.00 ia pulang, dan segera saya minta ganti baju. Ia sedikit protes, menurutnya bajunya tidak kotor sehingga tidak perlu ganti. Setelah saya jelaskan bahwa bajunya kotor, telah ia pakai sejak pagi dan ia tidak mandi sore, maka supaya bisa tidur nyenyak, R harus dilap dan ganti baju. R pun akhirnya bersedia saya lap badannya dan ganti bajunya sendiri. 

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif


#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak

Hari ke delapan, 
Rabu 14 Juni 2017

Sejak kami ngobrol ‘ala orang dewasa’ tentang tugas orangtua dan anak, R sepertinya paham bahwa tugas orangtua adalah mengajari anaknya tentang baik buruk dan benar salah, tugas anak adalah mematuhi perintah dan nasihat baik orangtuanya. Tugas kami bersama adalah lebih banyak tertawa, agar bahagia dan tidak marah-marah J
Beberapa kesepakatan teknis kami buat, antara lain: mandi sendiri dan segera mengenakan baju sendiri dan masing-masing anggota keluarga punya screen time setiap harinya 2 jam saja. Dan, R yang paling konsisten dengan kesepakatan screen time ini. Lagi-lagi, kami jadi kebo nusu gudhel, belajar dari anak kecil kami J

Alhamdulillah, pagi dan sore ini R mau segera mandi sendiri dengan suka rela dan segera mengenakan bajunya sendiri setelah saya ingatkan kesepakatan kami, sekali saja. Saya sangat senang, artinya R paham dengan obrolan kami. Kami berjanji akan saling mengingatkan tentang kesepakatan kami, tanpa marah-marah. Karena kami menyadari bahwa membangun kebiasaan baik itu bukan mantra sihir, namun perlu dilakukan berulang-ulang dan konsisten. Semoga kami mampu J

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif


#kuliahbunsayiip

Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Ketujuh

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Ketujuh
Selasa, 13 Juni 2017
Setelah semalam hujan cukup deras, hari ini cuaca mendung dan tidak gerah lagi. Kami pun memilih beraktivitas di rumah saja. Selesai mandi pagi, R mau dengan suka rela segera mengenakan bajunya sendiri. Sepertinya ia merasa agak kedinginan.
Sore harinya, R pun mau segera menurut ketika saya memintanya untuk mandi sore. Ketika saya memintanya memakai baju, ia bertanya “Bu, ini kan baju yang kena slime magnetik? Kenapa dipakai lagi?” Saya pun menjelaskan bahwa baju itu sudah dicuci dan sudah aman. R pun mengenakannya tanpa perlawanan.
Alhamdulillah, sepertinya dua hari ini cukup mencapai target, namun masih perlu diuji lagi. Oleh karena itu, saya akan tetap melanjutkan games ini sampai tanggal 17 Juni 2017. Sekaligus untuk menguji hubungan PMS dan menstruasi dengan keterampilan saya mengendalikan emosi dan kepatuhan anak.
Sementara ini saya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara emosi ibu dengan anak. Sewaktu ibu emosional maka anak semakin ‘berulah’, emosinya juga ikut tidak stabil. Selain itu, ternyata anak juga cukup terampil mengidentifikasi kebutuhan dan tindakan yang perlu dilakukannya. Jika suatu pekerjaan / tindakan itu ia rasa menjadi kebutuhannya maka ia akan suka rela dan bersemangat untuk melakukannya, demikian juga sebaliknya. Tantangan bagi kami yang sepertinya akan berlangsung terus adalah bagaimana membangun kesadaran anak akan kebutuhannya, membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan menghargai kebutuhan orang lain. 


#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Keenam

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Keenam
Senin, 12 Juni 2017
Hari ini cuaca sangat panas maka R mandi dan bermain air cukup lama. Saya memakluminya, asalkan ia tidak membuang-buang air melebihi jatahnya. R menurut, ia memilih berendam dan bermain air di ember mandinya. Setelah puas, ia ke kamar. Lagi-lagi, tidak segera memakai baju, tapi justru melemparkan baju-bajunya. Hmm, saya pun menghela nafas dan berkata “Mas R, pakai kaos singlet, celana dalam dan celana pendekmu ya. Malu.”
R pun mengenakannya sambil bertanya “Kenapa boleh nggak pakai kaos tapi tetap harus pakai celana pendek?” Saya pun menjelaskan bahwa hari ini cuaca sangat panas sehingga boleh pakai singlet di rumah agar tidak kegerahan, tapi tetap harus pakai celana pendek agar tidak mengundang orang jahat yang suka dengan anak kecil yang tidak pakai celana. R menurut, tapi sepertinya ia menyimpang pertanyaan. Saya tambah sedikit penjelasan saya bahwa ada orang baik dan ada orang jahat di sekitar kita, jadi kita harus berusaha agar tidak disakiti oleh orang jahat.

Saya juga menjelaskan bahwa salah satu tugas orangtua adalah melindungi anaknya dan tugas anak adalah menurut perintah dan larangan orangtua. Maka, kami membuat kesepakatan, bahwa R akan segera datang ketika dipanggil dan segera melakukan perintah kami, dan saya akan segera datang jika R memanggil saya. 


#level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Kelima

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 17 Juni 2017.


Hari Kelima
Minggu, 11 Juni 2017
Agenda kami hari ini adalah berbelanja dan beres-beres rumah. Siang nanti akan ada saudara dari Yogyakarta yang akan main ke rumah kami, maka kami harus bergegas. Namun sepertinya R tidak mau diajak pergi karena asyik membaca buku. Setelah mandi, ia tetap tidak segera berpakaian, ia kembali membaca bukunya. Saya pun marah-marah lagi, karena hari keburu siang dan menegurnya dengan intonasi cukup tinggi “Mas R, ayo pakai baju, kita pergi sekarang. Atau, mas R mau di rumah sendiri?” R tetap tidak bergeming, dan akhirnya bapaknya mengambil alih, membantu R mengenakan bajunya.
Ah, lagi-lagi saya gagal mengendalikan emosi dan membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri. 


#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Keempat

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Keempat
Minggu, 11 Juni 2017
Agenda kami hari ini adalah berbelanja dan beres-beres rumah. Siang nanti akan ada saudara dari Yogyakarta yang akan main ke rumah kami, maka kami harus bergegas. Namun sepertinya R tidak mau diajak pergi karena asyik membaca buku. Setelah mandi, ia tetap tidak segera berpakaian, ia kembali membaca bukunya. Saya pun marah-marah lagi, karena hari keburu siang dan menegurnya dengan intonasi cukup tinggi “Mas R, ayo pakai baju, kita pergi sekarang. Atau, mas R mau di rumah sendiri?” R tetap tidak bergeming, dan akhirnya bapaknya mengambil alih, membantu R mengenakan bajunya.

Ah, lagi-lagi saya gagal mengendalikan emosi dan membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri. 


#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Ketiga

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.


Hari Ketiga
Sabtu, 10 Juni 2017
Hari ini suami saya libur maka kami jalan-jalan ke luar rumah. Namun, R sepertinya tidak bersemangat untuk pergi, ia asyik membaca buku-bukunya. Maka ia pun tidak mau segera mandi. Setelah bapaknya mengatakan bahwa hari ini kami juga akan ke perpustakaan, maka R segera mandi dan segera berpakaian sendiri, tanpa masalah.
Oalah Nak, begini to? Jika sesuai dengan kemauanmu, kamu akan bergegas menyelesaikan tugasmu? Oke, kita coba lihat apakah benar begitu atau tidak ya J


#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif Dengan Anak, hari kedua

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Kedua
Jum’at, 9 Juni 2017
Pagi ini, seperti biasa di bulan Ramadhan ini, kami bertiga sahur bersama. Kami makan buah-buahan yang ada di meja. Badan saya rasanya semakin tidak karuan, dan tamu yang diharapkan belum juga datang.
Setelah suami berangkat kerja dan saya menyelesaikan rutinitas pagi, perut saya semakin sakit. Akhirnya saya memilih tidur-tiduran saja dan R bermain sendiri. Sesaat kemudian, perut saya cukup nyaman untuk kembali beraktivitas. Maka, saya meminta R segera mandi. Ia menurut, mandi dengan waktu yang cukup lama, dan saya kembali tiduran. Saya membiarkannya, memakluminya sebagai caranya untuk membuat dirinya nyaman di hari yang cukup panas ini. Setelah ia selesai mandi, ia ke kamar. Dan, lagi-lagi, ia tidak segera mengenakan bajunya sendiri, justru loncat-loncat di kasur.
Saya pun mengingatkannya untuk segera mengenakan bajunya dan memintanya mengirim pesan ke bapaknya lewat HP yang sedang dicharge di ruang tamu. R segera ke ruang tamu, mengirim pesan suara ke Bapaknya, hanya dengan mengenakan kaos singlet dan celana dalam saja. Setelah itu, ia kembali ke kamar, dan membaca buku. Saya pikir mungkin ia merasa gerah jika harus berpakaian lengkap di cuaca sepanas ini. Ya sudah, saya mengalah, maka “Mas R, pakai celana pendeknya ya. Kaosnya nggak usah dipakai nggak apa-apa, cukup pakai singlet, tapi celana pendeknya dipakai ya”. R pun menurut, ia mau mengenakan celana pendeknya, dan melanjutkan aktivitasnya lagi.
Siang harinya, bahu saya mulai berkurang rasa sakitnya, beralih ke perut. Dan, benar, tamu bulanan itu akhirnya datang juga. 

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Melatih Komunikasi Produktif, Hari Pertama

Tulisan ini merupakan catatan akan perjalanan saya melatih diri dengan ilmu yang diajarkan di Institut Ibu Profesional, dalam program Bunda Sayang.
Tulisan berseri ini akan terdiri dari beberapa tulisan, dan 10 tulisan pertama merupakan catatan pembelajaran saya terkait komunikasi produktif. Ada dua pilihan untuk dikerjakan, yaitu berlatih komunikasi produktif dengan suami atau dengan anak. Dalam kesempatan ini, saya memilih berlatih berkomunikasi produktif dengan anak.

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Pertama
Kamis, 8 Juni 2017
Bangun tidur pagi ini rasanya badan saya sangat tidak nyaman, terutama bagian bahu kanan, sangat tidak nyaman. Rasanya sangat pegal dan nyeri, seperti sehabis badminton atau menyetrika bertumpuk-tumpuk baju. Padahal saya tidak melakukan itu semua. Lalu, kenapa ya? Sepertinya sudah sekitar 2 bulan ini saya rutin mengalami rasa sakit ini. Hmm, kalau tidak salah, ini tanda saya akan segera kedatangan tamu bulanan. Ya, apalagi saya menjadi lebih mudah marah dan jengkel karena hal-hal yang tidak penting dan tidak jelas. Suami saya sudah mengingatkan, terutama agar saya mengontrol emosi ketika bersama anak kami. Hal sepele yang biasanya tidak jadi masalah, di masa-masa seperti ini, sangat mungkin memancing emosi saya, termasuk kebiasaan R untuk tidak segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi. Ya, R sudah terbiasa mandi sendiri dengan cukup baik, namun ia masih belum bisa tertib segera mengenakan bajunya sendiri. Ada saja yang dilakukannya, misalnya melempar-lempar bajunya sambil loncat-loncat dan tertawa-tawa di kamar, berhenti sejenak untuk membaca bukunya, dll. Setelah beberapa saat, ia memang mengenakan bajunya sendiri, dengan gayanya sendiri. Kadang terbalik bagian depan dan belakang, kadang terbalik sisi luar dan dalam, kadang tidak mengenakan kaos singlet dan celana dalam, dan kadang ia lakukan dengan benar.
Hari ini, setelah mandi, R lagi-lagi tidak mau segera mengenakan bajunya sendiri. Ia justru membaca buku dalam keadaan telanjang. Saya mencoba mengingatkannya dengan intonasi dan suara yang ramah “Ayo Mas R, dipakai bajunya, banyak nyamuk lho”. R tetap tidak bergeming. Saya mengingatkannya lagi, ia tetap cuek. Dan akhirnya, saya gagal lagi, hiks. Saya mulai berteriak dan mengancamnya “Mas R, pakai bajunya, sekarang! Kalau tidak segera pakai baju, Ibu WA Bapak agar tidak jadi membelikan permen mentos”. R tidak segera mengenakan bajunya, justru menjawab dengan bertanya “Apa hubungannya, memakai baju atau tidak dengan dibelikan permen mentos?” Alih-alih saya membimbingnya mengenakan baju, saya justru terpancing menjawab pertanyaannya “Ya ada hubungannya. Jika Mas R menurut perintah Ibu, Ibu juga akan menuruti mas R. Sebaliknya, jika Mas R nggak mau menurut, kenapa Ibu harus menuruti maunya Mas R? Dah, pakai bajunya sekarang atau nggak jadi dibeliin permen mentos untuk percobaan”. Saya mengatakan ini sambil berteriak dan memasang wajah galak. Maka R pun menjawab “Jangan! Mas R mau melakukan percobaan” sambil mengenakan bajunya cepat-cepat.

Ah, akhirnya R mau mengenakan bajunya sendiri. Namun, saya gagal mengendalikan emosi saya dan gagal membangun kebiasaan baik dengan cara yang baik L

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip