Pagi itu, Minggu, 25 Januari 2015, kami sangat bersemangat bersiap-siap mengikuti PACALIK (Pasar'e Cah Cilik) 3, di rumah tante Dominika Oktavira. Kami sangat bersemangat karena tema kali ini: belajar bercocok tanam di sawah.
Menjelang berangkat, sekitar jam 8 pagi, huaaaa, Roetji nangis keras karena jempol kaki kirinya kejatuhan kursi makan yg ia coba berdirikan. Jempol kakinya berdarah, cukup banyak, dan sepertinya kukunya rusak :(
Sy bersihkan luka tsb dg air hangat kemudian sy olesin betadine salep. Kemudian sy tutup kasa steril dan plester yg barusan dibeli suami bersama dg minol. (*pelajaran penting banget bagi kami: isi kotak P3K dg baik dan benar).
Alhamdulillah, Roetji sangat kooperatif, ia bisa dengan tenang melihat lukanya sy obati, tidak rewel, dan hanya sebentar nangis. Sungguh, sy malu. Sy sangat gampang menyerah dg sakit, sedangkan Roetji, ia sangat, sangat, dewasa menghadapi luka 'besar' nya ini. Sy sebenarnya panik dan sedih banget, tapi harus bisa tenang dan tetap fokus supaya Roetji bisa tertangani dg baik, tidak infeksi dan tidak trauma.
Sampai siang harinya, ketika kasa sterilnya sy ganti, sy masih melihat bercak darah di situ. Duh, kalau sampai sore masih berdarah, sepertinya harus dibawa ke dokter, khawatir kalau ada infeksi.
Sore hari, ketika sy lap badannya dan ganti kassa, sy masih melihat kassa nya kotor. Dan, akhirnya kami mengajak Roetji ke RSA UGM. Sepanjang jalan kami harus beberapa kali berhenti karena Roetji teriak-teriak perbannya akan lepas, bukan karena kesakitan.
Sesampainya di IGD rumah sakit, luka dibersihkan perawat dan dicek oleh dokter. Alhamdulillah, luka sudah mengering dan tidak ada gejala infeksi. Dokter juga menyatakan bahwa kuku Roetji bisa dipertahankan alias tidak perlu dicabut, nanti akan lepas / ganti kuku baru sendiri.
Dan, hebatnya Roetji, di IGD pun ia bisa menjelaskan kronologis lukanya dg runtut kepada dokter dan perawat. Ia bercerita kalau tadi ia coba mengangkat kursi, trus kursinya jatuh, trus kena jempolnya, trus ada darahnya. Roetji juga bilang ke perawat kalau ia merasa sakit karena syaraf2 di kakinya terluka.Semua ia jelasin dg bahasa Jawa kromo yg cukup halus. Alhasil, perawat dan dokter pun tergelak :)
Menurut kami, pelayanan di rumkit ini lumayan oke. Rumkitnya sepi, bahkan di IGD sekalipun. Hanya di farmasi yg cukup bikin kami heran, mungkin krn hari minggu, jadi petugasnya hanya satu orang saja. Ia mengurusi penerimaan resep, menyiapkan obat, mengambil obat di gudang, sampai menyerahkan obat ke pasien. Tarif dokter di rumkit ini pun cukup murah, hanya 25rb utk jasa dokter. Tindakan atas luka kecil (<3 cm) di IGD, tarifnya 33rb. Total 75rb. Meski begitu, kami berharap kami tidak perlu lagi ke rumkit manapun, hehehe..
Ketika perawat membebat lukanya, Roetji memperhatikan dg cermat, termasuk memperhatikan sy. Ternyata ia bisa membandingkan cara dan hasil membebat luka yg sy lakukan dg yg dilakukan perawat :) Pagi harinya, alhamdulillah, ketika sy mandikan, Roetji tidak berteriak
kesakitan, berarti lukanya sudah benar2 kering. Selesai mandi, sy
bersihkan lukanya dan ganti perbannya. Ketika sy ganti perbannya, Roetji protes, ia minta lukanya dibebat dg kencang dan rapi, seperti yg perawat lakukan. Sy coba jelaskan kalau sy belum mahir, Roetji protes: "Kan kemarin Ibu sudah belajar dari perawat to? Jadi sekarang harus sudah bisa lebih baik" Duh, nak, ibumu ini memang kurang terampil dan perlu banyak melatih ketrampilan tangan. (*PR besar bagi kami: mengoptimalkan kemampuan motorik halus mu ya Nak)
Kami belajar banyak dari luka kecil ini. Dan, kami mendapat hadiah yg sangat super dariNya: karena takut lukanya jadi kotor, Roetji jadi mau pup di WC :) (Ya, selama ini, sejak ia terpeleset di WC (ketika umur 2th-an), Roetji tidak pernah mau pup di WC, maunya di lantai KM. Sampai2 kami sedia serok khusus untuk memindahkan pup Roetji dari lantai ke lubang kloset (*maaf ya, vulgar)).
Selain itu, Roetji juga jadi mau tidur siang, setiap selesai makan siang, sy biasakan mengolesi lukanya dg minol sambil mengajaknya tiduran. Sy temani sebentar, ia sudah terlelap. Sungguh, Roetji anak yg sangat kooperatif dan mau menerima penjelasan kami dg cukup cepat.
Setelah 1 minggu, kuku jempolnya tambah panjang, jadi mencuat. Sy sangat khawatir kalau-kalau ini bisa membuatnya terluka. Sy potong sedikit ujung kukunya, alhamdulillah, ia tidak kesakitan. Kami membeli pemotong kuku yg baru untuk Roetji, dg harapan bisa lebih tajam, bersih dan aman. Setiap akan sy pakai untuk memotong kukunya, pemotong kuku tsb sy guyur dg revanol.
Menjelang PACALIK keempat, berarti 2 minggu setelah peristiwa, Roetji mau kuku jempol nya sy potong lagi. Dan, sepertinya kuku kakinya yg 'njengat' itu tidak mempengaruhi aktivitasnya. Ia tetap bersemangat jalan keliling PUSKAT, lari2 menangkap belalang, dll.
Pada hari rabu malam, 11 Februari, ketika Roetji tidur, sy potong lagi kuku jempolnya, cukup pendek, sehingga bagian pangkal kuku yg melekat di sisi kiri dan kanannya ikut lepas (duh, maaf ya nak), tanpa membuat Roetji terbangun karena kesakitan. Langsung sy tetesin minol di jempol kakinya ini.
Pagi harinya, Roetji beraktivitas seperti biasa. Namun ketika mandi, ia sedikit berjingkat ketika jempol kakinya terkena air. Sepertinya, ada sedikit luka dari pangkal kukunya yg terlepas. Setelah mandi, sy minol lagi, dg sedikit bujuk rayu dan sembunyi2, krn Roetji menolak. Mungkin lukanya terasa sedikit perih.
Siang harinya, Roetji sambil bermain, bertanya: "Bu, kalau kukunya mas Roetji copot, nanti tumbuh lagi ya?" Sy jawab iya, tanpa mengamati kuku jempolnya. (*plak, teledor lagi deh sy, hiks).
Tahu-tahu, sore harinya, Roetji mengulangi pertanyaan yg sama sambil menunjuk jempol kakinya yg sudah tidak ber-kuku. Alhamdulillah, kuku jempol nya yg 'njengat' mengkhawatirkan itu bisa lepas sendiri, tanpa menyebabkan Roetji kesakitan.
Sampai sekarang, Roetji sering mengamati jempol kakinya dan berkata: "Bu, kok kuku jempol e mas Roetji belum tumbuh lagi ya?"
Sabar ya Nak, kuku butuh waktu yg cukup lama untuk tumbuh dan tambah panjang. Jawaban sy itu menimbulkan pertanyaan: "kenapa kuku lama tumbuhnya?" dan, diskusi kami ini terus berulang, sampai hari ketika sy menulis ini (18 Februari 2015).
Semoga kuku jempol kiri mu akan tumbuh dg lebih sehat dan lebih baik ya Nak. (Ctt: sebelum kejatuhan kursi, kuku jempol kiri Roetji memang terlihat ada sedikit garis, sepertinya efek tersandung beberapa waktu sebelumnya).
Rabu, 18 Februari 2015
Selasa, 17 Februari 2015
Mengenali Sifat Air ala Roetji
Hari ini (16 Februari2015), cuaca cukup panas, bikin gerah. Ini artinya, Roetji (4th) akan sering main air.
Dan, permainan hari ini dimulai begitu dia bangun tidur, dengan bermain semprot-semprot air pakai selongsong bekas suntik tinta. Badannya pun basah, dan, jadi mau langsung mandi pagi2 deh :)
Setelah sarapan buah dan roti, bermain air pun makin seru. Di teras depan rumah, ia mengisi botol-botol plastik bekas air kemasan dg air kolam dan air kran. Roetji membuat berbagai percobaan dg air kolam lele, air kran, dan air bak. Semua berlangsung dg inisiatif dan caranya sendiri :)
Percobaan pertama, mencampur warna.
Botol pertama, Roetji isi air kolam. Botol kedua, ia isi air kran. Kemudian, isi botol pertama dituang ke botol kedua. Yeay, air di botol kedua jadi bening.
Roetji mengisi salah satu botol dg air kolam, setengah botol. Kemudian, dia bawa botol itu ke kran, ia isi dg air kran. Yeay, air di botol jadi bening.
Roetji mengisi salah satu botol dg air kran, setengah botol. Kemudian, dia menuang sebotol air kolam ke botol pertama. Yeay, air di botol pertama jadi kehijauan.
Roetji mengisi mangkuk dg air kran, kemudian ia mengisi selongsong suntikan dg air kolam. Air di mangkuk ia semprot pakai air kolam, hasilnya, air di mangkuk berubah menjadi kehijauan.
Kesimpulan Roetji: warna air bisa berubah ya, yg semula bening atau hijau, kalau dicampur bisa jadi bening atau hijau :)
Percobaan kedua, mengenal bentuk air.
Roetji menuangkan air dari botol ke mangkuk. Kok airnya berubah jadi seperti mangkuk ya Bu? Roetji jadi tahu bahwa air bisa berubah bentuk sesuai bentuk wadahnya :)
Percobaan ketiga, udara dan air
Menurut Roetji, mengisi botol di kolam ikan harus dengan posisi botol tegak lurus di bawah permukaan air, dan baru diangkat ketika sudah tidak ada lagi gelembung-gelembung di permukaan air. Artinya, botol sudah penuh. Roetji jadi belajar bahwa botol yg semula berisi udara, jadi terisi air kolam. Dan, ketika botol di dalam air, udara yg keluar dari botol membuat gelembung-gelembung air di permukaan kolam.
Percobaan keempat, cara memindahkan isi botol
Roetji memindahkan isi botol pertama ke botol kedua dg beberapa cara. Kadang ia taruh kedua botol berhadap-hadapan, dalam posisi mendatar. Ternyata, air di botol pertama tetap ada yg masuk ke botol kedua (*sy malah baru tahu kalau bisa seperti ini). Tentu saja, sebagian isinya tumpah, hehehe..
Cara kedua, seperti yg biasa kita lakukan. Roetji menuangkan isi botol pertama ke botol kedua. Kadang kedua botol ia pegang pakai kedua tangannya, kadang salah satu botol ia taruh di lantai. Alhamdulillah, ia bisa menuangkan air dg cara seperti ini tanpa sy ajari secara khusus :)
Percobaan kelima, mengenal sponge
Melihat semangat, keseriusan dan kegembiraan Roetji dg eksperimen airnya kali ini, sy coba menawarinya sponge. Ya, sebuah sponge cuci piring yg saya beli saat itu juga, di warung sebelah rumah. Cukup seribu rupiah, sudah membuat Roetji belajar banyak hal :)
Begitu melihat sponge di tanganku, Roetji bertanya apa itu, kujawab sponge, oh sponge bob. Ealah, beneran deh film satu itu melekat di ingatannya meski kami sudah beberapa bulan ini tidak menonton TV.
Cukup kuceritain dan kucontohin satu kali bahwa sponge itu menyerap air, Roetji langsung paham dan menggunakan sponge ini utk eksperimennya :)
Sponge langsung dimasukkannya ke kolam, ia amati perubahannya, ia peras, ia amati lagi. Kemudian, ia pakai sponge tsb utk menutup botol berisi air. Ia jungkirkan botol tsb sambil bilang: "Airnya tidak tumpah". Pelan-pelan air menetes sedikit demi sedikit dari sponge tsb. Kujelaskan proses terjadinya hujan: air menguap dari sungai dan laut, berkumpul menjadi awan, kemudian awan tidak kuat lagi menahan air, terus tetes menjadi hujan. Subhanallah, Roetji langsung paham dan berkomentar: "Ini gerimis" sambil memperlihatkan tetes-tetesan air, dan "Ini hujan deras" sambil menggeser sponge sehingga air tumpah cukup deras dari botol yg ia tuang. Kemudian, setelah air di botol habis, Roetji memeras sponge nya, sambil bilang "Ini gerimis lagi".Dan, setelah tidak ada air yg menetes dari sponge nya, ia melihat ke arahku dg pandangan bertanya. Aku katakan, kalau sudah tidak ada air yg menetes, artinya hujan sudah reda, terang kembali. Kemudian, ia membuat pertanyaan kesimpulan: "Kenapa sebelum hujan deras, ada gerimis, dan kenapa setelah hujan deras, juga ada gerimis?"
Setelah Roetji terlihat kedinginan dan puas main air, Roetji kuajak bilas di kamar mandi. Kupikir, sudah cukup percobaannya dg air pada hari ini. Tapi, ternyata aku salah, hehehe...
Sore harinya, bersama Rahma (anak dari ART kami saat ini, 6 th), Roetji melanjutkan eksperimennya di kamar mandi :)
Kali ini, ia berinisiatif menggunakan pasta gigi dan sikat giginya untuk menyikat ember mandinya. Katanya, supaya embernya bersih dan kuat, seperti gigi yg disikat, hehehe. Melihat hal ini, kubiarkan Roetji bereksperimen dg sikat giginya, tapi kuambil pasta giginya (*enzim anak2 bu, lumayan mihil bagi kami, hiks), sambil kubilang kalau pasta gigi yg ada di embernya sudah cukup banyak untuk membersihkan ember. Roetji tidak protes, tapi ia berinisiatif mengganti pasta giginya dg sabun dari hotel yg ada di laci penyimpan alat-alat mandi kami. Tanpa kuarahkan, Roetji menggeser embernya ke kamar mandi. Dan, permainan pun dimulai :)
Ember berisi sabun dan pasta gigi itu ia isi air, ia sikat dan aduk-aduk sampai berbusa, kemudian busanya ia masukin ke lubang WC dan berteriak heboh melihat banyak sekali busa menggumpal di lubang WC kami. Ia dengan penuh semangat mengguyur busa-busa tsb dg air bersih sampai busa menghilang dan berkata "Kenapa busa kalah sama air bersih?" Kujelaskan tentang hubungan air dan udara :)
Setelah di embernya tidak ada lagi pasta gigi dan sabun yg cukup untuk membuat busa, kutinggalkan mereka berdua di kamar mandi, kupikir sebentar lagi permainan ini akan selesai. Tapi, ternyata oh ternyata, beberapa menit kemudian, kutengok mereka, Roetji sudah menggenggam pasta gigi kami (orang dewasa) yg ukuran jumbo. Tuing, tuing, ini harus diselamatkan, sebelum isi tube jumbo ini dikuras habis, hihihi.
Ternyata, pasta gigi yg dituang di embernya sudah cukup banyak untuk membuat busa. Ia menuang air berbusa itu ke WC dan dinding kamar mandi. Dari pada air terbuang sia2, aku inisiatif menawarinya sikat kamar mandi dan WC. Roetji kemudian penuh semangat menyikat WC dan dinding kamar mandi, menggunakan sikat WC di tangan kirinya dan sikat dinding di tangan kanannya. Ia gunakan sikat WC untuk menyikat WC, lantai dan dinding, dan sikat dinding hanya untuk menyikat dinding dan lantai KM :)
Roetji berinisiatif mencampur air di gayung dg sebuah sabun mandi berwarna hijau. Ia melihat air berubah menjadi hijau tapi busanya tetap putih. Roetji berkata bahwa air menjadi hijau karena tercampur dg pewarna sabun mandi yg warnanya hijau (*sayangnya tidak terjadi dialog antara kami tentang ini, aku sedang sibuk sendiri, hiks). Tau-tau, eksperimen mereka menghabiskan dua batang sabun mandi. Sabun hijau habis mereka remas-remas dan campur dg air, sabun merah habis karena masuk WC. Duh....
Karena kesibukanku (& keegoisanku), lagi-lagi kutinggal mereka berdua sebentar, tahu-tahu, mereka berdua tertawa cekikikan dg kondisi baju basah kuyup. O alah, rupanya tadi mereka sempat minta plastik ke mbak Sup di dapur, dan melanjutkan eksperimen air mereka dg menggunakan plastik. Plastik mereka isi air kran, mereka tuang, mereka isi lagi sampai terlalu penuh dan bocor, dan membasahi badan mereka sampai cukup basah kuyup.
Karena khawatir Rahma jadi sakit kalau terlalu lama main air, Rahma kusuruh berhenti dan mandi. Roetji? Ia belum mau berhenti bermain, tetap lanjut main airnya. Kali ini, dg memasukkan biji-biji kacang tanah ke bak mandi yg barusan ia isi lagi. (Padahal tadi aku sudah cukup tenang melihat air di bak yg tinggal sedikit, lumayanlah, tidak akan terlalu banyak air yg terbuang). Roetji melihat beberapa butir kacang terapung dan sebagian besar tenggelam, kemudian ia bertanya; "Nanti, kacang-kacang itu bisa melewati lubang (*maksudnya, lubang pembuangan bak mandi) tidak ya?" ketika sy membilas badannya dg air bersih sebagai penutup eksperimen airnya hari ini.
Dan, aku harus menguras bak mandi ketika maghrib menjelang :)
Dan, permainan hari ini dimulai begitu dia bangun tidur, dengan bermain semprot-semprot air pakai selongsong bekas suntik tinta. Badannya pun basah, dan, jadi mau langsung mandi pagi2 deh :)
Setelah sarapan buah dan roti, bermain air pun makin seru. Di teras depan rumah, ia mengisi botol-botol plastik bekas air kemasan dg air kolam dan air kran. Roetji membuat berbagai percobaan dg air kolam lele, air kran, dan air bak. Semua berlangsung dg inisiatif dan caranya sendiri :)
Percobaan pertama, mencampur warna.
Botol pertama, Roetji isi air kolam. Botol kedua, ia isi air kran. Kemudian, isi botol pertama dituang ke botol kedua. Yeay, air di botol kedua jadi bening.
Roetji mengisi salah satu botol dg air kolam, setengah botol. Kemudian, dia bawa botol itu ke kran, ia isi dg air kran. Yeay, air di botol jadi bening.
Roetji mengisi salah satu botol dg air kran, setengah botol. Kemudian, dia menuang sebotol air kolam ke botol pertama. Yeay, air di botol pertama jadi kehijauan.
Roetji mengisi mangkuk dg air kran, kemudian ia mengisi selongsong suntikan dg air kolam. Air di mangkuk ia semprot pakai air kolam, hasilnya, air di mangkuk berubah menjadi kehijauan.
Kesimpulan Roetji: warna air bisa berubah ya, yg semula bening atau hijau, kalau dicampur bisa jadi bening atau hijau :)
Percobaan kedua, mengenal bentuk air.
Roetji menuangkan air dari botol ke mangkuk. Kok airnya berubah jadi seperti mangkuk ya Bu? Roetji jadi tahu bahwa air bisa berubah bentuk sesuai bentuk wadahnya :)
Percobaan ketiga, udara dan air
Menurut Roetji, mengisi botol di kolam ikan harus dengan posisi botol tegak lurus di bawah permukaan air, dan baru diangkat ketika sudah tidak ada lagi gelembung-gelembung di permukaan air. Artinya, botol sudah penuh. Roetji jadi belajar bahwa botol yg semula berisi udara, jadi terisi air kolam. Dan, ketika botol di dalam air, udara yg keluar dari botol membuat gelembung-gelembung air di permukaan kolam.
Percobaan keempat, cara memindahkan isi botol
Roetji memindahkan isi botol pertama ke botol kedua dg beberapa cara. Kadang ia taruh kedua botol berhadap-hadapan, dalam posisi mendatar. Ternyata, air di botol pertama tetap ada yg masuk ke botol kedua (*sy malah baru tahu kalau bisa seperti ini). Tentu saja, sebagian isinya tumpah, hehehe..
Cara kedua, seperti yg biasa kita lakukan. Roetji menuangkan isi botol pertama ke botol kedua. Kadang kedua botol ia pegang pakai kedua tangannya, kadang salah satu botol ia taruh di lantai. Alhamdulillah, ia bisa menuangkan air dg cara seperti ini tanpa sy ajari secara khusus :)
Percobaan kelima, mengenal sponge
Melihat semangat, keseriusan dan kegembiraan Roetji dg eksperimen airnya kali ini, sy coba menawarinya sponge. Ya, sebuah sponge cuci piring yg saya beli saat itu juga, di warung sebelah rumah. Cukup seribu rupiah, sudah membuat Roetji belajar banyak hal :)
Begitu melihat sponge di tanganku, Roetji bertanya apa itu, kujawab sponge, oh sponge bob. Ealah, beneran deh film satu itu melekat di ingatannya meski kami sudah beberapa bulan ini tidak menonton TV.
Cukup kuceritain dan kucontohin satu kali bahwa sponge itu menyerap air, Roetji langsung paham dan menggunakan sponge ini utk eksperimennya :)
Sponge langsung dimasukkannya ke kolam, ia amati perubahannya, ia peras, ia amati lagi. Kemudian, ia pakai sponge tsb utk menutup botol berisi air. Ia jungkirkan botol tsb sambil bilang: "Airnya tidak tumpah". Pelan-pelan air menetes sedikit demi sedikit dari sponge tsb. Kujelaskan proses terjadinya hujan: air menguap dari sungai dan laut, berkumpul menjadi awan, kemudian awan tidak kuat lagi menahan air, terus tetes menjadi hujan. Subhanallah, Roetji langsung paham dan berkomentar: "Ini gerimis" sambil memperlihatkan tetes-tetesan air, dan "Ini hujan deras" sambil menggeser sponge sehingga air tumpah cukup deras dari botol yg ia tuang. Kemudian, setelah air di botol habis, Roetji memeras sponge nya, sambil bilang "Ini gerimis lagi".Dan, setelah tidak ada air yg menetes dari sponge nya, ia melihat ke arahku dg pandangan bertanya. Aku katakan, kalau sudah tidak ada air yg menetes, artinya hujan sudah reda, terang kembali. Kemudian, ia membuat pertanyaan kesimpulan: "Kenapa sebelum hujan deras, ada gerimis, dan kenapa setelah hujan deras, juga ada gerimis?"
Setelah Roetji terlihat kedinginan dan puas main air, Roetji kuajak bilas di kamar mandi. Kupikir, sudah cukup percobaannya dg air pada hari ini. Tapi, ternyata aku salah, hehehe...
Sore harinya, bersama Rahma (anak dari ART kami saat ini, 6 th), Roetji melanjutkan eksperimennya di kamar mandi :)
Kali ini, ia berinisiatif menggunakan pasta gigi dan sikat giginya untuk menyikat ember mandinya. Katanya, supaya embernya bersih dan kuat, seperti gigi yg disikat, hehehe. Melihat hal ini, kubiarkan Roetji bereksperimen dg sikat giginya, tapi kuambil pasta giginya (*enzim anak2 bu, lumayan mihil bagi kami, hiks), sambil kubilang kalau pasta gigi yg ada di embernya sudah cukup banyak untuk membersihkan ember. Roetji tidak protes, tapi ia berinisiatif mengganti pasta giginya dg sabun dari hotel yg ada di laci penyimpan alat-alat mandi kami. Tanpa kuarahkan, Roetji menggeser embernya ke kamar mandi. Dan, permainan pun dimulai :)
Ember berisi sabun dan pasta gigi itu ia isi air, ia sikat dan aduk-aduk sampai berbusa, kemudian busanya ia masukin ke lubang WC dan berteriak heboh melihat banyak sekali busa menggumpal di lubang WC kami. Ia dengan penuh semangat mengguyur busa-busa tsb dg air bersih sampai busa menghilang dan berkata "Kenapa busa kalah sama air bersih?" Kujelaskan tentang hubungan air dan udara :)
Setelah di embernya tidak ada lagi pasta gigi dan sabun yg cukup untuk membuat busa, kutinggalkan mereka berdua di kamar mandi, kupikir sebentar lagi permainan ini akan selesai. Tapi, ternyata oh ternyata, beberapa menit kemudian, kutengok mereka, Roetji sudah menggenggam pasta gigi kami (orang dewasa) yg ukuran jumbo. Tuing, tuing, ini harus diselamatkan, sebelum isi tube jumbo ini dikuras habis, hihihi.
Ternyata, pasta gigi yg dituang di embernya sudah cukup banyak untuk membuat busa. Ia menuang air berbusa itu ke WC dan dinding kamar mandi. Dari pada air terbuang sia2, aku inisiatif menawarinya sikat kamar mandi dan WC. Roetji kemudian penuh semangat menyikat WC dan dinding kamar mandi, menggunakan sikat WC di tangan kirinya dan sikat dinding di tangan kanannya. Ia gunakan sikat WC untuk menyikat WC, lantai dan dinding, dan sikat dinding hanya untuk menyikat dinding dan lantai KM :)
Roetji berinisiatif mencampur air di gayung dg sebuah sabun mandi berwarna hijau. Ia melihat air berubah menjadi hijau tapi busanya tetap putih. Roetji berkata bahwa air menjadi hijau karena tercampur dg pewarna sabun mandi yg warnanya hijau (*sayangnya tidak terjadi dialog antara kami tentang ini, aku sedang sibuk sendiri, hiks). Tau-tau, eksperimen mereka menghabiskan dua batang sabun mandi. Sabun hijau habis mereka remas-remas dan campur dg air, sabun merah habis karena masuk WC. Duh....
Karena kesibukanku (& keegoisanku), lagi-lagi kutinggal mereka berdua sebentar, tahu-tahu, mereka berdua tertawa cekikikan dg kondisi baju basah kuyup. O alah, rupanya tadi mereka sempat minta plastik ke mbak Sup di dapur, dan melanjutkan eksperimen air mereka dg menggunakan plastik. Plastik mereka isi air kran, mereka tuang, mereka isi lagi sampai terlalu penuh dan bocor, dan membasahi badan mereka sampai cukup basah kuyup.
Karena khawatir Rahma jadi sakit kalau terlalu lama main air, Rahma kusuruh berhenti dan mandi. Roetji? Ia belum mau berhenti bermain, tetap lanjut main airnya. Kali ini, dg memasukkan biji-biji kacang tanah ke bak mandi yg barusan ia isi lagi. (Padahal tadi aku sudah cukup tenang melihat air di bak yg tinggal sedikit, lumayanlah, tidak akan terlalu banyak air yg terbuang). Roetji melihat beberapa butir kacang terapung dan sebagian besar tenggelam, kemudian ia bertanya; "Nanti, kacang-kacang itu bisa melewati lubang (*maksudnya, lubang pembuangan bak mandi) tidak ya?" ketika sy membilas badannya dg air bersih sebagai penutup eksperimen airnya hari ini.
Dan, aku harus menguras bak mandi ketika maghrib menjelang :)
Selasa, 10 Februari 2015
ULANG TAHUN ROETJI KEEMPAT
Buat sendiri kue ultahku, pesta pun jadi meriah
Pada tanggal 25 November 2013 kemarin, Roetji ulang tahun yg
keempat. Rencananya, kami tidak akan membuat pesta ultah seperti tahun2
sebelumnya, karena sedang berjuang membangun rumah impian di Solo.
Lima hari menjelang ulang tahunnya, kami ke Semarang,
menengok nenek dan menemani bapak e Roetji presentasi di acara “Semarang Art
Festival”. Sebelum berangkat, Roetji minta ‘roti buaya’ dari salah satu bakery
di Semarang sebagai kue ultahnya. Sayangnya, terjadi salah paham di antara
orang dewasa, hehehe. Roti tsb hanya diproduksi jika ada pesanan, dipesan
minimal sehari sebelumnya, dan minimal 2 (dua) buah. Wah, bisa tekor bandar
nih, hahahaha… Alhamdulillah, Roetji tidak marah dan mau diganti hadiah yg
lain. Kami sempatkan ke Jalan Pandanaran, cari oleh2 sekaligus kue ultah utk
Roetji. Ternyata, kue2 yg ada di salah satu bakery di area ini, tidak ada satu
pun yg cocok bagi kami. Warna warninya terlalu ngejreng dan ukurannya besar2. Yo
wis, kembali ke selera asal, ke bakery yg paling dekat rumah mertua aja, beli
kue tart yg paling mungil dan paling mirip dg kue Tutitu yg diinginkan Roetji.
Alhamdulillah, irit duit dan tidak terlalu banyak gula yg akan dikonsumsi
Roetji J
Dan, tebakan kami benar, kue tart mungil ini pun tidak sanggup kami habiskan.
Padahal saat itu ada 6 orang dewasa dan 2 anak kecil yg ramai2 menyantap kue
ini J
Akhirnya, pas hari ultahnya, kami sudah kembali ke rumah ibu sy, sy ajak Roetji ke pasar,
Belanja bahan2 untuk membuat kue ultahnya. Lha kok tumben, Roetji berhenti di
depan penjual ayam potong, minta dimasakin ayam utuh. Ia tak bergeming meski sy
bujuk dg berbagai hal. Yo wis lah, sekali2, bikin ayam ingkung untuk ultah. Dan
kebetulan, sejak kemarin Mamah (ibuku) bingung akan ngado apa. Jadilah ayam
ingkung spesial ultah made by Mamah Pri yg menjadi kado dan sajian spesial
pesta ultah dadakan, hehehe..
Trus, karena duit yg kubawa ke pasar mepet dan dihabiskan
untuk beli ayam utuh tadi, kami jadi tidak bisa membeli bahan2 kue. Tapi karena
rasanya kok pesta ultah tetep ada yg kurang kalau nggak ada kue (*ini sih
ibunya yg pengen, hehehe) maka sy ajak Roetji tingak-tinguk di dapur, cari
bahan2 yg bisa dibikin kue. Alhamdulillah, masih ada telur, sedikit terigu,
minyak kelapa, pisang ambon yg sudah terlalu matang, dan whip cream bubuk yg
sudah ngendon di rak berbulan-bulan (*edisi batal bikin es krim). Ditambah susu
cair rasa strawberry dari warung sebelah (*males ke pasar lagi), jadilah
pancake pisang strawberry J
Roetji sangat antusias dan gembira ketika sy minta menghias
kue ultahnya. Ia tumpuk beberapa lembar pancake, oles whip cream kocok, tutup
whip cream, tabor choco chip (*ChaCha, dr warung sebelah. Tentu saja, sebelum
kusajikan ke Roetji, kuganti kemasannya dulu, jadi sampai sekarang Roetji tetap
belum minta ChaCha di warung itu, hehehe).
Tarrraaaa… pancake lapis ulang tahun ala Chef Roetji
Dan, pesta kecil kami pun meriah. Lengkap dg ayam ingkung
spesial pula :)
Langganan:
Postingan (Atom)
