Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera
mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan
konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih
fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan
emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar
banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena
itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan
ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.
Hari Ketujuh
Selasa, 13 Juni 2017
Setelah semalam hujan cukup deras, hari ini cuaca mendung
dan tidak gerah lagi. Kami pun memilih beraktivitas di rumah saja. Selesai
mandi pagi, R mau dengan suka rela segera mengenakan bajunya sendiri. Sepertinya
ia merasa agak kedinginan.
Sore harinya, R pun mau segera menurut ketika saya
memintanya untuk mandi sore. Ketika saya memintanya memakai baju, ia bertanya “Bu,
ini kan baju yang kena slime magnetik?
Kenapa dipakai lagi?” Saya pun menjelaskan bahwa baju itu sudah dicuci dan
sudah aman. R pun mengenakannya tanpa perlawanan.
Alhamdulillah, sepertinya dua hari ini cukup mencapai
target, namun masih perlu diuji lagi. Oleh karena itu, saya akan tetap
melanjutkan games ini sampai tanggal 17 Juni 2017. Sekaligus untuk menguji
hubungan PMS dan menstruasi dengan keterampilan saya mengendalikan emosi dan
kepatuhan anak.
Sementara ini saya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara emosi ibu dengan anak. Sewaktu ibu emosional maka anak semakin ‘berulah’, emosinya juga ikut tidak stabil. Selain itu, ternyata anak juga cukup terampil mengidentifikasi kebutuhan dan tindakan yang perlu dilakukannya. Jika suatu pekerjaan / tindakan itu ia rasa menjadi kebutuhannya maka ia akan suka rela dan bersemangat untuk melakukannya, demikian juga sebaliknya. Tantangan bagi kami yang sepertinya akan berlangsung terus adalah bagaimana membangun kesadaran anak akan kebutuhannya, membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan menghargai kebutuhan orang lain.
Sementara ini saya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara emosi ibu dengan anak. Sewaktu ibu emosional maka anak semakin ‘berulah’, emosinya juga ikut tidak stabil. Selain itu, ternyata anak juga cukup terampil mengidentifikasi kebutuhan dan tindakan yang perlu dilakukannya. Jika suatu pekerjaan / tindakan itu ia rasa menjadi kebutuhannya maka ia akan suka rela dan bersemangat untuk melakukannya, demikian juga sebaliknya. Tantangan bagi kami yang sepertinya akan berlangsung terus adalah bagaimana membangun kesadaran anak akan kebutuhannya, membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan menghargai kebutuhan orang lain.
#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar