Tulisan berseri ini akan terdiri dari beberapa tulisan, dan 10 tulisan pertama merupakan catatan pembelajaran saya terkait komunikasi produktif. Ada dua pilihan untuk dikerjakan, yaitu berlatih komunikasi produktif dengan suami atau dengan anak. Dalam kesempatan ini, saya memilih berlatih berkomunikasi produktif dengan anak.
Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera
mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan
konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih
fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan
emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar
banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena
itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan
ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.
Hari Pertama
Kamis, 8 Juni 2017
Bangun tidur pagi ini rasanya badan saya sangat tidak
nyaman, terutama bagian bahu kanan, sangat tidak nyaman. Rasanya sangat pegal
dan nyeri, seperti sehabis badminton atau menyetrika bertumpuk-tumpuk baju. Padahal
saya tidak melakukan itu semua. Lalu, kenapa ya? Sepertinya sudah sekitar 2
bulan ini saya rutin mengalami rasa sakit ini. Hmm, kalau tidak salah, ini
tanda saya akan segera kedatangan tamu bulanan. Ya, apalagi saya menjadi lebih
mudah marah dan jengkel karena hal-hal yang tidak penting dan tidak jelas. Suami
saya sudah mengingatkan, terutama agar saya mengontrol emosi ketika bersama
anak kami. Hal sepele yang biasanya tidak jadi masalah, di masa-masa seperti
ini, sangat mungkin memancing emosi saya, termasuk kebiasaan R untuk tidak
segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi. Ya, R sudah terbiasa mandi
sendiri dengan cukup baik, namun ia masih belum bisa tertib segera mengenakan
bajunya sendiri. Ada saja yang dilakukannya, misalnya melempar-lempar bajunya
sambil loncat-loncat dan tertawa-tawa di kamar, berhenti sejenak untuk membaca
bukunya, dll. Setelah beberapa saat, ia memang mengenakan bajunya sendiri,
dengan gayanya sendiri. Kadang terbalik bagian depan dan belakang, kadang
terbalik sisi luar dan dalam, kadang tidak mengenakan kaos singlet dan celana
dalam, dan kadang ia lakukan dengan benar.
Hari ini, setelah mandi, R lagi-lagi tidak mau segera
mengenakan bajunya sendiri. Ia justru membaca buku dalam keadaan telanjang. Saya
mencoba mengingatkannya dengan intonasi dan suara yang ramah “Ayo Mas R,
dipakai bajunya, banyak nyamuk lho”. R tetap tidak bergeming. Saya mengingatkannya
lagi, ia tetap cuek. Dan akhirnya, saya gagal lagi, hiks. Saya mulai berteriak
dan mengancamnya “Mas R, pakai bajunya, sekarang! Kalau tidak segera pakai
baju, Ibu WA Bapak agar tidak jadi membelikan permen mentos”. R tidak segera
mengenakan bajunya, justru menjawab dengan bertanya “Apa hubungannya, memakai
baju atau tidak dengan dibelikan permen mentos?” Alih-alih saya membimbingnya
mengenakan baju, saya justru terpancing menjawab pertanyaannya “Ya ada
hubungannya. Jika Mas R menurut perintah Ibu, Ibu juga akan menuruti mas R.
Sebaliknya, jika Mas R nggak mau menurut, kenapa Ibu harus menuruti maunya Mas
R? Dah, pakai bajunya sekarang atau nggak jadi dibeliin permen mentos untuk
percobaan”. Saya mengatakan ini sambil berteriak dan memasang wajah galak. Maka
R pun menjawab “Jangan! Mas R mau melakukan percobaan” sambil mengenakan
bajunya cepat-cepat.
Ah, akhirnya R mau mengenakan bajunya sendiri. Namun, saya
gagal mengendalikan emosi saya dan gagal membangun kebiasaan baik dengan cara
yang baik L
#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar