Rupanya sudah 3 pekan saya mengikuti matrikulasi Institute
Ibu Profesional. Alhamdulillah, manfaat nyata mulai saya rasakan. Diantaranya
belajar konsisten mengisi check list yang saya buat di minggu kemarin. Meski
masih bolong-bolong (yang artinya saya harus mengulang lagi) namun saya mulai
melihat alur dan pola yang sedang saya susun. Suatu hal yang kemarin sempat
menghilang, sehingga saya merasa berputar-putar di labirin dengan tujuan yang
masih entah berada di mana. Ketika mengikuti matrikulasi ini, saya merasa
seperti dititipi lensa pembesar, yang membantu saya untuk membaca dan menyusun
langkah saya. Nah, ketika lensa pembesar ini sudah di tangan saya, saya lah
yang memegang kendali atas lensa pembesar ini, akan saya bawa ke jalan yang
semestinya, atau melenceng tak tentu arah, atau justru berdiam di tempat
bersama saya. Kerennya lensa pembesar ini dititipkan tidak secara utuh, namun
perlahan, bertingkat, seperti menyusun puzzle. Keping pertama dan kedua, sudah
saya peroleh minggu lalu, sekarang saatnya menyusun keping ketiga. Dan,
tantangan di keping ketiga ini sungguh asyik dan romantis J
Alhamdulillah sekarang saya sedang ditugasi Allah untuk berusaha
menjadi pribadi utuh di tengah keluarga yang utuh dan komunitas yang baik. Dengan
demikian, dalam penugasan NHW#3 ini, tugas yang harus saya penuhi adalah
menyusun jawaban atas:
a.
Jatuh cintalah kembali kepada suami anda,
buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak
menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari
suami.
b.
Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi
kekuatan diri mereka masing-masing.
c.
Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan
potensi diri anda, kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca
kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini
dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.
d.
Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini,
tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah,
mengapa keluarga anda dihadirkan di sini?
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas,
sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di
muka bumi ini. Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga
kata demi kata di nice homework#3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan
hati yang membacanya.
***
Sungguh tantangan yang romantis bukan? Romantis dengan makna
yang lebih dalam dari sekedar rayuan indah sepasang kekasih yang sedang dimabuk
asmara. Romantis dengan makna yang harus dicari dengan menengok ke dalam
pikiran dan hati diri ini, pasangan, anak dan lingkungan sekitar.
Terkait dengan surat cinta, saya jadi ingat pengalaman
ketika mengerjakan ujian semester mata kuliah Antropologi Visual ketika saya
berusaha menempuh S2 Antropologi di UGM dulu. Profesor PM Laksono, salah satu
dosen favorit kami, memberi tugas ujian akhir semester mata kuliah Antropologi
Visual berupa surat cinta untuk pasangan. Surat yang sangat spesial karena
dibuat dengan ketentuan: maksimal 5 halaman (jika lebih dari 5 halaman maka
nilai akan dikurangi), berisi pemahaman mahasiswa atas mata kuliah tsb selama
ini, mengacu pada minimal 30 referensi yang sebagian besar diantaranya adalah
bahan bacaan selama perkuliahan. Sungguh tugas akhir semester yang paling bikin
kalangkabut kami sekelas. Alhamdulillah, waktu pengerjaan tugas ini berdekatan
dengan rencana pernikahan saya dengan calon suami pilihan, sehingga saya
mengerjakan tugas ini dengan sepenuh hati dan dapat nilai A J
Nah, tantangan NHW#3 ini saya pikir jauh lebih serius dari
pada tugas semesteran tsb. Tantangan kali ini berurusan dengan keluarga kecil
kami, menjadi bagian dari upaya terbaik untuk terus memantaskan diri menjadi
keluarga terbaik yang kami mampu.
Sewaktu saya menulis surat cinta ini, di sepertiga akhir
malam ini, suami saya sedang sibuk mengoreksi tugas-tugas mahasiswanya. Dan
Roetji tidur pulas di sisi kami.
Suamiku yang super santai, bapak e Roetji yang lucu..
Alhamdulillah, Allah menakdirkan kita berjodoh setelah
memberi kita ujian yang cukup lama dan seru. Ujian yang membuat kita sempat
saling belajar memahami satu sama lain, ujian yang memberi kita kesempatan
untuk mulai mengenal calon ibu mertua kita (ctt: karena bapak kami berdua sudah
dalam perjalanan menuju surga, amin) dan keluarga besar kita. Sekarang kita
sering kali menertawakan masa-masa ujian itu sebagai bagian pendewasaan diri
kita.
Alhamdulillah, kita bisa melewati ujian itu untuk bersatu
dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Sempat aku mengira setelah melewati
masa-masa ujian itu, kita sudah cukup saling mengenal sehingga setelah menikah,
kita akan mudah saling menyesuaikan diri. Namun ternyata, setelah kita menikah,
masih saja banyak perbedaan yang kadang membuat kita berdebat ringan sampai
bertengkar hebat. Sering kali pertengkaran kecil itu disebabkan hal-hal yang
menurutmu sepele namun bagiku penting. Acapkali suamiku yang meminta maaf
duluan, bahkan ketika aku yang memancing pertengkaran itu. Maafkan aku ya..
Suamiku yang selalu saja kurus meskipun makannya lebih
banyak dari pada aku, terima kasih ya atas semua pujianmu atas
masakan-masakanku yang ala kadarnya. Jauh dari keahlian ibu-ibu kita, yang
keduanya pintar masak dan punya bisnis catering. Pujianmu membesarkan hatiku
untuk terus berusaha mencoba beragam masakan. Sesekali protesmu mencambukku,
agar lebih disiplin mengikuti resep sehingga masakan yang tersaji tidak berbeda
jauh dengan bayanganmu. Sesekali teguranmu mengingatkanku agar lebih
berhati-hati dalam berbelanja dan memasak, supaya tidak banyak bahan pangan yang
mubadzir.
Suamiku yang mengerti kondisiku, terima kasih ya karena
tidak pernah protes ketika mengetahui aku tidur siang di rumah dan tidak pernah
membangunkanku di tengah malam untuk sekedar minta membuatkan kopi / teh teman
lemburmu. Namun tetap bersedia bangun untuk sekedar menemaniku menyetrika
baju-baju kita. Terima kasih banyak atas kesadaranmu dan kesedianmu turut
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang seringkali dianggap sebagian
orang sebagai pekerjaan perempuan.
Suamiku yang super santai, terima kasih ya atas kesabaranmu
ketika pulang kantor mendapati rumah seperti kapal pecah. Bukan amarah yang
kamu tampilkan, justru senyuman dan pertanyaan akan aktivitas kami hari ini.
Ya, aktivitasku dan Roetji. Dengan pertanyaanmu ini, aku merasa dihargai,
disayangi, sebagai diriku dan istrimu, bukan hanya karena aku ibu dari anakmu.
Terima kasih...
Suamiku yang seniman, terima kasih ya atas rumah kecil yang
kita huni sekarang. Rumah kecil yang kamu desain dengan seleramu, kreativitasmu
dan perjuanganmu dan tentu saja mengakomodir pertimbangan-pertimbangan sok
ilmiahku. Rumah kecil yang unik dengan berbagai bahan bangunan, sehingga nyaris
semua ragam bahan bangunan ada contohnya di sini. Rumah kecil yang cantik dan
insyaAllah akan semakin cantik dengan campur tangan kreativitas Roetji. Semoga
menjadi rumah surga di dunia, salah satu tempat kita membangun jalan kita
bersama menuju surgaNya di akherat kelak.
Suamiku guruku, terima kasih ya telah mengajariku dan
mendukungku untuk berusaha menjadi pribadi yang berusaha meningkatkan kemampuan
diri, agar bisa berkolaborasi bukan berkompetisi. Semoga kita bisa bersama
kuliah lagi, ke luar negeri, mengajak Roetji mengenal karunia Ilahi.
Ah, ingin rasanya kutuliskan semua rasa yang ada di hati
ini, namun, maafkan aku, tidak mampu menuliskan semua detil rasa terima kasihku
kepadamu dalam kesempatan ini. Aku terlalu malu untuk menuliskannya, namun aku
yakin kita saling menyayangi karena Allah. Terima kasih suamiku, kita terus dan
akan terus bertumbuh bersama dalam keluarga yang senantiasa mencoba berpegang
teguh pada tali-tali Allah dan Rasulullah. Semoga kita bisa mencapai tujuan
kita, menjadi diri pribadi dan orangtua yang sesuai fitrah, yang pantas
membersamai anak-anak kita berkembang dan bertumbuh sesuai fitrahnya dengan
optimal.
Semoga ini menjadi sebagian contoh baik yang ditiru dan
dikembangkan oleh Roetji (dan adiknya nanti), sehingga mereka tumbuh menjadi
pria/perempuan yang mencintai dirinya, bertanggungjawab dan menyayangi serta
menghargai istri/suaminya sepenuh hati, menjadi Bapak yang menyayangi dan
disayangi cucu-cucu kita, menjadi pribadi unggulan yang bermanfaat bagi
semesta. Tentu dalam jalur yang dibenarkan Allah, Rasulullah, negara,
masyarakat, dan keluarganya, dalam naungan kasih dan sayang Allah SWT.
Respon suami saya:
Aku tersentak, aku terhenyak, betapa istriku mengagumi
kesantaianku dan kekreatifanku. Itu semua sebetulnya kado untuk istriku, karena
istriku biasanya tegang terus, diajak santai nggak mau, ahh..
Setelah membaca NHW#3 ini, aku ingin rumah kami agak lebih
santai tapi lebih terstruktur juga sih. Maaf ya belum bisa terstruktur, terlalu
santai.. Gitu deh..
Makasih sayang... *ketjoep
****
Sewaktu Roetji berumur 3 tahun, kami pernah mengajak Roetji
berkenalan dengan sekolah, PAUD kampung di kampung ibu saya. Waktu itu kami
belum tahu apapun tentang homeschooling, dan menganggap bahwa sekolah merupakan
satu-satunya cara mendidik dan mengajari anak. Namun ternyata, seiring waktu,
kami merasa Roetji tidak cocok dengan cara belajar di PAUD itu. Akhirnya, kami
memutuskan untuk tidak meneruskan upaya kenalan dengan sekolah ini.
Alhamdulillah, kami dipertemukanNya dengan konsep homeschooling, yang kemudian
terus kami pelajari sampai akhirnya kami mantap untuk memilih belajar di rumah
sebagai cara kami belajar bersama. Homeschooling atau belajar di rumah memberi
kami lebih banyak kesempatan untuk lebih mengenal Roetji, dan juga mengenal
kami. Sejak memutuskan ini, kami merasa yakin Allah memberi kami kesempatan
untuk membuka dan membaca buku besarNya yang dititipkanNya kepada kami dengan
seksama dan bertumbuh. Buku besar itu bernama Roetji Noor Soepono, anak semata
wayang kami (saat ini). Buku besar yang selalu siap setiap hari, dan saya baca
nyaris sepanjang hari, setiap hari. Sedangkan Bapak e tentu tidak membersamai
secara fisik ketika beliau harus menjalankan kewajibannya yang lain (bekerja). Banyak
ilmu yang kami peroleh dari buku besar kami, banyak pula yang masih
disembunyikanNya dan perlu kami pelajari bersama seoptimal kemampuan kami.
Sekarang buku besar kami berumur 6 tahun 2 bulan. Jika semua
pengamatan kami tuliskan, wah, sepertinya akan sangat panjaaang.. Jadi tulisan
ini hanya sebagian kecil, yang saya anggap pantas untuk dibagikan, dan semoga
bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya J
Sejak kecil kemampuan motorik kasar Roetji sangat kuat.
Ketika belajar berjalan dengan ditetah, ia tidak mau jalan setapak demi
setapak, namun minta berlari mengejar bola. Akhirnya ia bisa berjalan ketika
berpegangan pada tongkat almarhum kakeknya. Roetji sangat aktif bergerak: lari,
koprol, guling-guling, panjat-panjat, meniti, dll, namun sangat jarang jatuh.
Sampai sekarang, sepertinya ia baru mengalami 5 kali lecet di kaki, 2 kali
lecet di siku, dan 2 kali benjut
keningnya.
Roetji juga terampil dalam motorik halus. Ia bisa meniru
kami membuat pesawat kertas dan kapal kertas ketika ia belum genap 3 tahun,
dengan bentuk yang cukup rapi dan presisi. Roetji bisa mengaduk adonan kue
dengan mixer tanpa tumpah ketika ia berumur 3 tahun sampai sekarang. Roetji
mulai belajar memotong bahan masakan dengan menggunakan pisau dapur ketika
usianya belum genap 4 tahun, dan
alhamdulillah, tidak pernah jarinya terkena pisau. Ia mampu menggunting kertas
membentuk huruf A, B, O, R, ... dengan benar, termasuk membuat
lubang-lubangnya, tanpa merusak kertas tsb. Sepertinya cara ini yang membuat
Roetji mengenal dan memahami huruf. Selain itu, saya cukup rajin membacakan
buku-buku dan menantang Roetji agar bisa membaca berbagai buku yang kami punya.
Kami pun membebaskan Roetji untuk membaca dengan berbagai posisi: duduk tenang,
jongkok, lari-larian, tiduran, atau bahkan koprol. Akhirnya Roetji jadi bisa
membaca dan menulis tanpa perlu saya bimbing dengan menggunakan buku-buku / LKS
untuk anak PAUD / TK. Ketika Roetji hampir 5 tahun, ia sudah terampil membaca
dan mulai bisa menulis. Sekarang, Roetji bisa membaca tanpa bersuara (dibatin),
dan ia bisa tertawa terbahak-bahak setelah membaca kalimat yang dianggapnya
lucu J
Selain itu, sejak umur 2 tahunan, Roetji sudah
memperlihatkan bakat menggambar, darah seni yang mengalir dari keluarga Bapak
e. Ia bisa menggambar realis, dan seiring waktu, semakin mirip dengan benda
asli yang digambarnya. Bahkan ia bisa menggambar dalam berbagai perspektif,
tampak atas, tampak depan, tampak samping. Roetji juga mempunyai daya imajinasi
yang tinggi. Ketika ia belum lancar berbicara, ia bisa mengenali logo Superindo
sebagai singa. Ia bisa membuat pelangi dengan air yang disemprotkannya dari
alat penyemprot tanaman yang diarahkannya ke matahari setelah ia membaca buku
tentang hujan, matahari dan pelangi. Ia bisa bermain bayangan dengan seru,
membuat gambar bagian-bagian mesin cuci meskipun ia sama sekali belum pernah
melihat gambar-gambar itu, bermain cahaya, menyusun lego blok menjadi
bentuk-bentuk tertentu yang bisa dipahami orang lain, dll.
Indra pengecap Roetji dan selera makannya juga cukup bagus.
Roetji juga bisa membayangkan rasa makanan / minuman yang sedang kami racik
dengan memperhatikan bahan-bahan yang kami gunakan. Misalnya, kemarin kami
membuat yogurt buah. Ketika akan membuat yogurt pisang buah naga, Roetji minta
membuat dengan komposisi yogurt : pisang : buah naga = 1 : 1 : 0,5. Namun saya
tidak menurutinya, memilih membuat dengan komposisi 1 : 2 : 0,5. Alhasil,
setelah jadi, Roetji berkomentar bahwa yogurt buah naga ini rasanya terlalu
dominan rasa pisang, jika menggunakan satu pisang saja seperti sarannya,
rasanya akan pas J
Sejak Roetji mengenal fungsi kamera (HP mau pun DSLR),
Roetji sangat tertarik dengan fotografi (dasar) dan video. Karya-karya fotonya,
menurut Bapak e yang juga hobi fotografi, cukup bagus untuk anak-anak
seusianya, terutama dalam hal pemilihan angle
dan komposisi. Roetji pun sangat senang menonton youtube, seperti lazimnya
anak-anak sekarang. Tontonan tersebut menjadi bahan pelajarannya, ia bisa
sangat lancar menirukan dan menceritakan kembali apa yang ia tonton, menemukan
inti pesan dari tontonan tersebut, membandingkannya dengan film / buku lain
tentang isi tontonan itu.
Selain itu, Roetji juga termasuk anak yang cukup
perfeksionis dan detil. Ketika ia menyusun balok-balok lego menjadi bentuk
tertentu, kemudian tidak sengaja karya tsb rusak dan kemudian saya / bapak e
susun ulang, ia bisa mengetahui posisi lego yang tidak persis sesuai aslinya.
Jadi kami harus memfoto setiap karyanya, agar jika tidak sengaja rusak, kami
bisa menyusun ulang dengan persis sama. Ia juga bisa mengedit ketikan saya
ketika ia mendikte saya mengetikkan dongeng atau pun ceritanya atau pun
hafalannya. Pernah ia menghafal naskah film Maha Guru Merapi, yang berdurasi 25
menit, kira-kira sekitar 4 halaman kertas A4. Ia meminta kami (saya dan Bapak
e) menuliskan hafalannya tersebut (tulisan tangan). Setelah selesai, ia baca
dengan teliti huruf per huruf, dan setiap tanda baca. Tidak boleh ada kesalahan
satu huruf pun.
Roetji juga anak yang mudah merasa cukup dengan apa yang dia
miliki. Ia nyaris tidak pernah minta dibelikan mainan, apalagi sampai tantrum,
ketika kami berbelanja di pasar atau pun supermarket. Ia paham kalau membeli
mainan harus di toko mainan, dan cukup satu mainan untuk beberapa waktu. Suatu
saat, ia pernah meminjam HP saya, untuk memotret helicopter remote control di
toko A, katanya ia mau membandingkan harga mainan itu dengan di toko B. Nanti
jika uangnya sudah cukup, ia akan membeli di toko yang harganya lebih murah.
Roetji juga pernah memarahi saya karena saya membeli tas lagi, padahal tas yang
saya punya masih bisa dipakai. Katanya: “Ibu, sekarang ibu punya berapa tas?
Tas yang kemarin masih bisa dipakai kan? Kenapa ibu beli lagi? Kan kasihan dengan
orang lain, jadi tidak bisa beli tas. Bapak kemarin beli tas karena tas yang
biasa dipakai bapak rusak, bisakan?” Ah, rasanya saya punya akuntan pribadi
yang galaknya minta ampun J
Saat ini, Roetji berumur 6 tahun 2 bulan, buku besar kami
ini sedang lebih banyak menampilkan dirinya yang senang mengajukan pertanyaan
dan mengungkapkan pendapatnya, baik secara personal atau pun di forum besar (di
depan banyak orang lain yang tidak dikenalnya dengan baik). Roetji juga tidak
takut menyapa orang yang baru dikenalnya (terutama orang dewasa) dan
akhir-akhir ini sudah cukup terampil memulai percakapan dan bermain bersama
dengan teman sebayanya. Roetji juga sudah mau berbagi, bahkan berinisiatif
untuk berbagi tanpa diminta / disuruh (ctt: konsep berbagi sengaja kami latih
setelah ia memahami konsep kepemilikan). Sebuah ketrampilan dasar yang sempat
menjadi kekhawatiran keluarga besar kami karena ketika balita Roetji tidak mau
berbagi J
Roetji senang sekali membaca, mengamati dan melakukan
percobaan sesuai keinginan dan pengetahuannya. Sepertinya kemampuannya ini
berkorelasi dengan pilihan kami untuk meminimalisir mainan pabrikan, dan
melimpahinya dengan buku-buku serta membebaskannya menggunakan (nyaris) semua
benda yang ada di rumah kami sebagai mainannya. Cara Roetji membaca juga cukup
unik. Ia bisa membaca dari depan, samping atau pun atas. Ia sering kali membaca
satu tema tertentu dari beberapa buku sekaligus, ia bandingkan satu persatu.
Misalnya, ketika ia membaca buku tentang sifat-sifat mulia yang diajarkan Al
Qur’an, ia akan mengambil Al Qur’an dan meminta saya membacakan ayat Qur’an
yang sedang diceritakan itu.
Roetji anak yang sangat kreatif. Ia (nyaris) tidak mau
membuat karya yang sama persis dengan petunjuk (kecuali membuat robot di tempat
lesnya, yang akhir-akhir ini sedang menjadi fokus kami). Karya-karyanya dan
pendapat-pendapatnya selalu unik, orisinil, namun logis dan bisa diterima. Ia
bisa mengajukan argumen yang tepat untuk mendukung kreativitasnya itu. Ia bisa
membuat karya dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Ia bisa menyusun
pertanyaan dan pendapatnya dari berbagai sumber yang pernah berinteraksi
dengannya, baik itu berupa buku, video / film / musik di TV / youtube /
bioskop, maupun omongan orang dewasa di sekitarnya.
Selain itu, Roetji juga tampak tertarik pada bahasa. Ia
menikmati bahasa yang beragam. Sejak kecil, kami melatih dan membiasakannya
berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Jawa krama madya, seperti yang lazim
kami gunakan dalam keluarga besar saya. Ketika ia berumur hampir 5 tahun,
Roetji mulai bisa memahami ketika ada yang berkomunikasi cukup panjang
dengannya dalam Bahasa Indonesia, namun ia jawab dalam Bahasa Jawa. Setelah
Roetji bisa membaca buku dan senang menonton video / film di TV dan Youtube,
sejak umur 5 tahun sampai sekarang, Roetji hanya mau bercakap dalam Bahasa
Indonesia, meskipun kami tetap mengajaknya bercakap dalam Bahasa Jawa.
Akhir-akhir ini, Roetji juga senang meminta namanya dituliskan dalam beragam
bahasa dunia: Arab, Inggris, Rusia, Jepang, Cina. Alhamdulillah, sekarang sudah
ada google translate J
Namun demikian, khusus belajar Bahasa Inggris, saya mengajak Roetji belajar
menggunakan kamus Indonesia – Inggris ketika kami membaca buku berbahasa
Inggris. Selain itu, ketika Roetji membaca sendiri buku-bukunya yang berbahasa
Inggris, ia sering bertanya kepada kami arti kata-kata yang dianggapnya
menarik. Anehnya, saat ini Roetji tidak tertarik dengan buku Iqra’ namun minta
diajari langsung dari Al Qur’an.. J
Sepertinya Roetji mempunyai benih menjadi pemimpin, ia mampu
memperjuangkan keinginannya dengan berbagai cara agar terpenuhi, mampu menahan
keinginannya yang lain sebelum targetnya itu tercapai. Roetji bisa mengorganisir
orang dewasa dan teman-temannya untuk membuat suatu kegiatan. Ia sangat fokus,
serta selektif memilih informasi dan perintah yang mau ia dengarkan dan turuti,
dan mengabaikan yang lain. Juga mampu mempresentasikan pendapatnya di depan
orang lain, yang sudah dikenalnya dan belum, forum kecil atau pun besar.
Dalam upaya kami menguatkan benih kepemimpinannya, Roetji
kami ajak belajar mandiri. Sejak umur 5 tahun, Roetji sesekali bisa menyiapkan
makanannya sendiri. Ia sudah bisa menggoreng telur dadar, membuat sayur tumis, bubur
oat, lekker ala Roetji, menyiapkan yogurtnya sendiri, dan membuat puding. Mulai
umur 6 tahun, ia sudah cukup terampil mandi sendiri, lengkap dengan keramas dan
berpakaian sesuai keinginannya. Sering kali terbalik depan dan belakang, dan ia
ngotot tidak mau diperbaiki karena menurutnya gambar di baju / kaosnya itu
seharusnya terlihat ketika akan ia kenakan.
Selain itu, kami juga menstimulasi empatinya. Ia bisa nangis
tersedu-sedu atau pun tertawa terbahak-bahak ketika membaca / menonton adegan
tertentu, menyiapkan obat-obatan yang diperlukan ketika Ibu / Bapak e sakit, memberikan
mainannya ke temannya yang menangis, dll. Roetji pernah menolak naik becak
karena ia kasihan Bapak becak e harus mengayuh becak yang kami tumpangi. Namun
perlahan, setelah bisa menerima penjelasan kami bahwa ini cara Bapak becak
mencari rezeki, ia mau naik becak tapi melarang saya menawar tarifnya. Kami
juga menstimulasi kemampuannya berorganisasi. Antara lain dengan memfasilitasi
inisiatif Roetji untuk mengorganisir bioskop mini untuk anak-anak di rumah kami
dan rumah Simbah e dan memimpin peserta family gathering komunitas PKBM Saung
Impian Matahari (peserta dewasa dan anak-anak) ketika akan memulai berkegiatan
bersama.
Semoga dengan mengenali benih alamiah Roetji dengan cara
seperti ini, kami bisa membangun jalur yang benar dalam menemani Roetji
bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya dengan optimal. Kami berharap Roetji
menjadi pribadi yang mulia, di mata Allah, semesta dan manusia.
***
Nah, sekarang masuk bagian yang tersulit. Membaca diri
sendiri itu ibaratnya seperti posisi jari-jari kita ketika menuding, satu jari
dengan kuatnya mengarah ke orang lain, namun empat jari yang mengarah ke diri
kita sering kali terlupakan J
Saya merasa, mengira dan berpikir bahwa saya ini pribadi
yang relatif mudah membangun hubungan dengan orang baru namun tidak cukup
terampil mempertahankannya menjadi hubungan akrab yang lama. Begitu pula dalam
pekerjaan, bacaan, mau pun minat. Intinya, rentang fokus saya cukup pendek,
gampang bosan ketika sudah terjebak pada rutinitas. Ini mengakibatkan saya
perlu membuat tantangan-tantangan khusus agar hidup saya dan keluarga kami
dinamis. Saya senang jalan-jalan, blusukan di pasar-pasar rakyat dan mal, juga dolan
ke luar kota. Sepertinya Roetji juga mempunyai kecenderungan yang mirip dengan
ini. Ia bertekun membaca satu buku sampai selesai jika ia benar-benar tertarik
dengan buku tersebut. Jika tidak, ia bisa berganti-ganti membaca 3 – 5 buku
dalam satu sesi membaca.
Saya sering kali terlampau perhatian pada hal-hal detil,
terutama pada tulisan (ketikan). Saya bisa mengetik dengan kemampuan di atas
rata-rata dan cepat mengenali kesalahan pengetikan. Kemampuan saya ini cukup
membantu pekerjaan suami saya, dan sepertinya Roetji juga mempunyai
kecenderungan ini. Saya sering bekerja sebagai notulen, mentranskrip rekaman
audio dan video, serta berharap suatu saat bisa menjadi editor buku.
Semasa kuliah, teman-teman menilai saya bisa melakukan
analisis dengan baik dan cukup komprehensif. Juga mampu melakukan presentasi di
depan umum. Saya mengakui itu. Dan sepertinya Roetji punya kecenderungan ini.
Saya selama ini cenderung mendidik diri menjadi perfeksionis
dan kompetitif. Dan sepertinya sifat perfeksionis ini juga menurun pada anak
kami, meskipun setelah menikah, Bapak e Roetji berusaha mengajari saya untuk
lebih santai dan mengembangkan kemampuan kolaborasi, bukan kompetisi. PR besar
bagi saya untuk berusaha keras mengurangi mental kompetisi, menggantikannya
dengan mental kolaborasi.
Sejak SMA, saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan
dengan media massa. Saya sempat bergabung dengan pers abu-abu, pers mahasiswa,
dan bekerja di NGO yang berhubungan dengan literasi media. Rupanya Allah
menyiapkan saya untuk menjadi pendamping seorang pria yang juga tertarik dengan
bidang media massa namun bukan jurnalist. Roetji pun nampak sangat menikmati
dan tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan media massa. Sejak ia
mengenal fungsi kamera (HP mau pun DSLR), Roetji sangat tertarik dengan foto
dan video. Karya-karya fotonya, menurut Bapak e yang punya bekal ilmu fotografi,
bagus untuk anak-anak seusianya, terutama dalam hal pemilihan angle dan komposisi. Roetji pun sangat
senang menonton youtube, seperti lazimnya anak-anak sekarang. Tontonan tersebut
menjadi bahan pelajarannya, ia bisa sangat lancar menirukan dan menceritakan
kembali apa yang ia tonton, menemukan inti pesan dari tontonan tersebut,
membandingkannya dengan film / buku lain tentang isi tontonan.
Saya senang berorganisasi, kerja-kerja membangun jejaring
dan pengorganisasian. Bagi saya, bertemu orang baru dan berusaha menemukan
hal-hal yang bisa dilakukan bersama, sharing ide, dll merupakan hal yang
mengasyikkan. Rupanya ini merupakan salah satu bekal agar saya lebih mudah
menyesuaikan diri dengan suami yang senang membuat event. Semoga Roetji akan
meneruskan ketertarikannya di bidang ini.
Saya cukup senang membaca buku dan menulis. Bagi saya,
menulis itu kesempatan untuk bercerita, berbagi rasa dan pikiran saya. Suami
saya juga senang membaca buku dan menuliskan pikiran-pikirannya. Rupanya ini
juga menjadi salah satu ketertarikan Roetji seperti yang saya ceritakan di
atas.
Selain itu, saya termasuk orang yang tidak mudah percaya
dengan aturan / norma yang disampaikan orang lain. Saya sering kali berusaha
mencari logika dan alasan-alasan serta sumber / pendapat lain terkait aturan /
norma tersebut. Saya yakin, Allah menciptakan manusia menjadi mahluk yang lebih
mulia dari pada mahluk lain dengan membekali iman dan akal sebagai satu paket.
Dalam beriman, kita tidak boleh melupakan akal. Begitu pula, dalam menggunakan
akal, kita tidak boleh meninggalkan iman.
Sepertinya saya baru berhasil mengidentifikasi potensi diri
sendiri dan menuliskannya seperti ini.
***
Terkait dengan lingkungan tempat kami tinggal sekarang, saya
belum cukup mengenal dengan baik. Kami baru sekitar 2 tahun ini pindah dari
Sleman ke Solo dan masih sangat sering ke Sleman dan Semarang. Sepertinya,
kampung tempat kami tinggal sekarang merupakan kampung migran, sebagian besar
warganya merupakan warga pendatang dari wilayah lain, baik dari Solo maupun
luar kota. Hal ini berhubungan erat dengan posisi geografis kampung kami yang
cukup tinggi sehingga terbebas dari banjir yang akhir-akhir ini sering melanda
Kota Solo, namun secara administrasi dan morfologi kota masih termasuk wilayah
Kota Solo. Di sekitar rumah kami cukup banyak fasilitas-fasilitas yang cukup mendukung
aktivitas kami, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pembelajaran
Roetji.
Oleh karena posisi geografis kampung kami, ditambah dengan
adanya Kali Anyar, membuat kampung kami cukup kesulitan memperoleh air bersih.
Untuk kebutuhan MCK, kami mengandalkan air PDAM yang kualitas airnya tidak
cukup layak untuk dikonsumsi dan setiap hari pasti mati dalam beberapa jam
tertentu. Untuk kebutuhan memasak, kami menggunakan air dari sumur arthesis
yang terdapat di panti asuhan yatim piatu korban konflik Ambon yang berada di
kampung kami. Sedangkan untuk kebutuhan minum, kami menggunakan air galon. Kami
sulit membuat sumur biasa, karena air belum juga diperoleh ketika sudah
menggali lebih dari 25 meter. Kondisi ini merupakan tantangan terberat bagi
saya yang sejak kecil terbiasa hidup di lereng Gunung Merapi, air bersih dan
segar tersedia dengan cukup melimpah dan mudah. Selain itu, amanah ilmu yang
saya pelajari ketika kuliah dan bekerja, juga sepertinya memanggil saya untuk
berbuat sesuatu terkait dengan ketersediaan air bersih di kampung kami.
Masyarakat di kampung kami mayoritas termasuk kelas ekonomi
menengah ke bawah (sebenarnya saya tidak nyaman menggunakan istilah ini).
Kebanyakan bekerja sebagai buruh pabrik dan industri rumahan sangkar burung dan
bengkel kenteng mobil. Kami berharap saya bisa bekerja di rumah dengan
melibatkan warga sekitar secara positif.
Remaja di kampung saya sepertinya tidak aktif berorganisasi.
Organisasi kepemudaan tidak berfungsi dengan baik meskipun jumlah remaja cukup
banyak. Saya melihat ini sebagai potensi, yang semoga suatu saat bisa menjadi
mitra kami berbuat sesuatu yang berarti bagi masyarakat.
Sementara ini salah satu usaha kami adalah segera mewujudkan
perpustakaan anak dan ruang menonton. Sekarang kami sedang mengumpulkan
buku-buku, LCD proyektor, layar, dan speaker. Kami ingin bisa berbagi sumber
daya dan kemampuan yang Allah titipkan kepada kami dengan masyarakat sekitar.
Kami berharap dengan cara ini kami dan tetangga sekitar bisa lebih melek media,
tidak mudah percaya info / berita yang disebarkan melalui media massa atau pun
media sosial. Karena kami yakin, untuk mendidik satu anak dibutuhkan satu
komunitas yang belajar sama-sama, bekerja sama-sama, dan kerja sama-sama. Sepertinya
ini merupakan salah satu peran spesifik keluarga kami, yang insyaAllah bisa
kami wujudkan dalam waktu dekat. Sekaligus menjadi tapak untuk menuju peran
spesifik kami yang lain J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar