Sabtu, 25 Februari 2017

NHW#5 Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Belajar Menjadi Kebo Nusu Gudhel

Materi NHW#5 ini sangat menantang dan bertepatan dengan waktu kami menyusun Rencana Pokok Pembelajaran Keluarga AIR (Aji Iin Roetji) sebagai keluarga homeschooler. Saat ini, RPP tersebut sedang dalam proses penyusunan, sehingga materi NHW#5 ini bisa menjadi bahan yang tepat J
Kami membayangkan kalau design pembelajaran atau kami menyebutnya Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) Keluarga AIR akan menjadi semacam buku besar yang menjadi panduan bagi kami dalam melangkah sebagai keluarga, terutama dalam membersamai anak kami belajar, bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya seoptimal mungkin. RPP ini akan sangat khas, unik, berdasarkan kebutuhan kami dan menyesuaikan kondisi kami. Porsi terbesar adalah porsi pembelajaran pendidikan Roetji. Oleh karena kami memilih homeschooling sebagai cara kami memenuhi hak anak akan pendidikan yang terbaik untuknya, maka kami berkomitmen akan turut mendidik diri kami sebagai pribadi dan orangtua yang semakin baik pula. Kami ingin menjadi orangtua pembelajar yang mau dan bisa terus belajar agar pantas membersamai anak belajar.
Kami ingin menemani Roetji menyadari siapa dirinya sehingga bisa mencapai sesuatu yang dicita-citakannya meskipun cita-cita tsb, pada saat ia pilih / nyatakan, seolah-olah ‘terlalu tinggi’. Jika cita-citanya itu diibaratkan dalam peribahasa ‘Bagai pungguk merindukan bulan’ maka kami akan berusaha membantu dan menemani pungguk tersebut meraih bulannya. Kami akan bersama-sama menyiapkan pribadinya dan membangun alat yang tepat untuk meraih bulan tersebut. Bisa jadi kami akan mencoba berbagai cara, bisa dengan membangun tangga atau roket atau pun mesin waktu atau sesuatu yang saat ini belum mampu kami bayangkan.  Kami ingin mempunyai cukup waktu untuk menyusun itu semua, sehingga saat ini, ketika Roetji berumur 6 tahun, kami rasa merupakan waktu yang tepat untuk memulai.
Selama ini (0-6 tahun) kami memilih untuk menjadi pembaca ‘buku besar titipan Ilahi’ yang bernama Roetji Noor Soepono, sealami mungkin, dengan meminimalisir campur tangan orang lain (sekolah dan mainan pabrikan yang kurang melibatkan partisipasi anak). Kami memilih mengkondisikan buku besar ini apa adanya, tidak diedit dengan berlebihan supaya tidak bias. Kami memilih membersamai tahun-tahun awalnya dengan metode unschooling, tidak terstruktur, spontan dan menggunakan apa yang ada dan yang kami adakan semampu kami.
Sebagian kecil dari hasil sementara pembacaan kami atas ‘buku besar titipan Ilahi’ telah tertulis di NHW#3. Hasil pembacaan yang lebih utuhlah yang menjadi batu pijakan kami dalam menyusun RPP keluarga AIR. Sedangkan terkait dengan NHW#5 dan target belajar di Institut Ibu Profesional ini lebih untuk pengembangan kapasitas diri saya sebagai pribadi, istri dan ibu, maka tulisan ini akan lebih fokus pada proses saya dalam menyusun RPP keluarga AIR.
***
Jurusan ilmu yang saya pilih di universitas kehidupan ini adalah jurusan Ibu Profesional. Oleh karena itu saya akan belajar semua ilmu turunannya, baik yang terkait secara langsung atau pun tidak. Supaya saya tidak mengalami (lagi) kebingungan menentukan tujuan, jalur pembelajaran dan bahan-bahan pembelajaran yang perlu saya siapkan maka saya harus menyusun rencana pembelajaran yang lebih detil, aplikatif, khas kula sanget.
Sebagian tapaknya sudah tertulis di NHW#3, di RPP Keluarga AIR, dan sebagian lainnya masih diangan-angan alias baru dipikirkan. Namun demikian, saya tetap akan mencoba menyusun rencana belajar saya sebaik mungkin agar bisa saya praktekkan bersama keluarga dan menjadi kesempatan belajar menyusun rencana belajar anak kami.
‘Membuat BISA itu mudah, tapi membuat SUKA itu baru tantangan’. Saya setuju dan suka sekali dengan quote ini. Rasa suka itu bisa menjadi energi tersendiri yang adakalanya sangat besar untuk melakukan sesuatu, termasuk belajar.
Oleh karena itu, dalam menyusun rencana belajar saya, saya akan mencoba membedah diri saya sendiri untuk menuliskan tantangan-tantangan yang perlu saya atasi untuk mengubah BISA menjadi SUKA.  
1.       Membersamai anak nyaris sepanjang hari – menjadi ibu sepenuh hati, menjadi guru, menjadi fasilitator, menjadi teman
2.       Rutinitas pekerjaan rumah tangga – menjadi ibu rumah tangga yang cekatan, disiplin, pandai mengelola waktu dan pekerjaan, mengubah mind set pekerjaan rumah menjadi games, dll ;
3.       Berlama-lama ada di rumah – menjadi pribadi yang bisa berkarya produktif dan bermanfaat bagi banyak pihak dengan tetap menjadikan rumah sebagai ruang utama.

Belajar Membersamai Anak Nyaris Sepanjang Hari
Dalam ilmu ini saya, insyaAllah, berkomitmen dengan rencana belajar saya mempelajari tiga hal penting:
1.       Belajar hal yang berbeda
Dalam kesempatan belajar ini saya akan fokus mempelajari hal-hal yang dapat:
a.       Menguatkan iman –
Saya ingin membangun keluarga yang percaya terhadap Allah, Kitab, Rasul, Hari Kiamat dan Qada’ dan Qadar dengan imaji positif yang menggerakkan.
Prinsip yang saya pegang adalah Basmallah, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Saya ingin kami sekeluarga tumbuh menjadi pribadi yang lebih mudah mengapresiasi dan menerima hal baik yang dikaruniakan Allah dan mensyukurinya. Bagi saya pribadi, hal ini merupakan tantangan tersendiri, karena sejak kecil saya lebih sering diajari bahwa Allah itu mudah marah, sedikit-sedikit dosa, mengancam dengan azab, kalau sakit itu tanda Allah sedang menghukum kita, orangtua itu boleh mengancam anak akan durhaka jika tidak mau menuruti keinginan / saran orangtua dan bahwa kita sangat mudah masuk neraka. Ajaran bahwa Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang hanya menjadi hafalan dan teori, yang sering diucapkan saja. Tidak mendarah daging dalam setiap gerak dan ucapan kita. Hal ini membuat saya lebih mudah melihat sisi negatif orang lain atau pun keadaan, lebih mudah marah, dan kurang bersyukur atas semua hal baik yang saya alami. Bismillah, saya ingin mengubah cara pandang ini untuk menjadi pribadi yang beriman tanpa rasa takut, pribadi yang beriman dengan sepenuh cinta.

b.       Menumbuhkan karakter yang baik
Saya menyadari bahwa banyak kebiasaan saya yang kurang baik sehingga menjadi bagian dari karakter saya. Saya menyadari bahwa mengubah kebiasaan itu bukan perkara gampang. Oleh karena itu, saya akan belajar sepenuh hati, melibatkan suami dan anak dalam proses bersama untuk saling menumbuhkan dan membangun karakter yang baik.
Sejak membuat NHW#2, saya mulai membiasakan membuat cek list untuk membantu membangun kebiasaan baik. Meskipun saat ini cek list tersebut masih banyak yang bolong dan berantakan, saya akan belajar menerima dengan sepenuh hati, tidak banyak alasan untuk memaklumi atau pun memaafkan diri saya. Kemudian berusaha memperbaiki cek list dan aktivitas saya bersama keluarga.

c.       Menemukan passion (panggilan hati)
Saya akan lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca dan berdialog dengan diri saya sendiri. Juga akan lebih sering ngobrol santai dengan suami dan memintanya membantu saya membaca diri saya.
Semenjak tidak bekerja di luar rumah, saya merasa banyak hal yang berbeda dalam diri saya. Termasuk panggilan hati saya. Sebenarnya saya menyadari bahwa panggilan hati saya adalah berkerja di luar rumah. Namun demikian, karena kesepakatan dan komitmen kami sekeluarga untuk fokus mendidik anak di rumah dan membangun pondasi keluarga di tempat baru maka untuk beberapa tahun ini saya belum bisa berkarya di luar rumah dengan optimal. Oleh karena itu, saat ini kami masih mencari binar-binar di mata saya dan mengusahakannya lebih sering muncul kembali meskipun saya tidak bekerja di luar rumah.  Dalam upaya ini saya akan lebih intensif melibatkan suami dan anak kami karena mereka lah yang paling sering berinteraksi dengan saya dan insyaAllah mau jujur menyampaikan pendapat mereka.
Sementara ini saya merasa bahagia ketika saya bisa menuliskan pengalaman bermain dan belajar bersama Roetji,  menuliskan pemikiran-pemikiran saya dan angan-angan saya. Selain itu, suami saya melihat binar-binar di mata saya ketika saya menjadi fasilitator pertemuan orangtua homeschooling, baik formal maupun informal. Saya juga bersemangat ketika berdiskusi dengan orang-orang yang sevisi, terlebih ketika membahas tentang pengasuhan anak, homeschooling dan kebudayaan.

2.       Cara belajar yang berbeda
Sejak dulu saya mendidik diri menjadi pribadi yang kritis, tidak mudah percaya pada omongan orang dan senang mengajukan pertanyaan serta berdiskusi dengan banyak orang. Akan tetapi, semenjak saya memilih untuk (sementara) fokus di rumah, maka cara belajar yang seperti ini mengalami banyak perubahan.
Saya masih ingat ketika Roetji sedang belajar berbicara, pertanyaan yang paling sering ia kemukakan adalah “bagaimana”, baru kemudian pertanyaan “apa” dan “kenapa”. Sekarang, ia paling senang bertanya “kenapa?”
Saya dan suami berkomitmen untuk semakin mengembangkan rasa ingin tahu Roetji dan melatihnya agar berani dan terampil bertanya, serta menemaninya menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya dan memancingnya untuk mengajukan pertanyaan lagi dari jawaban yang ditemukannya. Begitu seterusnya sebagai siklus sampai ia merasa cukup puas akan pertanyaan dan jawabannya itu. Sebisa mungkin kami akan membiasakan Roetji menanyakan 5W (what, where, why, who, when) + 2H (how, howcame) dengan mengaktifkan panca indranya. Sebisa mungkin kami membiasakan diri untuk tetap berpikir dan bersikap kritis, terutama kepada hal-hal yang baru bisa kami dengar dan lihat, terutama yang kami dengar dan lihat dari ‘katanya’ media (massa atau pun sosial) dan orang lain.
Komitmen itu akan kami wujudkan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan saya membiasakan diri melakukan hal tersebut. Bukankah anak akan belajar lebih banyak dengan meniru apa yang dilakukan orangtuanya? J

3.       Semangat belajar yang berbeda
Semasa kecil sampai kuliah dan bekerja, saya dididik dan mendidik diri dengan mental kompetisi. Mental ini membuat saya terpacu, melawan diri saya dan orang lain. Semakin saya bertambah umur, saya menyadari bahwa semangat berkompetisi ini tidak selamanya bagus bagi diri saya, rasanya sungguh melelahkan. Seperti peribahasa “menang dadi areng, kalah dadi awu”.
Alhamdulillah, saya dipertemukan Allah dengan suami saya yang bermental kolaborasi dengan mengutamakan kompetensi. Rasanya lebih damai dan menyenangkan. Saat ini, saya sedang mendidik diri dan anak kami agar lebih mengutamakan memenuhi kompetensinya, berjuang agar diri ini hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari pada hari ini. Semangat berkompetisi lebih kami tekankan kepada berkompetisi dengan diri sendiri. Kami mempercayai prinsip yang diajarkan Ibu Septi Peni bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses. Capaian orang lain lebih kami pandang sebagai sarana untuk kami melakukan pengukuran, benchmark, atas kompetensi kami. Sebab kami tidak bisa benar-benar mengetahui bagaimana ia / mereka berproses untuk mencapai prestasinya tersebut.  
Dengan semangat yang sama pula, kami berkomitmen untuk menggunakan strategi meninggikan bukit, bukan meratakan lembah. Kami akan fokus untuk mengenali dan mengembangkan potensi kami, passion kami, agar kami dapat mencapai tujuan pembelajaran dan tujuan hidup kami. ‘Bukit dan lembah’ yang ada dalam diri kami menjadi modal dasar untuk berkolaborasi dengan orang lain yang mempunyai ‘bukit dan lembah’ mereka sendiri, sehingga menghasilkan ‘bentang alam’ yang lebih baik dan berharga. Untuk itu, kami juga berusaha agar Roetji bisa mengenal keberagaman sebagai Sunnatullah, sesuatu yang wajar, alamiah dan indah. Untuk itu, kami berusaha memaparkan banyak ragam fisik dan adat istiadat manusia, bentang alam dan ruang angkasa, serta budaya dunia kepada Roetji dengan berbagai cara yang sekiranya menarik untuk ia pelajari secara mandiri.
Roetji sudah bisa menulis ketika ia berumur 5 tahun. Ia juga senang menuliskan pengetahuan yang ia peroleh dari kami, buku yang ia baca, film / video yang ia tonton dan pendapat orang lain. Sering kali ia menyampaikan pendapatnya dalam bentuk gambar-gambar yang ada tulisannya, ada yang merupakan pemaparan dari satu tema tertentu dan kadang merupakan gabungan dari berbagai hal. Ia senang membuat cerita dan meminta saya mengetikkannya karena ia belum lancar mengetik. Saat ini ia baru bisa mengetik sekitar 1-2 paragraf pendek. Kami melihat bahwa Roetji mewarisi salah satu passion kami: menulis. Oleh karena itu, kami bersepakat untuk terus mengembangkan ketertarikan Roetji untuk menulis menjadi salah satu minat dan hobinya. Karena kami yakin menulis merupakan salah satu keterampilan dan seni yang dapat membantu kita menstrukturkan gagasan dan pendapat, memilih dan mengolah kata yang tepat, dan melatih berkomunikasi dengan orang lain yang tidak bertatap muka dengan kita. Supaya kami bisa optimal mendampingi Roetji belajar menulis, maka saya juga harus rajin menulis dan belajar ilmu menulis. Bismillah, saya berkomitmen untuk lebih rajin menuliskan proses pembelajaran keluarga kami di blog keluarga AIR.
Selain menulis, Roetji sepertinya juga mewarisi salah satu passion orangtuanya untuk berbagi dengan orang lain melalui cerita / presentasi. Saat ini ia sudah berani dan bisa bercerita / berpendapat di depan banyak orang yang tidak ia kenal dengan baik. Ia sudah dua kali presentasi di depan komunitas teman sebaya dan orang dewasa: di kemah Kampung Komunitas Indonesia (Kamtasia), Salatiga dan di pertemuan keluarga homeschoolers Koprol Solo dan PKBM Saung Impian Matahari di Tawangmangu. Di Salatiga dan di Tawangmangu, Roetji presentasi tentang belalang yang ia tangkap di area kemah dan menjelaskannya dengan dibantu Bapak e menggunakan mikroskop digital. Di Tawangmangu, Roetji juga presentasi tentang sampah dan pengelolaannya, setelah ia ikut berkunjung di tempat pengelolaan sampah organik dan menonton film tentang sampah. Bagi kami, ini modal dasar yang perlu kami bantu fasilitasi agar berkembang dengan lebih tepat, lebih baik, dan lebih bermanfaat. Kami juga melihat presentasi ini merupakan salah satu cara Roetji untuk belajar. Dengan presentasi ia belajar menyusun pikirannya dengan runut, memilih bahasa dan alat yang tepat, berani mengungkapkan pendapatnya di depan (banyak) orang selain keluarganya, dan menerima respon / pendapat orang lain akan dirinya. Roetji juga jadi belajar adab berada di forum besar, menjadi pendengar dan pembicara yang baik.

Dengan menyadari passion kami sebagai salah satu modal dasar untuk mencapai tujuan hidup maka kami berkomitmen bisa memfasilitasi dan membersamai Roetji mengenali dan mengembangkan passionnya dengan optimal. Kami akan mengembangkan budaya ngobrol keluarga kami dengan diskusi-diskusi kecil yang bisa melibatkan Roetji sehingga Roetji terbiasa mengetahui dan menghargai perbedaan pendapat dan mampu mempertahankan pendapat yang ia yakini benar dengan baik dan sopan. Selain itu, kami juga akan melengkapi koleksi perpustakaan keluarga dengan buku-buku dan video yang bergizi dan perlu, melengkapi peralatan audio visual kami, melengkapi peralatan uji coba science secara mandiri, menyiapkan fasilitas internet yang aman, termasuk melatih Roetji menggunakan teknologi dengan baik dan bertanggungjawab, serta menyiapkan laptop / komputer yang sesuai kebutuhan belajar Roetji pada waktunya nanti. Kami berencana membuka rumah kami menjadi ruang baca dan ruang menonton bagi tetangga sekitar, dengan melibatkan Roetji secara optimal. Kami juga akan membuat forum anak di rumah keluarga anggota komunitas Koprol Solo sebagai sarana bagi Roetji dan teman-temannya belajar mempresentasikan ide dan karya mereka, dan anak-anak belajar menerima respon orang lain. Selain itu, forum ini bisa menjadi sarana belajar bagi orang dewasa untuk menerima dan menghargai anak sebagai pribadi yang utuh.
Kami berharap dengan cara ini Roetji dapat mengembangkan kebiasaan dan pola belajarnya selama ini yang berangkat dari ketertarikannya, rasa ingin tahunya, dengan mengoptimalkan sumberdaya yang kami miliki. Kami akan berusaha mendampinginya menemukan alat atau bahan belajar yang diperlukannya agar ia dapat terus mengembangkan siklus pertanyaan-jawabannya dengan caranya sendiri. Semoga dengan cara ini Roetji dapat tumbuh menjadi pribadi pembelajar yang mandiri dan bertanggungjawab sehingga dapat memenuhi harapan kami Roetji bisa mengenal dirinya dengan lebih baik dan lebih dini. Kami berharap ketika ia berumur 10 tahun, kami sudah mengetahui minat dan bakat Roetji yang paling ingin dan perlu ia kembangkan dan dalami. Sehingga kami dapat membantu memfasilitasinya dengan baik dan tepat sesuai fitrah kami. Dengan demikian, ia akan siap menjadi pribadi akil baligh yang sesuai fitrahnya, tepat pada waktunya (15 tahun). Menjadi pribadi yang merdeka, tahu pasti tujuan hidup dan cita-citanya, sehingga siap mencapainya dengan bahagia dan bertanggungjawab.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa proses pembelajaran kami sekeluarga akan menjadi proses mencapai tujuan jika dapat kami pantau dengan baik. Salah satu alat untuk memantaunya adalah tulisan, dokumentasi proses kami. Dokumentasi ini akan menjadi bahan untuk melakukan refleksi dan menyusun aksi selanjutnya.
Oleh karena itu, saya berkomitmen akan lebih rajin menuliskan proses pembelajaran kami dalam buku besar keluarga dan membagi sebagian diantaranya, yang sekiranya bermanfaat bagi orang lain dan bukan hal privat kami, di blog keluargaAIR yang telah saya buat. Saya juga akan belajar mengelola blog tersebut dengan lebih baik dan menarik, sehingga selain menjadi rekam digital proses pembelajaran kami, juga bisa menjadi salah satu upaya saya memperoleh penghasilan dari rumah J
Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas saya sebagai ibu yang senantiasa membersamai anak, maka saya akan belajar beberapa hal sebagai berikut:
a.       Al Qur’an, terjemah, dan tafsirnya – sebisa mungkin secara rutin dan insidental ketika ada kesempatan yang tepat.
b.       Hadits-hadits Nabi, terutama yang berkaitan dengan keluarga, pengasuhan anak dan muamalah.
c.       Buku-buku parenting – baik yang berbasis agama Islam dan umum
d.       Buku-buku keterampilan – menulis, mengelola blog, membuat video dan foto, percobaan science sederhana yang dapat dilakukan di rumah
e.       Mengikuti pelatihan (online dan offline) terkait parenting, dan keterampilan yang kami butuhkan
f.        Mencari dan menjalin silaturahmi dengan para ahli di bidang yang menjadi minat / passion kami, terutama Roetji
g.       Mencari tempat, acara / kegiatan yang sekiranya bisa meningkatkan kapasitas kami dengan baik dan tepat.


Rutinitas pekerjaan rumah tangga – menjadi ibu rumah tangga yang cekatan, disiplin, pandai mengelola waktu dan pekerjaan, mengubah mind set pekerjaan rumah menjadi games, dll ;
Dalam upaya saya belajar melakukan pekerjaan rumah tangga, saya berkomitmen akan belajar membagi waktu, menyusun dan menepati to do list yang telah saya buat, mengisi cek list dengan benar dan rapi, melatih anak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga secara bertahap sesuai kesiapannya, tidak mudah mengeluh dan berusaha menikmati pekerjaan rumah tangga, melatih keterampilan membagi pekerjaan, dan membangun rasa percaya kepada orang lain yang membantu pekerjaan saya. Saya juga berkomitmen untuk mengatur penggunaan gadget di waktu luang, sehingga tidak menjadi jebakan yang melenakan.
Untuk menambah ilmu terkait hal ini maka saya akan membaca buku Marie Kondo dan buku-buku / blog lain tentang pengorganisasian rumah, belajar dari Ibu dan mertua saya, dan belajar dari pembantu rumah tangga di rumah ibu saya yang sedemikian pintar membagi waktu kerjanya. Saya juga akan menabung untuk membuat / membeli alat-alat rumah tangga yang sekiranya bisa memudahkan saya melakukan rutinitas di rumah.

Berlama-lama ada di rumah – menjadi pribadi yang bisa berkarya produktif dan bermanfaat bagi banyak pihak dengan tetap menjadikan rumah sebagai ruang utama.
Saya berharap rumah kami akan menjadi rumah yang produktif dengan karya-karya yang dapat menjadi alternatif jalan rezeki bagi keluarga kami dan tetangga sekitar. Rumah kami juga menjadi rumah yang menumbuhkan pribadi kami, terutama Roetji.
Oleh karena itu, saya akan belajar ilmu yang berkaitan dengan perdagangan dan pemasaran online, memproduksi barang / jasa yang bisa dijual online, dan mengelola blog / website keluarga AIR sehingga menjadi blog / website yang bisa menginspirasi banyak orang dan menghasilkan uang bagi kami. Selain itu, saya juga akan belajar mengelola perpustakaan dan bioskop komunitas, literasi media, dan ilmu membuat video pendek. Saya juga akan melatih kembali kemampuan presentasi dan menulis saya sehingga saya bisa menyampaikan pendapat saya, secara langsung dan tidak langsung, dengan lebih tepat dan padat.aka saya akan membaca buku Marie Kondo dan buku-buku / blog lain tentang pengorganisasian rumah, belajar dari Ibu dan mertua saya, dan belajar dari pembantu rumah tangga di rumah ibu saya yang sedemikian pintar membagi waktu kerjanya. Saya juga akan menabung untuk membuat / membeli alat-alat rumah tangga yang sekiranya bisa memudahkan saya melakukan rutinitas di rumah.


Sabtu, 18 Februari 2017

Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah

NHW#4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah
Sewaktu saya mengerjakan tugas NHW#4 ini, kami sekeluarga sedang berproses menyusun Rencana Pokok Pembelajaran dalam kami menjalani homeschooling. Saya merasa bahwa Allah sedang mengirim serombongan guru dan segepok ilmu yang bisa menjadi mitra kami dalam belajar dan berkarya. Ilmu yang saya peroleh dari NHW#1 sampai NHW#4 ini menjadi salah satu bahan kami dalam menyusun RPP ala keluarga kami. Kami mengusahakan RPP itu kami susun sedemikian rupa agar bisa sesuai fitrah kami sebagai orangtua dan juga bisa menjadi pijakan kami menemani Roetji bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya dengan optimal.
Adapun tugas NHH#4 Institute Ibu Profesional sebagai berikut:
Tugas NHW#4 Institute Ibu Profesional
Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.
a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?
b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.
b.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Contoh : 
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
Misi Hidup : memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator
c. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang
d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya. 
Milestone yang ditetapkan oleh ibu tersebut adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha
e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan
Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup Ibu Septi Peni, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini.
Sekarang buatlah sejarah anda sendiri.
Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.

Agar pembahasan dalam NHW#4 ini terfokus dan terstruktur maka saya memilih untuk menuliskannya sesuai contoh yang disampaikan dalam narasi penugasan.
a. Saya merasa mantap untuk tetap belajar menjadi Ibu Profesional.
b. Saya menyadari check list yang saya buat kurang detil sehingga kurang operasional. Selain itu, saya belum tertib mengisi check list tsb. Dari beberapa hal yang tercantum dalam daftar tsb, yang paling saya tepati adalah sebagai Ibu lebih sering masak, baik makanan berat atau pun camilan, terutama untuk Roetji.  Dalam dua minggu ini, nyaris setiap hari saya dan R membuat camilan, terutama berupa yogurt buah. Insyaallah ke depan saya akan berusaha mengoptimalkan peralatan dan kesempatan yang ada untuk lebih rajin mencoba berbagai resep snack / camilan.
Sedangkan bagian chek list yang sulit saya isi adalah bagian yang lebih santai menjalani hidup dan tidak mudah marah. Saya merasa sudah berusaha untuk lebih santai dan mengurangi marah-marah, namun tidak bisa mengetahui dengan cukup pasti apakah benar saya sudah begitu atau belum. Hal ini karena indikator capaiannya tidak jelas.
Dari proses selama ini, saya jadi memahami bahwa check list seharusnya dibuat seoperasional dan sedetil mungkin.
c. Setelah membaca kembali NHW#3 untuk kesekian kalinya, saya semakin mantap bahwa peran saya adalah menjadi perempuan yang senang berbagi dengan orang lain, terutama terkait hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas pribadi (sebagai orangtua) dan pendidikan anak kami. Sementara ini saya menyadari bahwa peran saya lebih sebagai fasilitator dalam upaya-upaya pengembangan kedua hal tersebut. Misi hidup saya : menjadi fasilitator pengembangan pribadi dan pendidikan anak. Bidang: Ibu dan anak. Peran: fasilitator.
d. Berangkat dari ketiga tahapan tersebut, saya memutuskan akan belajar menjadi Ibu Profesional bersama Institute Ibu Profesional sesuai dengan tahapan pembelajaran yang telah disusun. Tahapan ilmu yang harus saya kuasai sebagai berikut :
1. Bunda Sayang : ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial, dll
4. Bunda Shaleha : ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang
e. Oleh karena saya merasa perlu bisa menguasai ilmu tersebut ketika saya berumur 40 tahun, maka saya memutuskan akan berusaha keras dalam 3 tahun ini. Oleh karena itu, agar bisa memenuhi 10.000 jam terbang, Bismillah, saya akan mendedikasikan diri saya 10 jam setiap hari untuk belajar dan berkarya bersama anak kami. Termasuk di dalamnya upaya-upaya kami untuk mencari ilmu, mempraktekkannya dan menuliskannya. Dalam proses ini juga akan melibatkan suami saya yang juga Bapak dari anak kami, sehingga proses kami ini akan menjadi proses yang utuh bagi kami sekeluarga. Adapun pijakan yang saya susun untuk menguasai ilmu tersebut:
KM 0 – KM 1 (tahun 1) : menguasai ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2) : menguasai ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3) : menguasai ilmu seputar Bunda Produktif dan Bunda Shaleha
Saya berharap dengan pijakan tersebut saya bisa mantap menguasai ilmu seputar Bunda Sayang dan Bunda Cekatan sebagai pijakan dasar dalam menjalani peran kehidupan saya. Terlebih karena pengetahuan saya tentang ilmu seputar kedua bidang tersebut selama ini masih sangat terbatas. Sedangkan pengalaman saya dalam berorganisasi dan bekerja sejak sebelum menikah insyaAllah bisa menjadi bekal untuk melakukan percepatan usaha menguasai ilmu seputar Bunda Produktif dan Bunda Shaleha. Saya berharap bisa menjadi pribadi shaleha yang sekaligus bermakna dan bermanfaat bagi orang lain / masyarakat.
f. Saya menyadari bahwa check list yang saya susun di NHW#2 masih kurang jelas, kurang bisa diaplikasikan. Oleh karena itu, saya telah memperbaiki check list tersebut dengan membuat check list yang lebih operasional dan terukur. Namun demikian, karena check list tersebut bersifat sangat pribadi, saya merasa tidak nyaman untuk menuliskannya di sini.
g. Bismillah, check list tersebut saya pasang di kamar tidur keluarga kami, sehingga kami akan bisa saling mengingatkan dengan kasih sayang untuk MELAKUKAN yang tertulis di situ dengan konsisten dan mengisinya dengan jujur dan tertib. 

Sabtu, 11 Februari 2017

Belajar Mengenali Empat Jari yang Menuding Diri Sendiri

NHW#3 Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Rupanya sudah 3 pekan saya mengikuti matrikulasi Institute Ibu Profesional. Alhamdulillah, manfaat nyata mulai saya rasakan. Diantaranya belajar konsisten mengisi check list yang saya buat di minggu kemarin. Meski masih bolong-bolong (yang artinya saya harus mengulang lagi) namun saya mulai melihat alur dan pola yang sedang saya susun. Suatu hal yang kemarin sempat menghilang, sehingga saya merasa berputar-putar di labirin dengan tujuan yang masih entah berada di mana. Ketika mengikuti matrikulasi ini, saya merasa seperti dititipi lensa pembesar, yang membantu saya untuk membaca dan menyusun langkah saya. Nah, ketika lensa pembesar ini sudah di tangan saya, saya lah yang memegang kendali atas lensa pembesar ini, akan saya bawa ke jalan yang semestinya, atau melenceng tak tentu arah, atau justru berdiam di tempat bersama saya. Kerennya lensa pembesar ini dititipkan tidak secara utuh, namun perlahan, bertingkat, seperti menyusun puzzle. Keping pertama dan kedua, sudah saya peroleh minggu lalu, sekarang saatnya menyusun keping ketiga. Dan, tantangan di keping ketiga ini sungguh asyik dan romantis J
Alhamdulillah sekarang saya sedang ditugasi Allah untuk berusaha menjadi pribadi utuh di tengah keluarga yang utuh dan komunitas yang baik. Dengan demikian, dalam penugasan NHW#3 ini, tugas yang harus saya penuhi adalah menyusun jawaban atas:
a.       Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.       Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c.       Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda, kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.
d.       Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan di sini?
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini. Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework#3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.
***
Sungguh tantangan yang romantis bukan? Romantis dengan makna yang lebih dalam dari sekedar rayuan indah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Romantis dengan makna yang harus dicari dengan menengok ke dalam pikiran dan hati diri ini, pasangan, anak dan lingkungan sekitar.  
Terkait dengan surat cinta, saya jadi ingat pengalaman ketika mengerjakan ujian semester mata kuliah Antropologi Visual ketika saya berusaha menempuh S2 Antropologi di UGM dulu. Profesor PM Laksono, salah satu dosen favorit kami, memberi tugas ujian akhir semester mata kuliah Antropologi Visual berupa surat cinta untuk pasangan. Surat yang sangat spesial karena dibuat dengan ketentuan: maksimal 5 halaman (jika lebih dari 5 halaman maka nilai akan dikurangi), berisi pemahaman mahasiswa atas mata kuliah tsb selama ini, mengacu pada minimal 30 referensi yang sebagian besar diantaranya adalah bahan bacaan selama perkuliahan. Sungguh tugas akhir semester yang paling bikin kalangkabut kami sekelas. Alhamdulillah, waktu pengerjaan tugas ini berdekatan dengan rencana pernikahan saya dengan calon suami pilihan, sehingga saya mengerjakan tugas ini dengan sepenuh hati dan dapat nilai A J

Nah, tantangan NHW#3 ini saya pikir jauh lebih serius dari pada tugas semesteran tsb. Tantangan kali ini berurusan dengan keluarga kecil kami, menjadi bagian dari upaya terbaik untuk terus memantaskan diri menjadi keluarga terbaik yang kami mampu.
Sewaktu saya menulis surat cinta ini, di sepertiga akhir malam ini, suami saya sedang sibuk mengoreksi tugas-tugas mahasiswanya. Dan Roetji tidur pulas di sisi kami.
Suamiku yang super santai, bapak e Roetji yang lucu..
Alhamdulillah, Allah menakdirkan kita berjodoh setelah memberi kita ujian yang cukup lama dan seru. Ujian yang membuat kita sempat saling belajar memahami satu sama lain, ujian yang memberi kita kesempatan untuk mulai mengenal calon ibu mertua kita (ctt: karena bapak kami berdua sudah dalam perjalanan menuju surga, amin) dan keluarga besar kita. Sekarang kita sering kali menertawakan masa-masa ujian itu sebagai bagian pendewasaan diri kita.
Alhamdulillah, kita bisa melewati ujian itu untuk bersatu dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Sempat aku mengira setelah melewati masa-masa ujian itu, kita sudah cukup saling mengenal sehingga setelah menikah, kita akan mudah saling menyesuaikan diri. Namun ternyata, setelah kita menikah, masih saja banyak perbedaan yang kadang membuat kita berdebat ringan sampai bertengkar hebat. Sering kali pertengkaran kecil itu disebabkan hal-hal yang menurutmu sepele namun bagiku penting. Acapkali suamiku yang meminta maaf duluan, bahkan ketika aku yang memancing pertengkaran itu. Maafkan aku ya..
Suamiku yang selalu saja kurus meskipun makannya lebih banyak dari pada aku, terima kasih ya atas semua pujianmu atas masakan-masakanku yang ala kadarnya. Jauh dari keahlian ibu-ibu kita, yang keduanya pintar masak dan punya bisnis catering. Pujianmu membesarkan hatiku untuk terus berusaha mencoba beragam masakan. Sesekali protesmu mencambukku, agar lebih disiplin mengikuti resep sehingga masakan yang tersaji tidak berbeda jauh dengan bayanganmu. Sesekali teguranmu mengingatkanku agar lebih berhati-hati dalam berbelanja dan memasak, supaya tidak banyak bahan pangan yang mubadzir.
Suamiku yang mengerti kondisiku, terima kasih ya karena tidak pernah protes ketika mengetahui aku tidur siang di rumah dan tidak pernah membangunkanku di tengah malam untuk sekedar minta membuatkan kopi / teh teman lemburmu. Namun tetap bersedia bangun untuk sekedar menemaniku menyetrika baju-baju kita. Terima kasih banyak atas kesadaranmu dan kesedianmu turut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang seringkali dianggap sebagian orang sebagai pekerjaan perempuan.
Suamiku yang super santai, terima kasih ya atas kesabaranmu ketika pulang kantor mendapati rumah seperti kapal pecah. Bukan amarah yang kamu tampilkan, justru senyuman dan pertanyaan akan aktivitas kami hari ini. Ya, aktivitasku dan Roetji. Dengan pertanyaanmu ini, aku merasa dihargai, disayangi, sebagai diriku dan istrimu, bukan hanya karena aku ibu dari anakmu. Terima kasih...
Suamiku yang seniman, terima kasih ya atas rumah kecil yang kita huni sekarang. Rumah kecil yang kamu desain dengan seleramu, kreativitasmu dan perjuanganmu dan tentu saja mengakomodir pertimbangan-pertimbangan sok ilmiahku. Rumah kecil yang unik dengan berbagai bahan bangunan, sehingga nyaris semua ragam bahan bangunan ada contohnya di sini. Rumah kecil yang cantik dan insyaAllah akan semakin cantik dengan campur tangan kreativitas Roetji. Semoga menjadi rumah surga di dunia, salah satu tempat kita membangun jalan kita bersama menuju surgaNya di akherat kelak.
Suamiku guruku, terima kasih ya telah mengajariku dan mendukungku untuk berusaha menjadi pribadi yang berusaha meningkatkan kemampuan diri, agar bisa berkolaborasi bukan berkompetisi. Semoga kita bisa bersama kuliah lagi, ke luar negeri, mengajak Roetji mengenal karunia Ilahi.
Ah, ingin rasanya kutuliskan semua rasa yang ada di hati ini, namun, maafkan aku, tidak mampu menuliskan semua detil rasa terima kasihku kepadamu dalam kesempatan ini. Aku terlalu malu untuk menuliskannya, namun aku yakin kita saling menyayangi karena Allah. Terima kasih suamiku, kita terus dan akan terus bertumbuh bersama dalam keluarga yang senantiasa mencoba berpegang teguh pada tali-tali Allah dan Rasulullah. Semoga kita bisa mencapai tujuan kita, menjadi diri pribadi dan orangtua yang sesuai fitrah, yang pantas membersamai anak-anak kita berkembang dan bertumbuh sesuai fitrahnya dengan optimal.
Semoga ini menjadi sebagian contoh baik yang ditiru dan dikembangkan oleh Roetji (dan adiknya nanti), sehingga mereka tumbuh menjadi pria/perempuan yang mencintai dirinya, bertanggungjawab dan menyayangi serta menghargai istri/suaminya sepenuh hati, menjadi Bapak yang menyayangi dan disayangi cucu-cucu kita, menjadi pribadi unggulan yang bermanfaat bagi semesta. Tentu dalam jalur yang dibenarkan Allah, Rasulullah, negara, masyarakat, dan keluarganya, dalam naungan kasih dan sayang Allah SWT.
Respon suami saya:
Aku tersentak, aku terhenyak, betapa istriku mengagumi kesantaianku dan kekreatifanku. Itu semua sebetulnya kado untuk istriku, karena istriku biasanya tegang terus, diajak santai nggak mau, ahh..
Setelah membaca NHW#3 ini, aku ingin rumah kami agak lebih santai tapi lebih terstruktur juga sih. Maaf ya belum bisa terstruktur, terlalu santai.. Gitu deh..
Makasih sayang... *ketjoep
****
Sewaktu Roetji berumur 3 tahun, kami pernah mengajak Roetji berkenalan dengan sekolah, PAUD kampung di kampung ibu saya. Waktu itu kami belum tahu apapun tentang homeschooling, dan menganggap bahwa sekolah merupakan satu-satunya cara mendidik dan mengajari anak. Namun ternyata, seiring waktu, kami merasa Roetji tidak cocok dengan cara belajar di PAUD itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak meneruskan upaya kenalan dengan sekolah ini. Alhamdulillah, kami dipertemukanNya dengan konsep homeschooling, yang kemudian terus kami pelajari sampai akhirnya kami mantap untuk memilih belajar di rumah sebagai cara kami belajar bersama. Homeschooling atau belajar di rumah memberi kami lebih banyak kesempatan untuk lebih mengenal Roetji, dan juga mengenal kami. Sejak memutuskan ini, kami merasa yakin Allah memberi kami kesempatan untuk membuka dan membaca buku besarNya yang dititipkanNya kepada kami dengan seksama dan bertumbuh. Buku besar itu bernama Roetji Noor Soepono, anak semata wayang kami (saat ini). Buku besar yang selalu siap setiap hari, dan saya baca nyaris sepanjang hari, setiap hari. Sedangkan Bapak e tentu tidak membersamai secara fisik ketika beliau harus menjalankan kewajibannya yang lain (bekerja). Banyak ilmu yang kami peroleh dari buku besar kami, banyak pula yang masih disembunyikanNya dan perlu kami pelajari bersama seoptimal kemampuan kami.
Sekarang buku besar kami berumur 6 tahun 2 bulan. Jika semua pengamatan kami tuliskan, wah, sepertinya akan sangat panjaaang.. Jadi tulisan ini hanya sebagian kecil, yang saya anggap pantas untuk dibagikan, dan semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya J
Sejak kecil kemampuan motorik kasar Roetji sangat kuat. Ketika belajar berjalan dengan ditetah, ia tidak mau jalan setapak demi setapak, namun minta berlari mengejar bola. Akhirnya ia bisa berjalan ketika berpegangan pada tongkat almarhum kakeknya. Roetji sangat aktif bergerak: lari, koprol, guling-guling, panjat-panjat, meniti, dll, namun sangat jarang jatuh. Sampai sekarang, sepertinya ia baru mengalami 5 kali lecet di kaki, 2 kali lecet di siku,  dan 2 kali benjut keningnya.
Roetji juga terampil dalam motorik halus. Ia bisa meniru kami membuat pesawat kertas dan kapal kertas ketika ia belum genap 3 tahun, dengan bentuk yang cukup rapi dan presisi. Roetji bisa mengaduk adonan kue dengan mixer tanpa tumpah ketika ia berumur 3 tahun sampai sekarang. Roetji mulai belajar memotong bahan masakan dengan menggunakan pisau dapur ketika usianya belum genap  4 tahun, dan alhamdulillah, tidak pernah jarinya terkena pisau. Ia mampu menggunting kertas membentuk huruf A, B, O, R, ... dengan benar, termasuk membuat lubang-lubangnya, tanpa merusak kertas tsb. Sepertinya cara ini yang membuat Roetji mengenal dan memahami huruf. Selain itu, saya cukup rajin membacakan buku-buku dan menantang Roetji agar bisa membaca berbagai buku yang kami punya. Kami pun membebaskan Roetji untuk membaca dengan berbagai posisi: duduk tenang, jongkok, lari-larian, tiduran, atau bahkan koprol. Akhirnya Roetji jadi bisa membaca dan menulis tanpa perlu saya bimbing dengan menggunakan buku-buku / LKS untuk anak PAUD / TK. Ketika Roetji hampir 5 tahun, ia sudah terampil membaca dan mulai bisa menulis. Sekarang, Roetji bisa membaca tanpa bersuara (dibatin), dan ia bisa tertawa terbahak-bahak setelah membaca kalimat yang dianggapnya lucu J
Selain itu, sejak umur 2 tahunan, Roetji sudah memperlihatkan bakat menggambar, darah seni yang mengalir dari keluarga Bapak e. Ia bisa menggambar realis, dan seiring waktu, semakin mirip dengan benda asli yang digambarnya. Bahkan ia bisa menggambar dalam berbagai perspektif, tampak atas, tampak depan, tampak samping. Roetji juga mempunyai daya imajinasi yang tinggi. Ketika ia belum lancar berbicara, ia bisa mengenali logo Superindo sebagai singa. Ia bisa membuat pelangi dengan air yang disemprotkannya dari alat penyemprot tanaman yang diarahkannya ke matahari setelah ia membaca buku tentang hujan, matahari dan pelangi. Ia bisa bermain bayangan dengan seru, membuat gambar bagian-bagian mesin cuci meskipun ia sama sekali belum pernah melihat gambar-gambar itu, bermain cahaya, menyusun lego blok menjadi bentuk-bentuk tertentu yang bisa dipahami orang lain, dll.
Indra pengecap Roetji dan selera makannya juga cukup bagus. Roetji juga bisa membayangkan rasa makanan / minuman yang sedang kami racik dengan memperhatikan bahan-bahan yang kami gunakan. Misalnya, kemarin kami membuat yogurt buah. Ketika akan membuat yogurt pisang buah naga, Roetji minta membuat dengan komposisi yogurt : pisang : buah naga = 1 : 1 : 0,5. Namun saya tidak menurutinya, memilih membuat dengan komposisi 1 : 2 : 0,5. Alhasil, setelah jadi, Roetji berkomentar bahwa yogurt buah naga ini rasanya terlalu dominan rasa pisang, jika menggunakan satu pisang saja seperti sarannya, rasanya akan pas J
Sejak Roetji mengenal fungsi kamera (HP mau pun DSLR), Roetji sangat tertarik dengan fotografi (dasar) dan video. Karya-karya fotonya, menurut Bapak e yang juga hobi fotografi, cukup bagus untuk anak-anak seusianya, terutama dalam hal pemilihan angle dan komposisi. Roetji pun sangat senang menonton youtube, seperti lazimnya anak-anak sekarang. Tontonan tersebut menjadi bahan pelajarannya, ia bisa sangat lancar menirukan dan menceritakan kembali apa yang ia tonton, menemukan inti pesan dari tontonan tersebut, membandingkannya dengan film / buku lain tentang isi tontonan itu.
Selain itu, Roetji juga termasuk anak yang cukup perfeksionis dan detil. Ketika ia menyusun balok-balok lego menjadi bentuk tertentu, kemudian tidak sengaja karya tsb rusak dan kemudian saya / bapak e susun ulang, ia bisa mengetahui posisi lego yang tidak persis sesuai aslinya. Jadi kami harus memfoto setiap karyanya, agar jika tidak sengaja rusak, kami bisa menyusun ulang dengan persis sama. Ia juga bisa mengedit ketikan saya ketika ia mendikte saya mengetikkan dongeng atau pun ceritanya atau pun hafalannya. Pernah ia menghafal naskah film Maha Guru Merapi, yang berdurasi 25 menit, kira-kira sekitar 4 halaman kertas A4. Ia meminta kami (saya dan Bapak e) menuliskan hafalannya tersebut (tulisan tangan). Setelah selesai, ia baca dengan teliti huruf per huruf, dan setiap tanda baca. Tidak boleh ada kesalahan satu huruf pun.
Roetji juga anak yang mudah merasa cukup dengan apa yang dia miliki. Ia nyaris tidak pernah minta dibelikan mainan, apalagi sampai tantrum, ketika kami berbelanja di pasar atau pun supermarket. Ia paham kalau membeli mainan harus di toko mainan, dan cukup satu mainan untuk beberapa waktu. Suatu saat, ia pernah meminjam HP saya, untuk memotret helicopter remote control di toko A, katanya ia mau membandingkan harga mainan itu dengan di toko B. Nanti jika uangnya sudah cukup, ia akan membeli di toko yang harganya lebih murah. Roetji juga pernah memarahi saya karena saya membeli tas lagi, padahal tas yang saya punya masih bisa dipakai. Katanya: “Ibu, sekarang ibu punya berapa tas? Tas yang kemarin masih bisa dipakai kan? Kenapa ibu beli lagi? Kan kasihan dengan orang lain, jadi tidak bisa beli tas. Bapak kemarin beli tas karena tas yang biasa dipakai bapak rusak, bisakan?” Ah, rasanya saya punya akuntan pribadi yang galaknya minta ampun J
Saat ini, Roetji berumur 6 tahun 2 bulan, buku besar kami ini sedang lebih banyak menampilkan dirinya yang senang mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan pendapatnya, baik secara personal atau pun di forum besar (di depan banyak orang lain yang tidak dikenalnya dengan baik). Roetji juga tidak takut menyapa orang yang baru dikenalnya (terutama orang dewasa) dan akhir-akhir ini sudah cukup terampil memulai percakapan dan bermain bersama dengan teman sebayanya. Roetji juga sudah mau berbagi, bahkan berinisiatif untuk berbagi tanpa diminta / disuruh (ctt: konsep berbagi sengaja kami latih setelah ia memahami konsep kepemilikan). Sebuah ketrampilan dasar yang sempat menjadi kekhawatiran keluarga besar kami karena ketika balita Roetji tidak mau berbagi J
Roetji senang sekali membaca, mengamati dan melakukan percobaan sesuai keinginan dan pengetahuannya. Sepertinya kemampuannya ini berkorelasi dengan pilihan kami untuk meminimalisir mainan pabrikan, dan melimpahinya dengan buku-buku serta membebaskannya menggunakan (nyaris) semua benda yang ada di rumah kami sebagai mainannya. Cara Roetji membaca juga cukup unik. Ia bisa membaca dari depan, samping atau pun atas. Ia sering kali membaca satu tema tertentu dari beberapa buku sekaligus, ia bandingkan satu persatu. Misalnya, ketika ia membaca buku tentang sifat-sifat mulia yang diajarkan Al Qur’an, ia akan mengambil Al Qur’an dan meminta saya membacakan ayat Qur’an yang sedang diceritakan itu.
Roetji anak yang sangat kreatif. Ia (nyaris) tidak mau membuat karya yang sama persis dengan petunjuk (kecuali membuat robot di tempat lesnya, yang akhir-akhir ini sedang menjadi fokus kami). Karya-karyanya dan pendapat-pendapatnya selalu unik, orisinil, namun logis dan bisa diterima. Ia bisa mengajukan argumen yang tepat untuk mendukung kreativitasnya itu. Ia bisa membuat karya dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Ia bisa menyusun pertanyaan dan pendapatnya dari berbagai sumber yang pernah berinteraksi dengannya, baik itu berupa buku, video / film / musik di TV / youtube / bioskop, maupun omongan orang dewasa di sekitarnya.
Selain itu, Roetji juga tampak tertarik pada bahasa. Ia menikmati bahasa yang beragam. Sejak kecil, kami melatih dan membiasakannya berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Jawa krama madya, seperti yang lazim kami gunakan dalam keluarga besar saya. Ketika ia berumur hampir 5 tahun, Roetji mulai bisa memahami ketika ada yang berkomunikasi cukup panjang dengannya dalam Bahasa Indonesia, namun ia jawab dalam Bahasa Jawa. Setelah Roetji bisa membaca buku dan senang menonton video / film di TV dan Youtube, sejak umur 5 tahun sampai sekarang, Roetji hanya mau bercakap dalam Bahasa Indonesia, meskipun kami tetap mengajaknya bercakap dalam Bahasa Jawa. Akhir-akhir ini, Roetji juga senang meminta namanya dituliskan dalam beragam bahasa dunia: Arab, Inggris, Rusia, Jepang, Cina. Alhamdulillah, sekarang sudah ada google translate J Namun demikian, khusus belajar Bahasa Inggris, saya mengajak Roetji belajar menggunakan kamus Indonesia – Inggris ketika kami membaca buku berbahasa Inggris. Selain itu, ketika Roetji membaca sendiri buku-bukunya yang berbahasa Inggris, ia sering bertanya kepada kami arti kata-kata yang dianggapnya menarik. Anehnya, saat ini Roetji tidak tertarik dengan buku Iqra’ namun minta diajari langsung dari Al Qur’an.. J
Sepertinya Roetji mempunyai benih menjadi pemimpin, ia mampu memperjuangkan keinginannya dengan berbagai cara agar terpenuhi, mampu menahan keinginannya yang lain sebelum targetnya itu tercapai. Roetji bisa mengorganisir orang dewasa dan teman-temannya untuk membuat suatu kegiatan. Ia sangat fokus, serta selektif memilih informasi dan perintah yang mau ia dengarkan dan turuti, dan mengabaikan yang lain. Juga mampu mempresentasikan pendapatnya di depan orang lain, yang sudah dikenalnya dan belum, forum kecil atau pun besar.
Dalam upaya kami menguatkan benih kepemimpinannya, Roetji kami ajak belajar mandiri. Sejak umur 5 tahun, Roetji sesekali bisa menyiapkan makanannya sendiri. Ia sudah bisa menggoreng telur dadar, membuat sayur tumis, bubur oat, lekker ala Roetji, menyiapkan yogurtnya sendiri, dan membuat puding. Mulai umur 6 tahun, ia sudah cukup terampil mandi sendiri, lengkap dengan keramas dan berpakaian sesuai keinginannya. Sering kali terbalik depan dan belakang, dan ia ngotot tidak mau diperbaiki karena menurutnya gambar di baju / kaosnya itu seharusnya terlihat ketika akan ia kenakan.  
Selain itu, kami juga menstimulasi empatinya. Ia bisa nangis tersedu-sedu atau pun tertawa terbahak-bahak ketika membaca / menonton adegan tertentu, menyiapkan obat-obatan yang diperlukan ketika Ibu / Bapak e sakit, memberikan mainannya ke temannya yang menangis, dll. Roetji pernah menolak naik becak karena ia kasihan Bapak becak e harus mengayuh becak yang kami tumpangi. Namun perlahan, setelah bisa menerima penjelasan kami bahwa ini cara Bapak becak mencari rezeki, ia mau naik becak tapi melarang saya menawar tarifnya. Kami juga menstimulasi kemampuannya berorganisasi. Antara lain dengan memfasilitasi inisiatif Roetji untuk mengorganisir bioskop mini untuk anak-anak di rumah kami dan rumah Simbah e dan memimpin  peserta family gathering komunitas PKBM Saung Impian Matahari (peserta dewasa dan anak-anak) ketika akan memulai berkegiatan bersama.
Semoga dengan mengenali benih alamiah Roetji dengan cara seperti ini, kami bisa membangun jalur yang benar dalam menemani Roetji bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya dengan optimal. Kami berharap Roetji menjadi pribadi yang mulia, di mata Allah, semesta dan manusia.
***
Nah, sekarang masuk bagian yang tersulit. Membaca diri sendiri itu ibaratnya seperti posisi jari-jari kita ketika menuding, satu jari dengan kuatnya mengarah ke orang lain, namun empat jari yang mengarah ke diri kita sering kali terlupakan J
Saya merasa, mengira dan berpikir bahwa saya ini pribadi yang relatif mudah membangun hubungan dengan orang baru namun tidak cukup terampil mempertahankannya menjadi hubungan akrab yang lama. Begitu pula dalam pekerjaan, bacaan, mau pun minat. Intinya, rentang fokus saya cukup pendek, gampang bosan ketika sudah terjebak pada rutinitas. Ini mengakibatkan saya perlu membuat tantangan-tantangan khusus agar hidup saya dan keluarga kami dinamis. Saya senang jalan-jalan, blusukan di pasar-pasar rakyat dan mal, juga dolan ke luar kota. Sepertinya Roetji juga mempunyai kecenderungan yang mirip dengan ini. Ia bertekun membaca satu buku sampai selesai jika ia benar-benar tertarik dengan buku tersebut. Jika tidak, ia bisa berganti-ganti membaca 3 – 5 buku dalam satu sesi membaca.
Saya sering kali terlampau perhatian pada hal-hal detil, terutama pada tulisan (ketikan). Saya bisa mengetik dengan kemampuan di atas rata-rata dan cepat mengenali kesalahan pengetikan. Kemampuan saya ini cukup membantu pekerjaan suami saya, dan sepertinya Roetji juga mempunyai kecenderungan ini. Saya sering bekerja sebagai notulen, mentranskrip rekaman audio dan video, serta berharap suatu saat bisa menjadi editor buku.
Semasa kuliah, teman-teman menilai saya bisa melakukan analisis dengan baik dan cukup komprehensif. Juga mampu melakukan presentasi di depan umum. Saya mengakui itu. Dan sepertinya Roetji punya kecenderungan ini.
Saya selama ini cenderung mendidik diri menjadi perfeksionis dan kompetitif. Dan sepertinya sifat perfeksionis ini juga menurun pada anak kami, meskipun setelah menikah, Bapak e Roetji berusaha mengajari saya untuk lebih santai dan mengembangkan kemampuan kolaborasi, bukan kompetisi. PR besar bagi saya untuk berusaha keras mengurangi mental kompetisi, menggantikannya dengan mental kolaborasi.
Sejak SMA, saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan media massa. Saya sempat bergabung dengan pers abu-abu, pers mahasiswa, dan bekerja di NGO yang berhubungan dengan literasi media. Rupanya Allah menyiapkan saya untuk menjadi pendamping seorang pria yang juga tertarik dengan bidang media massa namun bukan jurnalist. Roetji pun nampak sangat menikmati dan tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan media massa. Sejak ia mengenal fungsi kamera (HP mau pun DSLR), Roetji sangat tertarik dengan foto dan video. Karya-karya fotonya, menurut Bapak e yang punya bekal ilmu fotografi, bagus untuk anak-anak seusianya, terutama dalam hal pemilihan angle dan komposisi. Roetji pun sangat senang menonton youtube, seperti lazimnya anak-anak sekarang. Tontonan tersebut menjadi bahan pelajarannya, ia bisa sangat lancar menirukan dan menceritakan kembali apa yang ia tonton, menemukan inti pesan dari tontonan tersebut, membandingkannya dengan film / buku lain tentang isi tontonan.
Saya senang berorganisasi, kerja-kerja membangun jejaring dan pengorganisasian. Bagi saya, bertemu orang baru dan berusaha menemukan hal-hal yang bisa dilakukan bersama, sharing ide, dll merupakan hal yang mengasyikkan. Rupanya ini merupakan salah satu bekal agar saya lebih mudah menyesuaikan diri dengan suami yang senang membuat event. Semoga Roetji akan meneruskan ketertarikannya di bidang ini.
Saya cukup senang membaca buku dan menulis. Bagi saya, menulis itu kesempatan untuk bercerita, berbagi rasa dan pikiran saya. Suami saya juga senang membaca buku dan menuliskan pikiran-pikirannya. Rupanya ini juga menjadi salah satu ketertarikan Roetji seperti yang saya ceritakan di atas.
Selain itu, saya termasuk orang yang tidak mudah percaya dengan aturan / norma yang disampaikan orang lain. Saya sering kali berusaha mencari logika dan alasan-alasan serta sumber / pendapat lain terkait aturan / norma tersebut. Saya yakin, Allah menciptakan manusia menjadi mahluk yang lebih mulia dari pada mahluk lain dengan membekali iman dan akal sebagai satu paket. Dalam beriman, kita tidak boleh melupakan akal. Begitu pula, dalam menggunakan akal, kita tidak boleh meninggalkan iman.
Sepertinya saya baru berhasil mengidentifikasi potensi diri sendiri dan menuliskannya seperti ini.
***
Terkait dengan lingkungan tempat kami tinggal sekarang, saya belum cukup mengenal dengan baik. Kami baru sekitar 2 tahun ini pindah dari Sleman ke Solo dan masih sangat sering ke Sleman dan Semarang. Sepertinya, kampung tempat kami tinggal sekarang merupakan kampung migran, sebagian besar warganya merupakan warga pendatang dari wilayah lain, baik dari Solo maupun luar kota. Hal ini berhubungan erat dengan posisi geografis kampung kami yang cukup tinggi sehingga terbebas dari banjir yang akhir-akhir ini sering melanda Kota Solo, namun secara administrasi dan morfologi kota masih termasuk wilayah Kota Solo. Di sekitar rumah kami cukup banyak fasilitas-fasilitas yang cukup mendukung aktivitas kami, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pembelajaran Roetji.
Oleh karena posisi geografis kampung kami, ditambah dengan adanya Kali Anyar, membuat kampung kami cukup kesulitan memperoleh air bersih. Untuk kebutuhan MCK, kami mengandalkan air PDAM yang kualitas airnya tidak cukup layak untuk dikonsumsi dan setiap hari pasti mati dalam beberapa jam tertentu. Untuk kebutuhan memasak, kami menggunakan air dari sumur arthesis yang terdapat di panti asuhan yatim piatu korban konflik Ambon yang berada di kampung kami. Sedangkan untuk kebutuhan minum, kami menggunakan air galon. Kami sulit membuat sumur biasa, karena air belum juga diperoleh ketika sudah menggali lebih dari 25 meter. Kondisi ini merupakan tantangan terberat bagi saya yang sejak kecil terbiasa hidup di lereng Gunung Merapi, air bersih dan segar tersedia dengan cukup melimpah dan mudah. Selain itu, amanah ilmu yang saya pelajari ketika kuliah dan bekerja, juga sepertinya memanggil saya untuk berbuat sesuatu terkait dengan ketersediaan air bersih di kampung kami.
Masyarakat di kampung kami mayoritas termasuk kelas ekonomi menengah ke bawah (sebenarnya saya tidak nyaman menggunakan istilah ini). Kebanyakan bekerja sebagai buruh pabrik dan industri rumahan sangkar burung dan bengkel kenteng mobil. Kami berharap saya bisa bekerja di rumah dengan melibatkan warga sekitar secara positif.
Remaja di kampung saya sepertinya tidak aktif berorganisasi. Organisasi kepemudaan tidak berfungsi dengan baik meskipun jumlah remaja cukup banyak. Saya melihat ini sebagai potensi, yang semoga suatu saat bisa menjadi mitra kami berbuat sesuatu yang berarti bagi masyarakat.

Sementara ini salah satu usaha kami adalah segera mewujudkan perpustakaan anak dan ruang menonton. Sekarang kami sedang mengumpulkan buku-buku, LCD proyektor, layar, dan speaker. Kami ingin bisa berbagi sumber daya dan kemampuan yang Allah titipkan kepada kami dengan masyarakat sekitar. Kami berharap dengan cara ini kami dan tetangga sekitar bisa lebih melek media, tidak mudah percaya info / berita yang disebarkan melalui media massa atau pun media sosial. Karena kami yakin, untuk mendidik satu anak dibutuhkan satu komunitas yang belajar sama-sama, bekerja sama-sama, dan kerja sama-sama. Sepertinya ini merupakan salah satu peran spesifik keluarga kami, yang insyaAllah bisa kami wujudkan dalam waktu dekat. Sekaligus menjadi tapak untuk menuju peran spesifik kami yang lain J

Jumat, 03 Februari 2017

NHW#2

Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan

Membaca tantangan NHW#2 dari program matrikulasi Institut Ibu Profesional kali ini, saya langsung senyum-senyum kecut, berasa gimanaaa gitu, hihihi... 
Tugasnya bikin checklist indikator profesionalisme perempuan, jadi saya memilih membuatnya dalam format tabel, supaya lebih gampang penggunaannya :)


Indikator
Checklist
Sebagai Individu
-          Konsisten bangun sebelum subuh dan langsung beres-beres rumah.
-          Konsisten dengan to do list yang saya buat.
-          Berusaha keras untuk tidak mudah marah.

Sebagai Istri
Lebih santai menjalani hidup, tidak mudah tegang dan panik, mengurangi marah-marah sehingga bisa lebih optimal dalam mendidik anak (Catatan: bulan depan, gantian suami saya yang akan membuat dan melakukan ini J

Sebagai Ibu
-          Ibu lebih sering masak (makan berat dan camilan)
-          Ibu lebih sabar, tidak mudah marah


Catatan: InsyaAllah akan saya jadikan kebiasaan baik, dimulai dengan melakukan ini 40 hari berturut-turut. Jika bolong, diulang lagi dari awal J