Rabu, 14 Juni 2017

Melatih Komunikasi Produktif, Hari Pertama

Tulisan ini merupakan catatan akan perjalanan saya melatih diri dengan ilmu yang diajarkan di Institut Ibu Profesional, dalam program Bunda Sayang.
Tulisan berseri ini akan terdiri dari beberapa tulisan, dan 10 tulisan pertama merupakan catatan pembelajaran saya terkait komunikasi produktif. Ada dua pilihan untuk dikerjakan, yaitu berlatih komunikasi produktif dengan suami atau dengan anak. Dalam kesempatan ini, saya memilih berlatih berkomunikasi produktif dengan anak.

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Pertama
Kamis, 8 Juni 2017
Bangun tidur pagi ini rasanya badan saya sangat tidak nyaman, terutama bagian bahu kanan, sangat tidak nyaman. Rasanya sangat pegal dan nyeri, seperti sehabis badminton atau menyetrika bertumpuk-tumpuk baju. Padahal saya tidak melakukan itu semua. Lalu, kenapa ya? Sepertinya sudah sekitar 2 bulan ini saya rutin mengalami rasa sakit ini. Hmm, kalau tidak salah, ini tanda saya akan segera kedatangan tamu bulanan. Ya, apalagi saya menjadi lebih mudah marah dan jengkel karena hal-hal yang tidak penting dan tidak jelas. Suami saya sudah mengingatkan, terutama agar saya mengontrol emosi ketika bersama anak kami. Hal sepele yang biasanya tidak jadi masalah, di masa-masa seperti ini, sangat mungkin memancing emosi saya, termasuk kebiasaan R untuk tidak segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi. Ya, R sudah terbiasa mandi sendiri dengan cukup baik, namun ia masih belum bisa tertib segera mengenakan bajunya sendiri. Ada saja yang dilakukannya, misalnya melempar-lempar bajunya sambil loncat-loncat dan tertawa-tawa di kamar, berhenti sejenak untuk membaca bukunya, dll. Setelah beberapa saat, ia memang mengenakan bajunya sendiri, dengan gayanya sendiri. Kadang terbalik bagian depan dan belakang, kadang terbalik sisi luar dan dalam, kadang tidak mengenakan kaos singlet dan celana dalam, dan kadang ia lakukan dengan benar.
Hari ini, setelah mandi, R lagi-lagi tidak mau segera mengenakan bajunya sendiri. Ia justru membaca buku dalam keadaan telanjang. Saya mencoba mengingatkannya dengan intonasi dan suara yang ramah “Ayo Mas R, dipakai bajunya, banyak nyamuk lho”. R tetap tidak bergeming. Saya mengingatkannya lagi, ia tetap cuek. Dan akhirnya, saya gagal lagi, hiks. Saya mulai berteriak dan mengancamnya “Mas R, pakai bajunya, sekarang! Kalau tidak segera pakai baju, Ibu WA Bapak agar tidak jadi membelikan permen mentos”. R tidak segera mengenakan bajunya, justru menjawab dengan bertanya “Apa hubungannya, memakai baju atau tidak dengan dibelikan permen mentos?” Alih-alih saya membimbingnya mengenakan baju, saya justru terpancing menjawab pertanyaannya “Ya ada hubungannya. Jika Mas R menurut perintah Ibu, Ibu juga akan menuruti mas R. Sebaliknya, jika Mas R nggak mau menurut, kenapa Ibu harus menuruti maunya Mas R? Dah, pakai bajunya sekarang atau nggak jadi dibeliin permen mentos untuk percobaan”. Saya mengatakan ini sambil berteriak dan memasang wajah galak. Maka R pun menjawab “Jangan! Mas R mau melakukan percobaan” sambil mengenakan bajunya cepat-cepat.

Ah, akhirnya R mau mengenakan bajunya sendiri. Namun, saya gagal mengendalikan emosi saya dan gagal membangun kebiasaan baik dengan cara yang baik L

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar