Sabtu, 11 Februari 2017

Belajar Mengenali Empat Jari yang Menuding Diri Sendiri

NHW#3 Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Rupanya sudah 3 pekan saya mengikuti matrikulasi Institute Ibu Profesional. Alhamdulillah, manfaat nyata mulai saya rasakan. Diantaranya belajar konsisten mengisi check list yang saya buat di minggu kemarin. Meski masih bolong-bolong (yang artinya saya harus mengulang lagi) namun saya mulai melihat alur dan pola yang sedang saya susun. Suatu hal yang kemarin sempat menghilang, sehingga saya merasa berputar-putar di labirin dengan tujuan yang masih entah berada di mana. Ketika mengikuti matrikulasi ini, saya merasa seperti dititipi lensa pembesar, yang membantu saya untuk membaca dan menyusun langkah saya. Nah, ketika lensa pembesar ini sudah di tangan saya, saya lah yang memegang kendali atas lensa pembesar ini, akan saya bawa ke jalan yang semestinya, atau melenceng tak tentu arah, atau justru berdiam di tempat bersama saya. Kerennya lensa pembesar ini dititipkan tidak secara utuh, namun perlahan, bertingkat, seperti menyusun puzzle. Keping pertama dan kedua, sudah saya peroleh minggu lalu, sekarang saatnya menyusun keping ketiga. Dan, tantangan di keping ketiga ini sungguh asyik dan romantis J
Alhamdulillah sekarang saya sedang ditugasi Allah untuk berusaha menjadi pribadi utuh di tengah keluarga yang utuh dan komunitas yang baik. Dengan demikian, dalam penugasan NHW#3 ini, tugas yang harus saya penuhi adalah menyusun jawaban atas:
a.       Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
b.       Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
c.       Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda, kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang anda miliki.
d.       Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan di sini?
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” anda di muka bumi ini. Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework#3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.
***
Sungguh tantangan yang romantis bukan? Romantis dengan makna yang lebih dalam dari sekedar rayuan indah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Romantis dengan makna yang harus dicari dengan menengok ke dalam pikiran dan hati diri ini, pasangan, anak dan lingkungan sekitar.  
Terkait dengan surat cinta, saya jadi ingat pengalaman ketika mengerjakan ujian semester mata kuliah Antropologi Visual ketika saya berusaha menempuh S2 Antropologi di UGM dulu. Profesor PM Laksono, salah satu dosen favorit kami, memberi tugas ujian akhir semester mata kuliah Antropologi Visual berupa surat cinta untuk pasangan. Surat yang sangat spesial karena dibuat dengan ketentuan: maksimal 5 halaman (jika lebih dari 5 halaman maka nilai akan dikurangi), berisi pemahaman mahasiswa atas mata kuliah tsb selama ini, mengacu pada minimal 30 referensi yang sebagian besar diantaranya adalah bahan bacaan selama perkuliahan. Sungguh tugas akhir semester yang paling bikin kalangkabut kami sekelas. Alhamdulillah, waktu pengerjaan tugas ini berdekatan dengan rencana pernikahan saya dengan calon suami pilihan, sehingga saya mengerjakan tugas ini dengan sepenuh hati dan dapat nilai A J

Nah, tantangan NHW#3 ini saya pikir jauh lebih serius dari pada tugas semesteran tsb. Tantangan kali ini berurusan dengan keluarga kecil kami, menjadi bagian dari upaya terbaik untuk terus memantaskan diri menjadi keluarga terbaik yang kami mampu.
Sewaktu saya menulis surat cinta ini, di sepertiga akhir malam ini, suami saya sedang sibuk mengoreksi tugas-tugas mahasiswanya. Dan Roetji tidur pulas di sisi kami.
Suamiku yang super santai, bapak e Roetji yang lucu..
Alhamdulillah, Allah menakdirkan kita berjodoh setelah memberi kita ujian yang cukup lama dan seru. Ujian yang membuat kita sempat saling belajar memahami satu sama lain, ujian yang memberi kita kesempatan untuk mulai mengenal calon ibu mertua kita (ctt: karena bapak kami berdua sudah dalam perjalanan menuju surga, amin) dan keluarga besar kita. Sekarang kita sering kali menertawakan masa-masa ujian itu sebagai bagian pendewasaan diri kita.
Alhamdulillah, kita bisa melewati ujian itu untuk bersatu dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Sempat aku mengira setelah melewati masa-masa ujian itu, kita sudah cukup saling mengenal sehingga setelah menikah, kita akan mudah saling menyesuaikan diri. Namun ternyata, setelah kita menikah, masih saja banyak perbedaan yang kadang membuat kita berdebat ringan sampai bertengkar hebat. Sering kali pertengkaran kecil itu disebabkan hal-hal yang menurutmu sepele namun bagiku penting. Acapkali suamiku yang meminta maaf duluan, bahkan ketika aku yang memancing pertengkaran itu. Maafkan aku ya..
Suamiku yang selalu saja kurus meskipun makannya lebih banyak dari pada aku, terima kasih ya atas semua pujianmu atas masakan-masakanku yang ala kadarnya. Jauh dari keahlian ibu-ibu kita, yang keduanya pintar masak dan punya bisnis catering. Pujianmu membesarkan hatiku untuk terus berusaha mencoba beragam masakan. Sesekali protesmu mencambukku, agar lebih disiplin mengikuti resep sehingga masakan yang tersaji tidak berbeda jauh dengan bayanganmu. Sesekali teguranmu mengingatkanku agar lebih berhati-hati dalam berbelanja dan memasak, supaya tidak banyak bahan pangan yang mubadzir.
Suamiku yang mengerti kondisiku, terima kasih ya karena tidak pernah protes ketika mengetahui aku tidur siang di rumah dan tidak pernah membangunkanku di tengah malam untuk sekedar minta membuatkan kopi / teh teman lemburmu. Namun tetap bersedia bangun untuk sekedar menemaniku menyetrika baju-baju kita. Terima kasih banyak atas kesadaranmu dan kesedianmu turut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang seringkali dianggap sebagian orang sebagai pekerjaan perempuan.
Suamiku yang super santai, terima kasih ya atas kesabaranmu ketika pulang kantor mendapati rumah seperti kapal pecah. Bukan amarah yang kamu tampilkan, justru senyuman dan pertanyaan akan aktivitas kami hari ini. Ya, aktivitasku dan Roetji. Dengan pertanyaanmu ini, aku merasa dihargai, disayangi, sebagai diriku dan istrimu, bukan hanya karena aku ibu dari anakmu. Terima kasih...
Suamiku yang seniman, terima kasih ya atas rumah kecil yang kita huni sekarang. Rumah kecil yang kamu desain dengan seleramu, kreativitasmu dan perjuanganmu dan tentu saja mengakomodir pertimbangan-pertimbangan sok ilmiahku. Rumah kecil yang unik dengan berbagai bahan bangunan, sehingga nyaris semua ragam bahan bangunan ada contohnya di sini. Rumah kecil yang cantik dan insyaAllah akan semakin cantik dengan campur tangan kreativitas Roetji. Semoga menjadi rumah surga di dunia, salah satu tempat kita membangun jalan kita bersama menuju surgaNya di akherat kelak.
Suamiku guruku, terima kasih ya telah mengajariku dan mendukungku untuk berusaha menjadi pribadi yang berusaha meningkatkan kemampuan diri, agar bisa berkolaborasi bukan berkompetisi. Semoga kita bisa bersama kuliah lagi, ke luar negeri, mengajak Roetji mengenal karunia Ilahi.
Ah, ingin rasanya kutuliskan semua rasa yang ada di hati ini, namun, maafkan aku, tidak mampu menuliskan semua detil rasa terima kasihku kepadamu dalam kesempatan ini. Aku terlalu malu untuk menuliskannya, namun aku yakin kita saling menyayangi karena Allah. Terima kasih suamiku, kita terus dan akan terus bertumbuh bersama dalam keluarga yang senantiasa mencoba berpegang teguh pada tali-tali Allah dan Rasulullah. Semoga kita bisa mencapai tujuan kita, menjadi diri pribadi dan orangtua yang sesuai fitrah, yang pantas membersamai anak-anak kita berkembang dan bertumbuh sesuai fitrahnya dengan optimal.
Semoga ini menjadi sebagian contoh baik yang ditiru dan dikembangkan oleh Roetji (dan adiknya nanti), sehingga mereka tumbuh menjadi pria/perempuan yang mencintai dirinya, bertanggungjawab dan menyayangi serta menghargai istri/suaminya sepenuh hati, menjadi Bapak yang menyayangi dan disayangi cucu-cucu kita, menjadi pribadi unggulan yang bermanfaat bagi semesta. Tentu dalam jalur yang dibenarkan Allah, Rasulullah, negara, masyarakat, dan keluarganya, dalam naungan kasih dan sayang Allah SWT.
Respon suami saya:
Aku tersentak, aku terhenyak, betapa istriku mengagumi kesantaianku dan kekreatifanku. Itu semua sebetulnya kado untuk istriku, karena istriku biasanya tegang terus, diajak santai nggak mau, ahh..
Setelah membaca NHW#3 ini, aku ingin rumah kami agak lebih santai tapi lebih terstruktur juga sih. Maaf ya belum bisa terstruktur, terlalu santai.. Gitu deh..
Makasih sayang... *ketjoep
****
Sewaktu Roetji berumur 3 tahun, kami pernah mengajak Roetji berkenalan dengan sekolah, PAUD kampung di kampung ibu saya. Waktu itu kami belum tahu apapun tentang homeschooling, dan menganggap bahwa sekolah merupakan satu-satunya cara mendidik dan mengajari anak. Namun ternyata, seiring waktu, kami merasa Roetji tidak cocok dengan cara belajar di PAUD itu. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak meneruskan upaya kenalan dengan sekolah ini. Alhamdulillah, kami dipertemukanNya dengan konsep homeschooling, yang kemudian terus kami pelajari sampai akhirnya kami mantap untuk memilih belajar di rumah sebagai cara kami belajar bersama. Homeschooling atau belajar di rumah memberi kami lebih banyak kesempatan untuk lebih mengenal Roetji, dan juga mengenal kami. Sejak memutuskan ini, kami merasa yakin Allah memberi kami kesempatan untuk membuka dan membaca buku besarNya yang dititipkanNya kepada kami dengan seksama dan bertumbuh. Buku besar itu bernama Roetji Noor Soepono, anak semata wayang kami (saat ini). Buku besar yang selalu siap setiap hari, dan saya baca nyaris sepanjang hari, setiap hari. Sedangkan Bapak e tentu tidak membersamai secara fisik ketika beliau harus menjalankan kewajibannya yang lain (bekerja). Banyak ilmu yang kami peroleh dari buku besar kami, banyak pula yang masih disembunyikanNya dan perlu kami pelajari bersama seoptimal kemampuan kami.
Sekarang buku besar kami berumur 6 tahun 2 bulan. Jika semua pengamatan kami tuliskan, wah, sepertinya akan sangat panjaaang.. Jadi tulisan ini hanya sebagian kecil, yang saya anggap pantas untuk dibagikan, dan semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya J
Sejak kecil kemampuan motorik kasar Roetji sangat kuat. Ketika belajar berjalan dengan ditetah, ia tidak mau jalan setapak demi setapak, namun minta berlari mengejar bola. Akhirnya ia bisa berjalan ketika berpegangan pada tongkat almarhum kakeknya. Roetji sangat aktif bergerak: lari, koprol, guling-guling, panjat-panjat, meniti, dll, namun sangat jarang jatuh. Sampai sekarang, sepertinya ia baru mengalami 5 kali lecet di kaki, 2 kali lecet di siku,  dan 2 kali benjut keningnya.
Roetji juga terampil dalam motorik halus. Ia bisa meniru kami membuat pesawat kertas dan kapal kertas ketika ia belum genap 3 tahun, dengan bentuk yang cukup rapi dan presisi. Roetji bisa mengaduk adonan kue dengan mixer tanpa tumpah ketika ia berumur 3 tahun sampai sekarang. Roetji mulai belajar memotong bahan masakan dengan menggunakan pisau dapur ketika usianya belum genap  4 tahun, dan alhamdulillah, tidak pernah jarinya terkena pisau. Ia mampu menggunting kertas membentuk huruf A, B, O, R, ... dengan benar, termasuk membuat lubang-lubangnya, tanpa merusak kertas tsb. Sepertinya cara ini yang membuat Roetji mengenal dan memahami huruf. Selain itu, saya cukup rajin membacakan buku-buku dan menantang Roetji agar bisa membaca berbagai buku yang kami punya. Kami pun membebaskan Roetji untuk membaca dengan berbagai posisi: duduk tenang, jongkok, lari-larian, tiduran, atau bahkan koprol. Akhirnya Roetji jadi bisa membaca dan menulis tanpa perlu saya bimbing dengan menggunakan buku-buku / LKS untuk anak PAUD / TK. Ketika Roetji hampir 5 tahun, ia sudah terampil membaca dan mulai bisa menulis. Sekarang, Roetji bisa membaca tanpa bersuara (dibatin), dan ia bisa tertawa terbahak-bahak setelah membaca kalimat yang dianggapnya lucu J
Selain itu, sejak umur 2 tahunan, Roetji sudah memperlihatkan bakat menggambar, darah seni yang mengalir dari keluarga Bapak e. Ia bisa menggambar realis, dan seiring waktu, semakin mirip dengan benda asli yang digambarnya. Bahkan ia bisa menggambar dalam berbagai perspektif, tampak atas, tampak depan, tampak samping. Roetji juga mempunyai daya imajinasi yang tinggi. Ketika ia belum lancar berbicara, ia bisa mengenali logo Superindo sebagai singa. Ia bisa membuat pelangi dengan air yang disemprotkannya dari alat penyemprot tanaman yang diarahkannya ke matahari setelah ia membaca buku tentang hujan, matahari dan pelangi. Ia bisa bermain bayangan dengan seru, membuat gambar bagian-bagian mesin cuci meskipun ia sama sekali belum pernah melihat gambar-gambar itu, bermain cahaya, menyusun lego blok menjadi bentuk-bentuk tertentu yang bisa dipahami orang lain, dll.
Indra pengecap Roetji dan selera makannya juga cukup bagus. Roetji juga bisa membayangkan rasa makanan / minuman yang sedang kami racik dengan memperhatikan bahan-bahan yang kami gunakan. Misalnya, kemarin kami membuat yogurt buah. Ketika akan membuat yogurt pisang buah naga, Roetji minta membuat dengan komposisi yogurt : pisang : buah naga = 1 : 1 : 0,5. Namun saya tidak menurutinya, memilih membuat dengan komposisi 1 : 2 : 0,5. Alhasil, setelah jadi, Roetji berkomentar bahwa yogurt buah naga ini rasanya terlalu dominan rasa pisang, jika menggunakan satu pisang saja seperti sarannya, rasanya akan pas J
Sejak Roetji mengenal fungsi kamera (HP mau pun DSLR), Roetji sangat tertarik dengan fotografi (dasar) dan video. Karya-karya fotonya, menurut Bapak e yang juga hobi fotografi, cukup bagus untuk anak-anak seusianya, terutama dalam hal pemilihan angle dan komposisi. Roetji pun sangat senang menonton youtube, seperti lazimnya anak-anak sekarang. Tontonan tersebut menjadi bahan pelajarannya, ia bisa sangat lancar menirukan dan menceritakan kembali apa yang ia tonton, menemukan inti pesan dari tontonan tersebut, membandingkannya dengan film / buku lain tentang isi tontonan itu.
Selain itu, Roetji juga termasuk anak yang cukup perfeksionis dan detil. Ketika ia menyusun balok-balok lego menjadi bentuk tertentu, kemudian tidak sengaja karya tsb rusak dan kemudian saya / bapak e susun ulang, ia bisa mengetahui posisi lego yang tidak persis sesuai aslinya. Jadi kami harus memfoto setiap karyanya, agar jika tidak sengaja rusak, kami bisa menyusun ulang dengan persis sama. Ia juga bisa mengedit ketikan saya ketika ia mendikte saya mengetikkan dongeng atau pun ceritanya atau pun hafalannya. Pernah ia menghafal naskah film Maha Guru Merapi, yang berdurasi 25 menit, kira-kira sekitar 4 halaman kertas A4. Ia meminta kami (saya dan Bapak e) menuliskan hafalannya tersebut (tulisan tangan). Setelah selesai, ia baca dengan teliti huruf per huruf, dan setiap tanda baca. Tidak boleh ada kesalahan satu huruf pun.
Roetji juga anak yang mudah merasa cukup dengan apa yang dia miliki. Ia nyaris tidak pernah minta dibelikan mainan, apalagi sampai tantrum, ketika kami berbelanja di pasar atau pun supermarket. Ia paham kalau membeli mainan harus di toko mainan, dan cukup satu mainan untuk beberapa waktu. Suatu saat, ia pernah meminjam HP saya, untuk memotret helicopter remote control di toko A, katanya ia mau membandingkan harga mainan itu dengan di toko B. Nanti jika uangnya sudah cukup, ia akan membeli di toko yang harganya lebih murah. Roetji juga pernah memarahi saya karena saya membeli tas lagi, padahal tas yang saya punya masih bisa dipakai. Katanya: “Ibu, sekarang ibu punya berapa tas? Tas yang kemarin masih bisa dipakai kan? Kenapa ibu beli lagi? Kan kasihan dengan orang lain, jadi tidak bisa beli tas. Bapak kemarin beli tas karena tas yang biasa dipakai bapak rusak, bisakan?” Ah, rasanya saya punya akuntan pribadi yang galaknya minta ampun J
Saat ini, Roetji berumur 6 tahun 2 bulan, buku besar kami ini sedang lebih banyak menampilkan dirinya yang senang mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan pendapatnya, baik secara personal atau pun di forum besar (di depan banyak orang lain yang tidak dikenalnya dengan baik). Roetji juga tidak takut menyapa orang yang baru dikenalnya (terutama orang dewasa) dan akhir-akhir ini sudah cukup terampil memulai percakapan dan bermain bersama dengan teman sebayanya. Roetji juga sudah mau berbagi, bahkan berinisiatif untuk berbagi tanpa diminta / disuruh (ctt: konsep berbagi sengaja kami latih setelah ia memahami konsep kepemilikan). Sebuah ketrampilan dasar yang sempat menjadi kekhawatiran keluarga besar kami karena ketika balita Roetji tidak mau berbagi J
Roetji senang sekali membaca, mengamati dan melakukan percobaan sesuai keinginan dan pengetahuannya. Sepertinya kemampuannya ini berkorelasi dengan pilihan kami untuk meminimalisir mainan pabrikan, dan melimpahinya dengan buku-buku serta membebaskannya menggunakan (nyaris) semua benda yang ada di rumah kami sebagai mainannya. Cara Roetji membaca juga cukup unik. Ia bisa membaca dari depan, samping atau pun atas. Ia sering kali membaca satu tema tertentu dari beberapa buku sekaligus, ia bandingkan satu persatu. Misalnya, ketika ia membaca buku tentang sifat-sifat mulia yang diajarkan Al Qur’an, ia akan mengambil Al Qur’an dan meminta saya membacakan ayat Qur’an yang sedang diceritakan itu.
Roetji anak yang sangat kreatif. Ia (nyaris) tidak mau membuat karya yang sama persis dengan petunjuk (kecuali membuat robot di tempat lesnya, yang akhir-akhir ini sedang menjadi fokus kami). Karya-karyanya dan pendapat-pendapatnya selalu unik, orisinil, namun logis dan bisa diterima. Ia bisa mengajukan argumen yang tepat untuk mendukung kreativitasnya itu. Ia bisa membuat karya dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Ia bisa menyusun pertanyaan dan pendapatnya dari berbagai sumber yang pernah berinteraksi dengannya, baik itu berupa buku, video / film / musik di TV / youtube / bioskop, maupun omongan orang dewasa di sekitarnya.
Selain itu, Roetji juga tampak tertarik pada bahasa. Ia menikmati bahasa yang beragam. Sejak kecil, kami melatih dan membiasakannya berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Jawa krama madya, seperti yang lazim kami gunakan dalam keluarga besar saya. Ketika ia berumur hampir 5 tahun, Roetji mulai bisa memahami ketika ada yang berkomunikasi cukup panjang dengannya dalam Bahasa Indonesia, namun ia jawab dalam Bahasa Jawa. Setelah Roetji bisa membaca buku dan senang menonton video / film di TV dan Youtube, sejak umur 5 tahun sampai sekarang, Roetji hanya mau bercakap dalam Bahasa Indonesia, meskipun kami tetap mengajaknya bercakap dalam Bahasa Jawa. Akhir-akhir ini, Roetji juga senang meminta namanya dituliskan dalam beragam bahasa dunia: Arab, Inggris, Rusia, Jepang, Cina. Alhamdulillah, sekarang sudah ada google translate J Namun demikian, khusus belajar Bahasa Inggris, saya mengajak Roetji belajar menggunakan kamus Indonesia – Inggris ketika kami membaca buku berbahasa Inggris. Selain itu, ketika Roetji membaca sendiri buku-bukunya yang berbahasa Inggris, ia sering bertanya kepada kami arti kata-kata yang dianggapnya menarik. Anehnya, saat ini Roetji tidak tertarik dengan buku Iqra’ namun minta diajari langsung dari Al Qur’an.. J
Sepertinya Roetji mempunyai benih menjadi pemimpin, ia mampu memperjuangkan keinginannya dengan berbagai cara agar terpenuhi, mampu menahan keinginannya yang lain sebelum targetnya itu tercapai. Roetji bisa mengorganisir orang dewasa dan teman-temannya untuk membuat suatu kegiatan. Ia sangat fokus, serta selektif memilih informasi dan perintah yang mau ia dengarkan dan turuti, dan mengabaikan yang lain. Juga mampu mempresentasikan pendapatnya di depan orang lain, yang sudah dikenalnya dan belum, forum kecil atau pun besar.
Dalam upaya kami menguatkan benih kepemimpinannya, Roetji kami ajak belajar mandiri. Sejak umur 5 tahun, Roetji sesekali bisa menyiapkan makanannya sendiri. Ia sudah bisa menggoreng telur dadar, membuat sayur tumis, bubur oat, lekker ala Roetji, menyiapkan yogurtnya sendiri, dan membuat puding. Mulai umur 6 tahun, ia sudah cukup terampil mandi sendiri, lengkap dengan keramas dan berpakaian sesuai keinginannya. Sering kali terbalik depan dan belakang, dan ia ngotot tidak mau diperbaiki karena menurutnya gambar di baju / kaosnya itu seharusnya terlihat ketika akan ia kenakan.  
Selain itu, kami juga menstimulasi empatinya. Ia bisa nangis tersedu-sedu atau pun tertawa terbahak-bahak ketika membaca / menonton adegan tertentu, menyiapkan obat-obatan yang diperlukan ketika Ibu / Bapak e sakit, memberikan mainannya ke temannya yang menangis, dll. Roetji pernah menolak naik becak karena ia kasihan Bapak becak e harus mengayuh becak yang kami tumpangi. Namun perlahan, setelah bisa menerima penjelasan kami bahwa ini cara Bapak becak mencari rezeki, ia mau naik becak tapi melarang saya menawar tarifnya. Kami juga menstimulasi kemampuannya berorganisasi. Antara lain dengan memfasilitasi inisiatif Roetji untuk mengorganisir bioskop mini untuk anak-anak di rumah kami dan rumah Simbah e dan memimpin  peserta family gathering komunitas PKBM Saung Impian Matahari (peserta dewasa dan anak-anak) ketika akan memulai berkegiatan bersama.
Semoga dengan mengenali benih alamiah Roetji dengan cara seperti ini, kami bisa membangun jalur yang benar dalam menemani Roetji bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya dengan optimal. Kami berharap Roetji menjadi pribadi yang mulia, di mata Allah, semesta dan manusia.
***
Nah, sekarang masuk bagian yang tersulit. Membaca diri sendiri itu ibaratnya seperti posisi jari-jari kita ketika menuding, satu jari dengan kuatnya mengarah ke orang lain, namun empat jari yang mengarah ke diri kita sering kali terlupakan J
Saya merasa, mengira dan berpikir bahwa saya ini pribadi yang relatif mudah membangun hubungan dengan orang baru namun tidak cukup terampil mempertahankannya menjadi hubungan akrab yang lama. Begitu pula dalam pekerjaan, bacaan, mau pun minat. Intinya, rentang fokus saya cukup pendek, gampang bosan ketika sudah terjebak pada rutinitas. Ini mengakibatkan saya perlu membuat tantangan-tantangan khusus agar hidup saya dan keluarga kami dinamis. Saya senang jalan-jalan, blusukan di pasar-pasar rakyat dan mal, juga dolan ke luar kota. Sepertinya Roetji juga mempunyai kecenderungan yang mirip dengan ini. Ia bertekun membaca satu buku sampai selesai jika ia benar-benar tertarik dengan buku tersebut. Jika tidak, ia bisa berganti-ganti membaca 3 – 5 buku dalam satu sesi membaca.
Saya sering kali terlampau perhatian pada hal-hal detil, terutama pada tulisan (ketikan). Saya bisa mengetik dengan kemampuan di atas rata-rata dan cepat mengenali kesalahan pengetikan. Kemampuan saya ini cukup membantu pekerjaan suami saya, dan sepertinya Roetji juga mempunyai kecenderungan ini. Saya sering bekerja sebagai notulen, mentranskrip rekaman audio dan video, serta berharap suatu saat bisa menjadi editor buku.
Semasa kuliah, teman-teman menilai saya bisa melakukan analisis dengan baik dan cukup komprehensif. Juga mampu melakukan presentasi di depan umum. Saya mengakui itu. Dan sepertinya Roetji punya kecenderungan ini.
Saya selama ini cenderung mendidik diri menjadi perfeksionis dan kompetitif. Dan sepertinya sifat perfeksionis ini juga menurun pada anak kami, meskipun setelah menikah, Bapak e Roetji berusaha mengajari saya untuk lebih santai dan mengembangkan kemampuan kolaborasi, bukan kompetisi. PR besar bagi saya untuk berusaha keras mengurangi mental kompetisi, menggantikannya dengan mental kolaborasi.
Sejak SMA, saya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan media massa. Saya sempat bergabung dengan pers abu-abu, pers mahasiswa, dan bekerja di NGO yang berhubungan dengan literasi media. Rupanya Allah menyiapkan saya untuk menjadi pendamping seorang pria yang juga tertarik dengan bidang media massa namun bukan jurnalist. Roetji pun nampak sangat menikmati dan tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan media massa. Sejak ia mengenal fungsi kamera (HP mau pun DSLR), Roetji sangat tertarik dengan foto dan video. Karya-karya fotonya, menurut Bapak e yang punya bekal ilmu fotografi, bagus untuk anak-anak seusianya, terutama dalam hal pemilihan angle dan komposisi. Roetji pun sangat senang menonton youtube, seperti lazimnya anak-anak sekarang. Tontonan tersebut menjadi bahan pelajarannya, ia bisa sangat lancar menirukan dan menceritakan kembali apa yang ia tonton, menemukan inti pesan dari tontonan tersebut, membandingkannya dengan film / buku lain tentang isi tontonan.
Saya senang berorganisasi, kerja-kerja membangun jejaring dan pengorganisasian. Bagi saya, bertemu orang baru dan berusaha menemukan hal-hal yang bisa dilakukan bersama, sharing ide, dll merupakan hal yang mengasyikkan. Rupanya ini merupakan salah satu bekal agar saya lebih mudah menyesuaikan diri dengan suami yang senang membuat event. Semoga Roetji akan meneruskan ketertarikannya di bidang ini.
Saya cukup senang membaca buku dan menulis. Bagi saya, menulis itu kesempatan untuk bercerita, berbagi rasa dan pikiran saya. Suami saya juga senang membaca buku dan menuliskan pikiran-pikirannya. Rupanya ini juga menjadi salah satu ketertarikan Roetji seperti yang saya ceritakan di atas.
Selain itu, saya termasuk orang yang tidak mudah percaya dengan aturan / norma yang disampaikan orang lain. Saya sering kali berusaha mencari logika dan alasan-alasan serta sumber / pendapat lain terkait aturan / norma tersebut. Saya yakin, Allah menciptakan manusia menjadi mahluk yang lebih mulia dari pada mahluk lain dengan membekali iman dan akal sebagai satu paket. Dalam beriman, kita tidak boleh melupakan akal. Begitu pula, dalam menggunakan akal, kita tidak boleh meninggalkan iman.
Sepertinya saya baru berhasil mengidentifikasi potensi diri sendiri dan menuliskannya seperti ini.
***
Terkait dengan lingkungan tempat kami tinggal sekarang, saya belum cukup mengenal dengan baik. Kami baru sekitar 2 tahun ini pindah dari Sleman ke Solo dan masih sangat sering ke Sleman dan Semarang. Sepertinya, kampung tempat kami tinggal sekarang merupakan kampung migran, sebagian besar warganya merupakan warga pendatang dari wilayah lain, baik dari Solo maupun luar kota. Hal ini berhubungan erat dengan posisi geografis kampung kami yang cukup tinggi sehingga terbebas dari banjir yang akhir-akhir ini sering melanda Kota Solo, namun secara administrasi dan morfologi kota masih termasuk wilayah Kota Solo. Di sekitar rumah kami cukup banyak fasilitas-fasilitas yang cukup mendukung aktivitas kami, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pembelajaran Roetji.
Oleh karena posisi geografis kampung kami, ditambah dengan adanya Kali Anyar, membuat kampung kami cukup kesulitan memperoleh air bersih. Untuk kebutuhan MCK, kami mengandalkan air PDAM yang kualitas airnya tidak cukup layak untuk dikonsumsi dan setiap hari pasti mati dalam beberapa jam tertentu. Untuk kebutuhan memasak, kami menggunakan air dari sumur arthesis yang terdapat di panti asuhan yatim piatu korban konflik Ambon yang berada di kampung kami. Sedangkan untuk kebutuhan minum, kami menggunakan air galon. Kami sulit membuat sumur biasa, karena air belum juga diperoleh ketika sudah menggali lebih dari 25 meter. Kondisi ini merupakan tantangan terberat bagi saya yang sejak kecil terbiasa hidup di lereng Gunung Merapi, air bersih dan segar tersedia dengan cukup melimpah dan mudah. Selain itu, amanah ilmu yang saya pelajari ketika kuliah dan bekerja, juga sepertinya memanggil saya untuk berbuat sesuatu terkait dengan ketersediaan air bersih di kampung kami.
Masyarakat di kampung kami mayoritas termasuk kelas ekonomi menengah ke bawah (sebenarnya saya tidak nyaman menggunakan istilah ini). Kebanyakan bekerja sebagai buruh pabrik dan industri rumahan sangkar burung dan bengkel kenteng mobil. Kami berharap saya bisa bekerja di rumah dengan melibatkan warga sekitar secara positif.
Remaja di kampung saya sepertinya tidak aktif berorganisasi. Organisasi kepemudaan tidak berfungsi dengan baik meskipun jumlah remaja cukup banyak. Saya melihat ini sebagai potensi, yang semoga suatu saat bisa menjadi mitra kami berbuat sesuatu yang berarti bagi masyarakat.

Sementara ini salah satu usaha kami adalah segera mewujudkan perpustakaan anak dan ruang menonton. Sekarang kami sedang mengumpulkan buku-buku, LCD proyektor, layar, dan speaker. Kami ingin bisa berbagi sumber daya dan kemampuan yang Allah titipkan kepada kami dengan masyarakat sekitar. Kami berharap dengan cara ini kami dan tetangga sekitar bisa lebih melek media, tidak mudah percaya info / berita yang disebarkan melalui media massa atau pun media sosial. Karena kami yakin, untuk mendidik satu anak dibutuhkan satu komunitas yang belajar sama-sama, bekerja sama-sama, dan kerja sama-sama. Sepertinya ini merupakan salah satu peran spesifik keluarga kami, yang insyaAllah bisa kami wujudkan dalam waktu dekat. Sekaligus menjadi tapak untuk menuju peran spesifik kami yang lain J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar