Sabtu, 17 Juni 2017

Komunikasi Produktif dengan Anak

Hari ke sepuluh, 
Jum’at 16 Juni 2017


Agenda di luar rutinitas harian adalah ikut ibu ke bank dan antri tiket prameks untuk mudik. R sangat bersemangat, ia ingin segera bertemu dengan neneknya. Ia pun dengan suka rela mandi sendiri dan segera mengenakan bajunya sendiri, nyaris tanpa perlawanan setelah ia selesai membaca bukunya. Saya cuma mengingatkan kesepakatan kami sekali saja.

Sore harinya, kami ada pertemuan dengan komunitas praktisi homeschooling Solo Raya di rumah salah satu anggota. R sangat bersemangat dengan agenda ini, ia ingin bermain bersama teman-temannya. Mandi sore ia lakukan dengan suka rela, cukup diingatkan sekali saja. Begitu pula dengan ‘acara’ memakai baju sendiri. Saya cukup mengingatkannya dengan kesepakatan kami maka ia segera mengenakan bajunya sendiri. R juga sudah mau mengenakan kaos dan celananya dengan baik dan benar, tidak terbalik lagi.


#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

Komunikasi Produktif dengan Anak

Hari ke sembilan, 
Kamis 15 Juni 2017

Pagi ini R tidak mau pergi kemana-mana, ia ingin di rumah saja. Kami pun menyusun ‘proposal riset’ yang akan R lakukan. Kami berencana membuat 10 percobaan, namun R baru berhasil menyusun 3 proposal. Ia membaca buku-bukunya tentang percobaan sains, kemudian menggambar bahan-bahan yang diperlukan untuk masing-masing percobaan. Ia belum mau menuliskan bahan-bahan tersebut dan bersikeras saya yang menulis. Sebelum melakukan ini, kami membuat kesepakatan bahwa R akan mandi setelah kegiatan ini selesai. Dan, R pun melaksanakan kesepakatan ini. Ia pun mandi dan mengenakan bajunya sendiri dengan suka rela.

Siang harinya, tanpa direncana, bapak e R pulang sebentar karena ada sesuatu yang tertinggal di rumah. Tanpa kami duga, R ngotot ingin ikut bapak e ke kantor. Tumben, bapak e mengijinkan. Alhasil, saya sendirian di rumah. Kami bersepakat bahwa R akan pulang sekitar jam 15.00. Namun ternyata, R sangat betah di kantor bapak e sehingga tidak mau pulang, ngotot ikut acara buka bersama di kampus. Yah, R jadi tidak mandi sore deh. Sekitar jam 20.00 ia pulang, dan segera saya minta ganti baju. Ia sedikit protes, menurutnya bajunya tidak kotor sehingga tidak perlu ganti. Setelah saya jelaskan bahwa bajunya kotor, telah ia pakai sejak pagi dan ia tidak mandi sore, maka supaya bisa tidur nyenyak, R harus dilap dan ganti baju. R pun akhirnya bersedia saya lap badannya dan ganti bajunya sendiri. 

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif


#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak

Hari ke delapan, 
Rabu 14 Juni 2017

Sejak kami ngobrol ‘ala orang dewasa’ tentang tugas orangtua dan anak, R sepertinya paham bahwa tugas orangtua adalah mengajari anaknya tentang baik buruk dan benar salah, tugas anak adalah mematuhi perintah dan nasihat baik orangtuanya. Tugas kami bersama adalah lebih banyak tertawa, agar bahagia dan tidak marah-marah J
Beberapa kesepakatan teknis kami buat, antara lain: mandi sendiri dan segera mengenakan baju sendiri dan masing-masing anggota keluarga punya screen time setiap harinya 2 jam saja. Dan, R yang paling konsisten dengan kesepakatan screen time ini. Lagi-lagi, kami jadi kebo nusu gudhel, belajar dari anak kecil kami J

Alhamdulillah, pagi dan sore ini R mau segera mandi sendiri dengan suka rela dan segera mengenakan bajunya sendiri setelah saya ingatkan kesepakatan kami, sekali saja. Saya sangat senang, artinya R paham dengan obrolan kami. Kami berjanji akan saling mengingatkan tentang kesepakatan kami, tanpa marah-marah. Karena kami menyadari bahwa membangun kebiasaan baik itu bukan mantra sihir, namun perlu dilakukan berulang-ulang dan konsisten. Semoga kami mampu J

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif


#kuliahbunsayiip

Rabu, 14 Juni 2017

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Ketujuh

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Ketujuh
Selasa, 13 Juni 2017
Setelah semalam hujan cukup deras, hari ini cuaca mendung dan tidak gerah lagi. Kami pun memilih beraktivitas di rumah saja. Selesai mandi pagi, R mau dengan suka rela segera mengenakan bajunya sendiri. Sepertinya ia merasa agak kedinginan.
Sore harinya, R pun mau segera menurut ketika saya memintanya untuk mandi sore. Ketika saya memintanya memakai baju, ia bertanya “Bu, ini kan baju yang kena slime magnetik? Kenapa dipakai lagi?” Saya pun menjelaskan bahwa baju itu sudah dicuci dan sudah aman. R pun mengenakannya tanpa perlawanan.
Alhamdulillah, sepertinya dua hari ini cukup mencapai target, namun masih perlu diuji lagi. Oleh karena itu, saya akan tetap melanjutkan games ini sampai tanggal 17 Juni 2017. Sekaligus untuk menguji hubungan PMS dan menstruasi dengan keterampilan saya mengendalikan emosi dan kepatuhan anak.
Sementara ini saya menyimpulkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara emosi ibu dengan anak. Sewaktu ibu emosional maka anak semakin ‘berulah’, emosinya juga ikut tidak stabil. Selain itu, ternyata anak juga cukup terampil mengidentifikasi kebutuhan dan tindakan yang perlu dilakukannya. Jika suatu pekerjaan / tindakan itu ia rasa menjadi kebutuhannya maka ia akan suka rela dan bersemangat untuk melakukannya, demikian juga sebaliknya. Tantangan bagi kami yang sepertinya akan berlangsung terus adalah bagaimana membangun kesadaran anak akan kebutuhannya, membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan menghargai kebutuhan orang lain. 


#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Keenam

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Keenam
Senin, 12 Juni 2017
Hari ini cuaca sangat panas maka R mandi dan bermain air cukup lama. Saya memakluminya, asalkan ia tidak membuang-buang air melebihi jatahnya. R menurut, ia memilih berendam dan bermain air di ember mandinya. Setelah puas, ia ke kamar. Lagi-lagi, tidak segera memakai baju, tapi justru melemparkan baju-bajunya. Hmm, saya pun menghela nafas dan berkata “Mas R, pakai kaos singlet, celana dalam dan celana pendekmu ya. Malu.”
R pun mengenakannya sambil bertanya “Kenapa boleh nggak pakai kaos tapi tetap harus pakai celana pendek?” Saya pun menjelaskan bahwa hari ini cuaca sangat panas sehingga boleh pakai singlet di rumah agar tidak kegerahan, tapi tetap harus pakai celana pendek agar tidak mengundang orang jahat yang suka dengan anak kecil yang tidak pakai celana. R menurut, tapi sepertinya ia menyimpang pertanyaan. Saya tambah sedikit penjelasan saya bahwa ada orang baik dan ada orang jahat di sekitar kita, jadi kita harus berusaha agar tidak disakiti oleh orang jahat.

Saya juga menjelaskan bahwa salah satu tugas orangtua adalah melindungi anaknya dan tugas anak adalah menurut perintah dan larangan orangtua. Maka, kami membuat kesepakatan, bahwa R akan segera datang ketika dipanggil dan segera melakukan perintah kami, dan saya akan segera datang jika R memanggil saya. 


#level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Kelima

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 17 Juni 2017.


Hari Kelima
Minggu, 11 Juni 2017
Agenda kami hari ini adalah berbelanja dan beres-beres rumah. Siang nanti akan ada saudara dari Yogyakarta yang akan main ke rumah kami, maka kami harus bergegas. Namun sepertinya R tidak mau diajak pergi karena asyik membaca buku. Setelah mandi, ia tetap tidak segera berpakaian, ia kembali membaca bukunya. Saya pun marah-marah lagi, karena hari keburu siang dan menegurnya dengan intonasi cukup tinggi “Mas R, ayo pakai baju, kita pergi sekarang. Atau, mas R mau di rumah sendiri?” R tetap tidak bergeming, dan akhirnya bapaknya mengambil alih, membantu R mengenakan bajunya.
Ah, lagi-lagi saya gagal mengendalikan emosi dan membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri. 


#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Keempat

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Keempat
Minggu, 11 Juni 2017
Agenda kami hari ini adalah berbelanja dan beres-beres rumah. Siang nanti akan ada saudara dari Yogyakarta yang akan main ke rumah kami, maka kami harus bergegas. Namun sepertinya R tidak mau diajak pergi karena asyik membaca buku. Setelah mandi, ia tetap tidak segera berpakaian, ia kembali membaca bukunya. Saya pun marah-marah lagi, karena hari keburu siang dan menegurnya dengan intonasi cukup tinggi “Mas R, ayo pakai baju, kita pergi sekarang. Atau, mas R mau di rumah sendiri?” R tetap tidak bergeming, dan akhirnya bapaknya mengambil alih, membantu R mengenakan bajunya.

Ah, lagi-lagi saya gagal mengendalikan emosi dan membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri. 


#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif dengan Anak, Hari Ketiga

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.


Hari Ketiga
Sabtu, 10 Juni 2017
Hari ini suami saya libur maka kami jalan-jalan ke luar rumah. Namun, R sepertinya tidak bersemangat untuk pergi, ia asyik membaca buku-bukunya. Maka ia pun tidak mau segera mandi. Setelah bapaknya mengatakan bahwa hari ini kami juga akan ke perpustakaan, maka R segera mandi dan segera berpakaian sendiri, tanpa masalah.
Oalah Nak, begini to? Jika sesuai dengan kemauanmu, kamu akan bergegas menyelesaikan tugasmu? Oke, kita coba lihat apakah benar begitu atau tidak ya J


#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif Dengan Anak, hari kedua

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.

Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Kedua
Jum’at, 9 Juni 2017
Pagi ini, seperti biasa di bulan Ramadhan ini, kami bertiga sahur bersama. Kami makan buah-buahan yang ada di meja. Badan saya rasanya semakin tidak karuan, dan tamu yang diharapkan belum juga datang.
Setelah suami berangkat kerja dan saya menyelesaikan rutinitas pagi, perut saya semakin sakit. Akhirnya saya memilih tidur-tiduran saja dan R bermain sendiri. Sesaat kemudian, perut saya cukup nyaman untuk kembali beraktivitas. Maka, saya meminta R segera mandi. Ia menurut, mandi dengan waktu yang cukup lama, dan saya kembali tiduran. Saya membiarkannya, memakluminya sebagai caranya untuk membuat dirinya nyaman di hari yang cukup panas ini. Setelah ia selesai mandi, ia ke kamar. Dan, lagi-lagi, ia tidak segera mengenakan bajunya sendiri, justru loncat-loncat di kasur.
Saya pun mengingatkannya untuk segera mengenakan bajunya dan memintanya mengirim pesan ke bapaknya lewat HP yang sedang dicharge di ruang tamu. R segera ke ruang tamu, mengirim pesan suara ke Bapaknya, hanya dengan mengenakan kaos singlet dan celana dalam saja. Setelah itu, ia kembali ke kamar, dan membaca buku. Saya pikir mungkin ia merasa gerah jika harus berpakaian lengkap di cuaca sepanas ini. Ya sudah, saya mengalah, maka “Mas R, pakai celana pendeknya ya. Kaosnya nggak usah dipakai nggak apa-apa, cukup pakai singlet, tapi celana pendeknya dipakai ya”. R pun menurut, ia mau mengenakan celana pendeknya, dan melanjutkan aktivitasnya lagi.
Siang harinya, bahu saya mulai berkurang rasa sakitnya, beralih ke perut. Dan, benar, tamu bulanan itu akhirnya datang juga. 

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Melatih Komunikasi Produktif, Hari Pertama

Tulisan ini merupakan catatan akan perjalanan saya melatih diri dengan ilmu yang diajarkan di Institut Ibu Profesional, dalam program Bunda Sayang.
Tulisan berseri ini akan terdiri dari beberapa tulisan, dan 10 tulisan pertama merupakan catatan pembelajaran saya terkait komunikasi produktif. Ada dua pilihan untuk dikerjakan, yaitu berlatih komunikasi produktif dengan suami atau dengan anak. Dalam kesempatan ini, saya memilih berlatih berkomunikasi produktif dengan anak.

Target: mengendalikan emosi ibu ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi
Kebiasaan baik itu memang perlu dilatih, dilakukan dengan konsisten. Tidak gampang, apalagi ditambah dengan menuliskannya J
Oleh karena itu, dalam kesempatan latihan kali ini, saya memilih fokus pada satu jenis kebiasaan yang sedang kami lakukan bersama: mengendalikan emosi ketika membiasakan R segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi.
Bagi saya, mengendalikan emosi itu sesuatu yang besar banget. Sungguh tidak gampang, terlebih ketika PMS dan sedang menstruasi. Oleh karena itu, saya memilih memulai tantangan ini di masa-masa sekitar itu. Sehingga tantangan ini kami mulai sejak tanggal 8 Juni 2017 sampai tanggal 16 Juni 2017.

Hari Pertama
Kamis, 8 Juni 2017
Bangun tidur pagi ini rasanya badan saya sangat tidak nyaman, terutama bagian bahu kanan, sangat tidak nyaman. Rasanya sangat pegal dan nyeri, seperti sehabis badminton atau menyetrika bertumpuk-tumpuk baju. Padahal saya tidak melakukan itu semua. Lalu, kenapa ya? Sepertinya sudah sekitar 2 bulan ini saya rutin mengalami rasa sakit ini. Hmm, kalau tidak salah, ini tanda saya akan segera kedatangan tamu bulanan. Ya, apalagi saya menjadi lebih mudah marah dan jengkel karena hal-hal yang tidak penting dan tidak jelas. Suami saya sudah mengingatkan, terutama agar saya mengontrol emosi ketika bersama anak kami. Hal sepele yang biasanya tidak jadi masalah, di masa-masa seperti ini, sangat mungkin memancing emosi saya, termasuk kebiasaan R untuk tidak segera mengenakan bajunya sendiri setelah mandi. Ya, R sudah terbiasa mandi sendiri dengan cukup baik, namun ia masih belum bisa tertib segera mengenakan bajunya sendiri. Ada saja yang dilakukannya, misalnya melempar-lempar bajunya sambil loncat-loncat dan tertawa-tawa di kamar, berhenti sejenak untuk membaca bukunya, dll. Setelah beberapa saat, ia memang mengenakan bajunya sendiri, dengan gayanya sendiri. Kadang terbalik bagian depan dan belakang, kadang terbalik sisi luar dan dalam, kadang tidak mengenakan kaos singlet dan celana dalam, dan kadang ia lakukan dengan benar.
Hari ini, setelah mandi, R lagi-lagi tidak mau segera mengenakan bajunya sendiri. Ia justru membaca buku dalam keadaan telanjang. Saya mencoba mengingatkannya dengan intonasi dan suara yang ramah “Ayo Mas R, dipakai bajunya, banyak nyamuk lho”. R tetap tidak bergeming. Saya mengingatkannya lagi, ia tetap cuek. Dan akhirnya, saya gagal lagi, hiks. Saya mulai berteriak dan mengancamnya “Mas R, pakai bajunya, sekarang! Kalau tidak segera pakai baju, Ibu WA Bapak agar tidak jadi membelikan permen mentos”. R tidak segera mengenakan bajunya, justru menjawab dengan bertanya “Apa hubungannya, memakai baju atau tidak dengan dibelikan permen mentos?” Alih-alih saya membimbingnya mengenakan baju, saya justru terpancing menjawab pertanyaannya “Ya ada hubungannya. Jika Mas R menurut perintah Ibu, Ibu juga akan menuruti mas R. Sebaliknya, jika Mas R nggak mau menurut, kenapa Ibu harus menuruti maunya Mas R? Dah, pakai bajunya sekarang atau nggak jadi dibeliin permen mentos untuk percobaan”. Saya mengatakan ini sambil berteriak dan memasang wajah galak. Maka R pun menjawab “Jangan! Mas R mau melakukan percobaan” sambil mengenakan bajunya cepat-cepat.

Ah, akhirnya R mau mengenakan bajunya sendiri. Namun, saya gagal mengendalikan emosi saya dan gagal membangun kebiasaan baik dengan cara yang baik L

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Senin, 01 Mei 2017

Belajar Memilih dengan Sadar

Perkenalkan, kami keluarga AIR, keluarga kecil yang sedang berproses untuk bertumbuh dan berkembang bersama dengan menjadi salah satu praktisi homeschooling / sekolahrumah. Saya dan suami memutuskan memilih jalur ini ketika kami menyadari bahwa R adalah titipan Allah yang sangat istimewa kepada kami, seperti halnya setiap anak lainnya. Pilihan untuk mendidik diri kami dan anak-anak kami, saat ini dan insyaAllah sampai nanti, agar bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang semakin baik, di mata kami, masyarakat dan Allah SWT. Kami memandang sekolahrumah sebagai suatu pilihan biasa saja, sebagaimana keluarga lain yang memilih sekolah formal. Namun demikian, kami juga menyadari bahwa jalur pendidikan yang kami pilih ini masih belum cukup lazim di masyarakat kita saat ini. Sebelum kami menerima kenyataan bahwa pilihan kami memang aneh, unik, kami pernah merasa risih, sehingga sempat ingin memilih sekolah. Namun dengan semakin mempraktikkan, semakin banyak membaca, mengkaji peraturan perundang-undangan, ngobrol dengan teman-teman, dan berjejaring dengan semakin banyak pihak, alhamdulillah, kami bisa merasa semakin mantap menjadi keluarga biasa saja, lengkap dengan keunikan kami ini.
                Sebagai praktisi sekolahrumah, kami menjadikan keluarga sebagai pusat kegiatan pembelajaran,  namun bukan berarti memindahkan sekolah ke rumah. Rumah kami rumah biasa, tidak kami desain seperti sekolah, baik itu pembagian ruang, sarana prasarana maupun sumber daya manusianya. Saya dan suami juga manusia biasa, yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, namun ingin memberikan yang terbaik yang kami mampu kepada anak-anak kami.  Oleh karena itu, kami berprinsip: setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah. Saat ini, kami dan para praktisi sekolahrumah lainnya, sangat terbantu dengan lingkungan yang cukup ramah anak, alam semesta, ruang dan fasilitas publik, les keterampilan / pengetahuan,  buku-buku, internet, dll. Selain sebagai sumber ilmu pengetahuan, juga menjadi media bagi kami untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi kami. Sosialisasi dengan sebaya sekaligus lintas usia, lintas status sosial, lintas ruang dan waktu. Kalau begitu, apa bedanya dengan anak sekolah yang juga dididik orangtuanya di rumah di luar waktu sekolah? Sependek yang kami pahami dan jalani, dalam keluarga praktisi sekolahrumah, orangtua (khususnya ketika anak belum bisa mengambil keputusan secara sadar) menjadi pihak yang memegang kuasa tertinggi dan tanggung jawab utama untuk menentukan dasar / landasan, proses dan tujuan pendidikan keluarga (terutama untuk anak-anaknya). Orangtua pula lah yang memilihkan sumber, materi, metode, dan alat / sarana belajar keluarga. Orangtua juga yang menetapkan aturan dan ‘warna’ keluarga.  Jika anak sudah cukup mampu untuk terlibat maka proses ini idealnya melibatkan anak-anak kita. Dan semua ini dilakukan oleh keluarga, berbasis di rumah / keluarga, bukan dengan menitipkan anak pada sekolah atau pun lembaga yang menyebut dirinya homeschooling. Dengan demikian, kami bisa cukup fleksibel dalam mengelola sumber daya kami, termasuk materi dan metode pembelajaran, waktu dan pendanaan. Ragam aktivitas bisa kami sesuaikan dengan kondisi keluarga kami, tidak terpatok pada jadwal, metode pembelajaran  dan anggaran yang ditentukan pihak lain. Berbeda dengan sekolah formal dan lembaga berlabel homeschooling yang mempunyai sistem dan aturan tersendiri yang telah ditentukan pihak terkait, di luar kuasa orangtua.
Selain itu, kami juga berprinsip bahwa yang kami lakukan ini halal dan legal. Negara Indonesia menjamin legalitas sekolahrumah sebagai jalur pendidikan informal dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Peraturan Pemerintah terkait, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 12 tahun 2014. Semua aturan perundang-undangan ini menempatkan jalur pendidikan informal (keluarga dan lingkungan) setara dan sejajar dengan sekolah formal (SD, SMP, SMA) dan pendidikan non formal (pesantren, PKBM, SKB, bimbingan belajar). Semua pilihan jalur pendidikan ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjamin terpenuhinya hak anak akan pendidikan. Oleh karena itu, kami mendaftarkan anak kami untuk memperoleh NISN (Nomer Induk Siswa Nasional) dan sebagai peserta didik di salah satu satuan pendidikan nonformal/informal. Dengan demikian, anak kami tetap terdata sebagai peserta didik, memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan peserta didik yang memilih jalur sekolah formal. Termasuk hak dan kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan ijazah dengan baik dan benar. Meskipun demikian, dalam praktiknya, acap kali masih ada penyimpangan dan ketimpangan. Oleh karena itu, kami juga turut berperan dalam komunitas dan jejaring kerja para praktisi sekolahrumah agar setiap keluarga Indonesia berhak belajar dengan jalur pendidikan pilihannya,  yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan keterbatasan masing-masing anak dan keluarga, dengan legal, setara, dan berkualitas.


Minggu, 30 April 2017

Berkenalan dengan Homeschooling / Sekolahrumah

“R tahun ini masuk SD kan? SD ini bagus lho.” saran ibu tetangga. “Saya itu punya tetangga yang anaknya homeschooling. Lha si anak ini tidak pernah keluar rumah, sampai remaja, tidak pernah terlibat kegiatan kampung”. Kata Pak A yang kebetulan bertetangga dengan salah satu keluarga praktisi homeschooling. Sedangkan di kesempatan lain, seorang teman praktisi homeschooling bercerita tentang komentar tetangganya ketika anak-anaknya ikut rewang “Anak-anakmu rajin sekali ya, pagi-pagi sudah ikut Ibu e bantu-bantu di sini. Sekolah e pindah di rumah Budhe ya, siapa tahu besok jadi juragan catering. Jadi anak sholeh ya Le”.
“Anak kamu homeschooling dimana? Mahal ya? Wuih, hebat ya, sudah sukses nih. Atau anakmu malah sudah jadi artis atau atlit ya?” tanya seorang teman lama suatu saat ketika kami reunian. “Oalah, kasihan ya anakmu, nggak sekolah. Memang sih sekarang ini sekolah yang bagus mahal banget, mbok sudah, dimasukin di sekolah negeri saja, banyak to yang bagus meski pun murah.” Kata teman baik saya sambil menepuk-nepuk bahu  saya dan tersenyum.
“Lha kalau tidak sekolah, bagaimana dengan ijazahnya? Besok bisa kuliah gitu? Lha kalau nglamar kerja pakai apa? Mosok to langsung wawancara?” tanya seorang teman yang lain.
***
Ilustrasi di atas merupakan contoh sebagian pertanyaan yang cukup sering kami (saya dan suami saya) dengar terkait pilihan kami dalam mendidik anak. Pertanyaan yang wajar karena kami memilih jalur pendidikan informal, homeschooling / homeeducation / sekolahrumah, saat ini. Bisa jadi, suatu saat nanti, justru pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi aneh karena sekolahrumah sudah menjadi suatu kelaziman.
Saya dan suami memutuskan memilih jalur ini ketika kami menyadari bahwa titipan Allah kepada kami ini sangat istimewa, seperti halnya setiap anak lainnya, dan karena kami juga keluarga yang istimewa, seperti halnya setiap keluarga lainnya. Oleh karena itu, kami ini manusia biasa-biasa saja, keluarga biasa-biasa saja, bukan manusia super atau pun keluarga super hero. Kami memandang sekolahrumah sebagai suatu pilihan untuk mendidik diri kami dan anak-anak kami, saat ini dan insyaAllah sampai nanti. Sebagai suatu pilihan untuk berusaha bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang semakin baik, di mata kami, masyarakat dan Allah SWT. Sebuah pilihan biasa saja, sebagaimana keluarga lain yang memilih sekolah formal.
Namun demikian, kami juga menyadari bahwa jalur pendidikan yang kami pilih ini masih belum cukup lazim di masyarakat kita saat ini. Jadi, ya, kami biasa-biasa saja ketika dianggap aneh atau nganeh-nganehi alias tidak umum. Sebelum kami menerima kenyataan bahwa pilihan kami memang aneh, unik, kami pernah merasa risih, merasa jadi korban bullying, sehingga sempat ingin memilih sekolah. Namun seiring waktu, dengan semakin banyak membaca, mengkaji peraturan perundang-undangan, ngobrol dengan teman-teman, dan berjejaring dengan semakin banyak pihak, alhamdulillah, kami bisa merasa semakin mantap menjadi keluarga biasa saja, lengkap dengan keunikan kami ini.
                Sebagai praktisi sekolahrumah, kami menjadikan keluarga sebagai pusat kegiatan pembelajaran,  namun bukan berarti memindahkan sekolah ke rumah. Rumah kami tidak kami desain seperti sekolah, baik itu pembagian ruang, sarana prasarana maupun sumber daya manusianya. Rumah kami tetap lah rumah biasa, seperti lazimnya rumah keluarga Indonesia pada umumnya. Saya dan suami juga manusia biasa, yang tidak mengetahui semua hal, yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, namun ingin memberikan yang terbaik yang kami mampu kepada anak-anak kami.  Oleh karena itu, kami berprinsip: setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah. Jadi materi pembelajaran kami tidak terpaku pada buku-buku teks pelajaran dan kami berdua bukanlah pengajar tunggal bagi anak kami. Saat ini, kami dan para praktisi sekolahrumah lainnya, sangat terbantu dengan lingkungan sekitar rumah yang cukup ramah untuk tumbuh kembang anak, tetangga,  sawah, sungai, pantai, ruang dan fasilitas publik, museum, les keterampilan / pengetahuan, bimbingan belajar, buku-buku, internet, dll. Tidak hanya sebagai sumber ilmu pengetahuan, namun juga menjadi media bagi kami untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi anak kami. Sosialisasi dengan sebaya dan juga lintas usia, lintas status sosial, lintas ruang dan waktu.
Kalau begitu, apa bedanya dengan anak sekolah yang juga dididik orangtuanya di rumah di luar waktu sekolah? Sependek yang kami pahami dan jalani, dalam keluarga praktisi sekolahrumah, orangtua (khususnya ketika anak masih kecil, belum bisa mengambil keputusan secara sadar untuk dirinya sendiri) menjadi pihak yang memegang kuasa tertinggi dan tanggung jawab utama untuk menentukan dasar / landasan, proses dan tujuan pendidikan keluarga (terutama anak-anaknya). Orangtua pula lah yang memilihkan sumber, materi, metode, dan alat / sarana belajar keluarga. Orangtua juga yang menetapkan aturan dan ‘warna’ keluarga.  Jika anak sudah cukup mampu untuk terlibat maka proses ini idealnya melibatkan anak-anak kita. Dan semua ini dilakukan oleh keluarga, berbasis di rumah / keluarga, bukan dengan menitipkan anak pada lembaga yang menyebut dirinya homeschooling atau pun kepada sekolah. Dengan demikian, kami bisa cukup fleksibel dalam mengelola sumber daya kami, termasuk waktu dan pendanaan. Ragam aktivitas bisa kami sesuaikan dengan kondisi keluarga kami, tidak terpatok pada jadwal dan anggaran yang ditentukan pihak lain. Berbeda dengan sekolah formal yang mempunyai sistem dan aturan tersendiri yang diproses di luar kuasa / kendali penuh  orangtua peserta didik sehingga membutuhkan kerjasama orangtua dan pihak sekolah dalam relasi yang bisa setara.
Selain beberapa prinsip di atas, kami juga berprinsip bahwa yang kami lakukan ini halal dan legal, tidak dilarang agama dan negara kami. Pemerintah Indonesia menjamin legalitas sekolah rumah sebagai jalur pendidikan informal dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Peraturan Pemerintah terkait, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no 12 tahun 2014. Semua aturan perundang-undangan ini menempatkan jalur pendidikan informal (keluarga dan lingkungan) setara dan sejajar dengan sekolah formal (SD, SMP, SMA) dan pendidikan non formal (pesantren, PKBM, SKB, bimbingan belajar). Semua pilihan jalur pendidikan ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjamin terpenuhinya hak anak akan pendidikan. Oleh karena itu, kami mendaftarkan anak kami untuk memperoleh NISN (Nomer Induk Siswa Nasional) dan sebagai peserta didik di salah satu satuan pendidikan nonformal/informal. Dengan demikian, anak kami tetap terdata sebagai peserta didik, memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan peserta didik yang memilih jalur sekolah formal. Termasuk hak untuk memperoleh dan memanfaatkan ijazah dengan baik dan benar.
Meskipun demikian, dalam praktiknya, acap kali masih ada penyimpangan dan ketimpangan. Oleh karena itu, para praktisi sekolahrumah juga berjejarang, berorganisasi untuk menyuarakan kepentingan dan kebutuhan kami dan berelasi dengan berbagai pihak secara adil dan setara. Juga untuk mewarnai dunia pendidikan kita, bahwa pendidikan itu bukan sekolah. Orangtua dan negara berkewajiban memenuhi hak pendidikan anak, bukan sekolah anak. Dengan demikian, setiap keluarga Indonesia berhak belajar dengan jalur pendidikan pilihannya,  yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan keterbatasan masing-masing anak dan keluarga, dengan legal, setara, dan berkualitas. 

**bersambung 

Sabtu, 25 Maret 2017

NHW#9


Ibu Sebagai Agen Perubahan



Materi terakhir di matrikulasi IIP batch#3 ini mantap banget: Ibu sebagai agen perubahan. Judul materi ini mengingatkan saya tentang idealita yang saya pelajari ketika kuliah dulu. Seiring waktu, ternyata menjadi agen perubahan itu tidak semudah menghafal kalimat tersebut, atau pun meneriakkannya sebagai yel-yel penyemangat bersama teman sekomunitas. Sungguh, kalimat ini mudah diucapkan, sangat menantang untuk dilakukan :) 

Sekarang, ketika saya sedang menjalani peran sebagai Ibu dari seorang anak laki-laki, juga sebagai seorang istri dari seorang laki-laki yang kebetulan bekerja sebagai seorang dosen, dan sebagai pribadi yang lebih banyak menggunakan waktu sehari-hari di rumah maka tantangan saya untuk menjadi agen perubahan tentu sangat berbeda dengan ketika menjadi mahasiswa. Tantangan ini semakin jelas, dekat, dan memerlukan strategi yang praktis dan realistis untuk diwujudkan dengan kemampuan dan keterbatasan kami. Sebelum saya bergabung dengan kelas matrikulasi ini, impian sebagai agen perubahan itu berasa masih di awang-awang, ada, namun saya belum mempunyai gambaran untuk mewujudkannya. Alhamdulillah, dengan mengikuti alur pikir yang dibangun selama matrikulasi ini melalui tugas-tugas mingguan, jalur untuk mewujudkan tantangan ini mulai terlihat, siap kami jalani bersama anak kami yang saat ini berumur 6 tahun. Yeay, Bismillah... 

Nah, di tugas terakhir dari program Bunda Sayang kali ini adalah merumuskan social venture masing-masing peserta. Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpeneur bai secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur. 
Rumus yang kita pakai adalah:
 PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE 
sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat, diawali dari rasa empati, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri. 
Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam. 
Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kitahadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yang memiliki permasalahan yang sama dengan kita. Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yang ada di sekitar kita. 
Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan yang terlampir. Selamat menjadi agen perubahan, karena setiap orang adalah agen perubahan :)
Demikian tugas penutup dari program Bunda Sayang di Insitute Ibu Profesional. Tabel berikut ini merupakan jawaban saya atas tugas terakhir ini. Semoga saya bisa mewujudkannya bersama keluarga kecil kami yang terus bertumbuh dan berkembang :) 



Minat, Hobi, Ketertarikan
Skill, Hard, Soft
Isu Sosial
Masyarakat
Ide Sosial

Fasilitator pembelajaran anak
Menjadi fasilitator.
Mempunyai peralatan audio visual dan buku-buku.
Memiliki bekal ilmu dan pengalaman menggunakan media audio visual untuk pengorganisasian masyarakat.
Rendahnya literasi media di masyarakat.

Banyaknya kesempatan menggunakan media audio visual sebagai alat pembelajaran
Anak-anak
Orangtua
Ruang menonton dan membaca di rumah keluarga AIR

Sabtu, 18 Maret 2017

Misi Hidup dan Produktivitas

Nice HomeWork #8
MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS
Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :
a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :
1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulsi IIP/


Bismillah, saya mencoba menjawab tantangan NHW#8 ini sebagai berikut:
a.       Menjadi fasilitator
b.      BE DO HAVE
1.       Saya ingin menjadi: fasilitator pembelajaran yang baik bagi Roetji dalam proses tumbuh kembangnya sesuai fitrah.
2.       Saya ingin belajar dan mempraktikkan ilmu-ilmu tentang parenting, terutama fitrah based education.
3.       Saya ingin memiliki komitmen, konsistensi, kemampuan dan keahlian sebagai fasilitator tumbuh kembang Roetji sesuai fitrah dengan optimal.
c.       Aspek waktu:
1.       Dalam kurun waktu kehidupan saya,  saya ingin menjadi fasilitator pengembangan pribadi dan pendidikan anak. Saya ingin menjadi Ibu yang berhasil menghantarkan anak menjalani misi hidupnya sesuai fitrahnya dengan optimal. Saya berharap dalam sisa umur saya ini, saya bisa menjadi pribadi yang cakap, yang produktif, bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan.
2.       Dalam kurun waktu 5 – 10 tahun ke depan (strategic plan), saya ingin menjadi ibu profesional, yang konsisten, iklas dan bahagia menjalani peran saya dalam kehidupan. Dalam 3 tahun pertama, saya akan berusaha keras mentaati komitmen saya belajar menjadi ibu profesional, seperti yang telah saya rencanakan dalam NHW#4. Selanjutnya, dalam 4 – 10 tahun ke depan, saya ingin memfasilitasi Roetji menjadi pembelajar mandiri yang siap hidup mandiri di usia akil baligh nanti dengan sebaik-baiknya.
3.       Dalam kurun waktu 1 tahun ini, saya ingin mempraktikkan dan menguasai ilmu menjadi Bunda Sayang sekaligus belajar menjadi Bunda Cekatan dengan konsisten dan seoptimal mungkin. Saya akan menaati jadwal kegiatan harian saya, agenda keluarga, dan indikator profesionalisme perempuan.

Bismillah, saya akan BERUBAH karena saya ingin MENANG melawan diri sendiri J

Tahapan Menuju Bunda Produktif

NHW#7

Hasil pembacaan oleh Bunda Rima:
Mbak Aini adalah orang yang senang data dan fakta. Juga angka. Tdak terlalu percaya dengan hanya perasaan dan emosi. Segala sesuatu lebih dipercaya jika sudah ada fakta dan datanya yang real. Pemaikirannya yang analis membantu untuk dapat mengevaluasi atau memberi penilaian terhadap suatu kinerja, dengan penilaian yang fair.
Senang belajar. Mengumpulkan informasi, wawasan dan tertarik dengan ilmu2 yang baru. Senang menulis. Mudah menjelaskan sesuatu dalam bentuk tulisan. Tulisan2 yang dibuatnya menjadi begitu mudah dimengerti karena pandai menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang menarik dan mudah dimengerti. 
Mampu memanfaatkan bahan tersedia di sekitar menjadi sebuah karya yang baru. Serta suka mendidik serta mengajar dan mengedukasi orang lain. Membuat orang lain sukses dan mencapai cita-citanya. 
Kelemahan: kurang pandai dalam pengelolaan keuangan, tidak dapat memperbaiki sesuatu yang rusak, baik benda atau hubungan dengan manusia.
Tidak terlalu suka memikul tanggung jawab yang besar. Tidak suka juga jika diminta untuk membuat atau memproduksi barang dalam jumlah besar. Tidak suka pekerjaan2 yang berhubungan dengan mesin.
Kurang senang dengan aturan2 yang baku yang harus dipatuhi dalam waktu yang panjang. Dan tidak suka tugas2 menggambar. Dan sering tidak bisa menggambarkan ide2 yang dimiliki dengan jelas. 


Kuadran aktivitas saya:
Kuadran 1: saya SUKA dan saya BISA
-          Melakukan analisa terhadap suatu hal berdasar data dan fakta
-          Menjadi ahli monitoring dan evaluasi
-          Menjadi fasilitator
-          Senang belajar
-          Senang menulis


Kuadran 2 : saya SUKA tetapi saya TIDAK BISA
-          Mengelola keuangan
-          Senang berkenalan dengan orang baru tetapi tidak bisa mempertahankan pertedfemanan dalam waktu lama dan membuat barang baru dengan barang-barang yang tersedia


Kuadran 3: saya TIDAK SUKA tetapi saya BISA
-          Bertanggungjawab pada hal besar dalam waktu lama / menjadi rutinitas
-          Memproduksi barang dalam umlah besar
-          Mematuhi aturan-aturan baku dalam waktu yang panjang

Kuadran 4: saya TIDAK SUKA dan saya TIDAK BISA

-          Menggambar dan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan mesin produksi 

Jumat, 03 Maret 2017

NHW#6 Belajar menjadi manager keluarga handal


Belajar Membongkar Jebakan Rutinitas

Masuk minggu keenam, saya semakin menyadari benang merah antara NHW#1 sampai NHW#6 ini. Saya jadi semakin mengagumi Bu Septi Peni Wulandani dan tim Institut Ibu Profesional yang telah berproses mempraktikkan dan menyusun tapak-tapak pembelajaran yang berupa Nice Home Work (NHW) khas IIP ini.
Pada awalnya saya sempat bingung memahami tugas NHW#6 ini, terutama dalam memahami dan menentukan aktivitas dinamis. Kemudian, setelah berdiskusi dengan teman-teman di WA grup matrikulasi ketiga IIP Solo, saya memperoleh pencerahan untuk mengerjakan tugas kali ini. kemudian, saya coba kerjakan tugas dengan menyusun tabel berikut untuk membantu memetakan aktivitas saya selama ini dan yang akan datang. Tabel ini yang menjadi pedoman dalam mengerjakan NHW#6 ini:

Rutin
Tidak Rutin
Penting
Memperbaiki ibadah pribadi
Pengembangan kapasitas pribadi
Menemani dan mendokumentasikan  proses pembelajaran Roetji
Berkegiatan bersama komunitas
Pekerjaan rumah tangga
Jualan online (dimulai lagi tahun 2018)
Tidak penting



Menggunakan sosial media untuk ‘me time’
Wisata kuliner
Tidur siang
Jalan-jalan sekedar ganti suasana
Belanja ke pasar
Baca-baca tabloid resep tanpa segera dipraktekkan

Dari tabel tersebut, saya menjawab tugas NHW#6 sebagai berikut:
1.       Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting: 

      Aktivitas paling penting:
  •  Pengembangan kapasitas diri saya (termasuk memperbaiki ibadah pribadi)
  •  Menemani dan mendokumentasikan proses pembelajaran Roetji
  • Pekerjaan rumah tangga
      Aktivitas paling tidak penting (tapi rutin saya lakukan):
  • Menggunakan sosial media untuk ‘me time’
  • Tidur siang
  • Belanja ke pasar

2.       Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
Setelah membuat tabel ini, saya jadi tersadarkan bahwa waktu saya selama ini sering kami pakai untuk hal-hal yang rutin saya lakukan namun ternyata tidak penting. Bismillah, saya akan berusaha untuk sangat mengurangi ketiga hal ini:
  • Menggunakan sosial media untuk ‘me time’, karena ini mengasyikkan sehingga melenakan. Saya akan tetap bersosial media karena banyak ilmu dan teman yang bisa saya peroleh dengan alat ini, namun akan saya atur waktunya dengan lebih cermat.
  • Tidur siang, selama ini saya nyaris rutin tidur siang supaya tidak kecapekan. Namun ternyata, aktivitas tidur siang saya terlalu lama. Saya akan membatasi tidur siang saya sekitar 10 – 15 menit saja, sekedar cukup untuk merecharge energi.
  • Belanja ke pasar, selama ini kami sekitar 2-3 hari belanja ke pasar demi harga yang sedikit lebih murah dan barang yang lebih komplit. Ternyata aktivitas ini merupakan pemborosan, karena saya acapkali membeli bahan pangan yang terlalu banyak, tidak termasak dan termakan dengan tepat. Saya akan menyusun menu mingguan dan menaatinya seoptimal mungkin. Belanja di pasar cukup 2 kali seminggu, diolah dan disimpan sedemikian rupa dengan memanfaatkan almari pendingin dengan optimal.

3.       Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya, agar selaras.
Dari tabel tersebut, saya memilih 3 aktivitas dari aktivitas yang tergolong penting – rutin dan aktivitas penting – tidak rutin untuk aktivitas dinamis saya, yaitu:
  • Menemani dan mendokumentasikan pembelajaran Roetji,
  • Pengembangan kapasitas pribadi (termasuk memperbaiki ibadah pribadi), dan
  • Berkegiatan bersama komunitas.
Untuk memenuhi jam terbang sesuai target (NHW#4), saya berencana untuk mendedikasikan diri 10 jam sehari untuk belajar dan berkarya bersama anak kami. Alokasi waktu tersebut saya bagi menjadi 8 jam untuk membersamai anak dan 2 jam untuk pengembangan kapasitas pribadi tanpa melibatkan anak. Kegiatan bersama komunitas (terutama komunitas homeschoolers) merupakan kegiatan dinamis dengan alokasi waktu sekitar 8-12 jam dalam seminggu karena bagian dari aktivitas pembelajaran kami sebagai keluarga homeschoolers.

4.       Kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi “cut off time”. Dari tabel ini saya memilih aktivitas penting dan rutin untuk dikumpulkan dalam waktu tertentu, yaitu:
  • Memperbaiki ibadah pribadi 
  • Menemani dan mendokumentasikan pembelajaran Roetji, dan
  •  Pekerjaan rumah tangga
Aktivitas menemani dan mendokumentasikan pembelajaran Roetji merupakan aktivitas rutin yang dinamis karena saya lakukan rutin setiap hari dengan kegiatan yang berbeda-beda, menyesuaikan kebutuhan Roetji dan kondisi keluarga.

5.       Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian Anda – karena kami ingin menyiapkan Roetji menjadi anak yang terampil beradaptasi maka kami memilih hari Sabtu dan Minggu untuk melakukan aktivitas-aktivitas spontan yang bukan merupakan agenda rutin kami.

6. Jadwal kegiatan harian 
Sebelum menyusun jadwal kegiatan harian, saya bertanya kepada suami saya tentang prioritas beliau dalam urusan rumah tangga kami. Suami saya memutuskan untuk menyusun prioritas sebagai berikut:
a. anak terurus dengan sangat baik
b. makanan tersaji tepat waktu dan tepat gizi
c. rumah rapi
Oleh karena itu, saya menyusun jadwal harian seperti berikut: 



Senin – Jum’at
Sabtu
Minggu
04.00 –  06.00
Ibadah pagi
Bersih-bersih rumah
Olah raga pagi
Ibadah pagi
Bersih-bersih rumah
Olah raga pagi
Ibadah pagi
Bersih-bersih rumah
Olah raga pagi
06.00 – 08.00
Menyiapkan sarapan
Mandi pagi
Sarapan
Menyiapkan sarapan
Mandi pagi
Sarapan
Menyiapkan sarapan
Mandi pagi
Sarapan
08.00 – 11.00
Menjadi fasilitator dan dokumentator pembelajaran Roetji
Menjadi fasilitator dan dokumentator pembelajaran Roetji
Acara keluarga: jalan-jalan keluar rumah, dll
11.00 – 14.00
Menyiapkan makan siang (sering melibatkan Roetji)
Sholat Dzuhur, Istirahat,
Makan siang
Cuci baju
(melibatkan Roetji)
Menyiapkan makan siang (melibatkan Roetji dan suami) 
Sholat Dzuhur, Istirahat,
Makan siang
Cuci baju (melibatkan Roetji)
Acara bebas: piknik / beres-beres rumah / pengembangan kapasitas / wisata kuliner
14.00 – 16.00
Menjadi fasilitator dan dokumentator pembelajaran Roetji
Acara komunitas / kelas literasi media / pengembangan kapasitas
Acara bebas: piknik / beres-beres rumah / pengembangan kapasitas
16.00 – 17.30
Mandi sore
Beres-beres rumah
Mandi sore
Mandi sore
Beres-beres rumah
17.30 – 19.00
Menyiapkan makan malam dan makan malam
Sholat dan ngaji
Acara komunitas / pengembangan kapasitas / wisata kuliner
Acara bebas: piknik / beres-beres rumah / pengembangan kapasitas / wisata kuliner
19.00 – 20.00
Main bertiga

Acara komunitas / pengembangan kapasitas /
Acara bebas: piknik / beres-beres rumah / pengembangan kapasitas
20.00 – 22.00
Me time dan ngobrol dengan suami
Tidur
Tidur   

.      

        7. Pengamatan dan evaluasi mingguan