Yups, bener banget. Semua ada waktunya. Kita tidak bisa memaksa, hanya bisa berproses menuju itu.
Mamah sering merisaukan kemampuan Roetji untuk bersosialisasi krn Roetji tidak ikut PAUD, tidak sering main dg anak2 tetangga, dll.
Tapi saya yakin, Roetji pasti bisa kok, ini hanya soal waktu dan proses tumbuh kembangnya.
Sekarang, terbukti.
Roetji langsung mau bermain dg Rahma (5 th), anaknya mbak Sup yg membantu pekerjaan rumah kami. Mereka sering asyik bermain berdua, balapan ini itu, dll meski kadang Roetji ngambek (*masuk kamar, nutup pintu keras2 yg katanya spy pintunya rapat). Di kamar ia asyik main sendiri, ketawa-ketiwi. Sepertinya Roetji sedang belajar untuk bernegosiasi dg dirinya sendiri. Belajar mengenali kapan ia mau bermain bersama, kapan ia mau bermain sendiri.
Dan, beberapa hari yll, Roetji mau diajak mbak Sup mengantar Rahma ngaji di TPA Masjid Al Iman. Kami terheran-heran, termasuk tetangga yg suka ngomentarin Roetji: "tumben mbak, kok purun kalih njenengan. biasane kalih ibue terus". hehehe...
Kata mbak Sup, di masjid Roetji nanya macam2: kenapa kucing naik pohon?, dll. Ketika diajak pulang, Roetji tanya: kenapa sy pulang, kok mbak Rahma ditinggal?. Mbak Sup bingung jawab apa, akhirnya dia bilang: "ini akan hujan, pulang yuk". Roetji pun jadi mau diajak pulang.
Dan Jum'at ini, tgl 18 Januari 2014, Roetji ikut TPA. Tentu sy temani. Di masjid, ia mau duduk cukup tenang, jalan2 mengelilingi kelasnya, tidur2an ketika ia sudah lelah dan lapar (ya iya lah, TPAnya jam 15.30 - 17.00, biasanya ia makan snack). Yg mengejutkan Roetji bisa cepat meniru dan membedakan alif dan ba' yg sy ajarkan. Dan hebatnya, Roetji mau lho duduk di depan ustadzah, 'membaca' Iqra meski kadang ia nengok dan bertanya ke aku dulu, hehehe...
Minggu, 19 Januari 2014
Belajar Sholat
Lagi-lagi, makin percaya kalau semua ada waktunya :)
Kami tidak pernah secara khusus mengarahkan Roetji untuk sholat. Kami hanya bilang kepadanya ketika kami hendak sholat. Kadang ia ikut mendampingi dan bermain di sekitar kami, tapi sering kali ia cuek dan asyik dg kegiatannya sendiri.
Semenjak 3 hari yg lalu, berarti tgl 9 Januari 2014, Roetji minta ikut Sholat. Ya, dia sendiri yg minta.
Roetji seneng banget belajar wudhu tanpa main air (*padahal ini yg bikin sy khawatir, males gonta-gantiin bajunya, maaf ya nak). Kemudian minta dipakaiin sarung, tentu pakai sarung bapak dan omnya krn Roetji belum punya sarungnya sendiri.
Ia senang banget dibungkus-bungkus pakai sarung tsb, hehehe.
Dan hebatnya lagi, ia bisa berdiri 'tenang' di samping sy, sampai sy selesai sholat.
Roetji pun mengikuti gerakan sholat, termasuk ruku', sujud, duduk, dan salam. meskipun cuman 1 rakaat.
Pernah sy lupa tidak mengajaknya salam, ia protes: "Mas Roetji sholate dereng rampung, dereng geleng-geleng".
Pernah pula Roetji bertanya: "Ibu nek sholat kok mulute buka nutup, soale napa?" (*dan mari kita tunggu suatu saat ia akan ikutan komat-kamit).
Setiap selesai sholat, Roetji selalu berdoa: "Ya Allah, jadikanlah mas Roetji anak yg sehat, kuat, panjang umur, sholeh, cerdas, terampil, gesit, beruntung (dan selalu bertanya, beruntung itu apa. dan sampai skrg, penjelasan sy dia rasa belum memuaskan), lincah, berbahagia (kemarin ia mulai bertanya, berbahagia itu apa. sy jawab gembira, dan sepertinya ia cukup puas), dan bermanfaat dunia akherat". Doa ini harus komplit, detil dan urut. kalau ada satu kata pun yg lupa sy sebut, ia pasti protes :)
Dilanjut dg membaca doa utk kedua orangtua, dan alhamdulillah, Roetji dah hapal.
Jadi anak sholeh yg bahagia dan membahagiakan ya mas :)
Kami tidak pernah secara khusus mengarahkan Roetji untuk sholat. Kami hanya bilang kepadanya ketika kami hendak sholat. Kadang ia ikut mendampingi dan bermain di sekitar kami, tapi sering kali ia cuek dan asyik dg kegiatannya sendiri.
Semenjak 3 hari yg lalu, berarti tgl 9 Januari 2014, Roetji minta ikut Sholat. Ya, dia sendiri yg minta.
Roetji seneng banget belajar wudhu tanpa main air (*padahal ini yg bikin sy khawatir, males gonta-gantiin bajunya, maaf ya nak). Kemudian minta dipakaiin sarung, tentu pakai sarung bapak dan omnya krn Roetji belum punya sarungnya sendiri.
Ia senang banget dibungkus-bungkus pakai sarung tsb, hehehe.
Dan hebatnya lagi, ia bisa berdiri 'tenang' di samping sy, sampai sy selesai sholat.
Roetji pun mengikuti gerakan sholat, termasuk ruku', sujud, duduk, dan salam. meskipun cuman 1 rakaat.
Pernah sy lupa tidak mengajaknya salam, ia protes: "Mas Roetji sholate dereng rampung, dereng geleng-geleng".
Pernah pula Roetji bertanya: "Ibu nek sholat kok mulute buka nutup, soale napa?" (*dan mari kita tunggu suatu saat ia akan ikutan komat-kamit).
Setiap selesai sholat, Roetji selalu berdoa: "Ya Allah, jadikanlah mas Roetji anak yg sehat, kuat, panjang umur, sholeh, cerdas, terampil, gesit, beruntung (dan selalu bertanya, beruntung itu apa. dan sampai skrg, penjelasan sy dia rasa belum memuaskan), lincah, berbahagia (kemarin ia mulai bertanya, berbahagia itu apa. sy jawab gembira, dan sepertinya ia cukup puas), dan bermanfaat dunia akherat". Doa ini harus komplit, detil dan urut. kalau ada satu kata pun yg lupa sy sebut, ia pasti protes :)
Dilanjut dg membaca doa utk kedua orangtua, dan alhamdulillah, Roetji dah hapal.
Jadi anak sholeh yg bahagia dan membahagiakan ya mas :)
Belajar Melipat Kertas
Mengikuti perkembangan Roetji dari hari ke hari, sy makin percaya bahwa segala sesuatu itu ada waktunya. Ya, ada waktunya. Tidak bisa dipaksa kemarin, sekarang, atau pun nanti.
Sepertinya banyak anak kecil senang bermain pesawat kertas. Roetji juga. Tapi ada satu hal yg membuat kami terperangah. Di usianya yg baru 3 th 1 bulan, Roetji sudah bisa membuat pesawat kertasnya sendiri dengan bentuk yg nyaris sempurna.
Awalnya Roetji minta kami buatkan pesawat kertas. Tanpa kami sadari (*noted) ketika kami membuat, Roetji memperhatikan dg gaya 'sambil lalu' nya. Bergaya cuek, tapi ternyata memperhatikan.
Suatu hari, Roetji mengambil kertas bekas yg selalu kami sediakan (*alhamdulillah, bapaknya dosen dan neneknya pensiunan guru, jadi 'harta' kami cukup banyak). Ia lipat-lipat sedemikian rupa dan ia terbangkan. Menurutnya itu pesawat, padahal bentuknya (*menurut kami) ya untel2an. Kami mengiyakan dan menyemangatinya untuk membuat pesawat lagi.
Kami buat pesawat bersama-sama. Lama-lama, terlihat bentuk pesawat. Kemudian, bentuk itu makin sempurna dan bisa diterbangkan dg cukup baik.
Yeay..Roetji bisa bikin pesawat kertas! (*ini fotonya)
Kemudian, tidak puas dg satu model pesawat, Roetji minta dibuatkan pesawat model lainnya. Dan, ia pun mencoba membuatnya. Tidak hanya model, tapi juga variasi ukuran. Roetji jadi tahu kalau kertas yg luas bisa dibuat jadi pesawat yg besar dan kecil, tapi kalau kertas kecil hanya bisa dibuat jadi pesawat kecil :)
Kadang pesawatnya ia terbangkan ke air, Roetji pun melihat kalau pesawatnya jadi basah dan mudah robek, rusak. Kadang ia minta kami naik ke atas meja, supaya pesawatnya bisa terbang lebih tinggi. Kadang ia minta kami atau mencobanya sendiri, pesawatnya diarahkan ke atas supaya bisa terbang ke lampu.
Sekarang, Roetji sedang belajar membuat kapal kertas dan kodok kertas :) (*ini fotonya).
Kadang kala Roetji lupa salah satu tahapan, ia lantas mencari kami dan minta tolong melengkapi tahapan yg ia lupa tsb, kemudian ia lanjutkan lagi sampai selesai.
Nyaris tiap hari ruang bermain dan kamar tidur Mamah (neneknya) penuh dg kertas dan pesawat kertas. Kenapa? Karena di situlah gudang 'harta' dan bengkelnya Roetji :)
Langganan:
Postingan (Atom)