Sabtu, 25 Februari 2017

NHW#5 Belajar Bagaimana Caranya Belajar

Belajar Menjadi Kebo Nusu Gudhel

Materi NHW#5 ini sangat menantang dan bertepatan dengan waktu kami menyusun Rencana Pokok Pembelajaran Keluarga AIR (Aji Iin Roetji) sebagai keluarga homeschooler. Saat ini, RPP tersebut sedang dalam proses penyusunan, sehingga materi NHW#5 ini bisa menjadi bahan yang tepat J
Kami membayangkan kalau design pembelajaran atau kami menyebutnya Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) Keluarga AIR akan menjadi semacam buku besar yang menjadi panduan bagi kami dalam melangkah sebagai keluarga, terutama dalam membersamai anak kami belajar, bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya seoptimal mungkin. RPP ini akan sangat khas, unik, berdasarkan kebutuhan kami dan menyesuaikan kondisi kami. Porsi terbesar adalah porsi pembelajaran pendidikan Roetji. Oleh karena kami memilih homeschooling sebagai cara kami memenuhi hak anak akan pendidikan yang terbaik untuknya, maka kami berkomitmen akan turut mendidik diri kami sebagai pribadi dan orangtua yang semakin baik pula. Kami ingin menjadi orangtua pembelajar yang mau dan bisa terus belajar agar pantas membersamai anak belajar.
Kami ingin menemani Roetji menyadari siapa dirinya sehingga bisa mencapai sesuatu yang dicita-citakannya meskipun cita-cita tsb, pada saat ia pilih / nyatakan, seolah-olah ‘terlalu tinggi’. Jika cita-citanya itu diibaratkan dalam peribahasa ‘Bagai pungguk merindukan bulan’ maka kami akan berusaha membantu dan menemani pungguk tersebut meraih bulannya. Kami akan bersama-sama menyiapkan pribadinya dan membangun alat yang tepat untuk meraih bulan tersebut. Bisa jadi kami akan mencoba berbagai cara, bisa dengan membangun tangga atau roket atau pun mesin waktu atau sesuatu yang saat ini belum mampu kami bayangkan.  Kami ingin mempunyai cukup waktu untuk menyusun itu semua, sehingga saat ini, ketika Roetji berumur 6 tahun, kami rasa merupakan waktu yang tepat untuk memulai.
Selama ini (0-6 tahun) kami memilih untuk menjadi pembaca ‘buku besar titipan Ilahi’ yang bernama Roetji Noor Soepono, sealami mungkin, dengan meminimalisir campur tangan orang lain (sekolah dan mainan pabrikan yang kurang melibatkan partisipasi anak). Kami memilih mengkondisikan buku besar ini apa adanya, tidak diedit dengan berlebihan supaya tidak bias. Kami memilih membersamai tahun-tahun awalnya dengan metode unschooling, tidak terstruktur, spontan dan menggunakan apa yang ada dan yang kami adakan semampu kami.
Sebagian kecil dari hasil sementara pembacaan kami atas ‘buku besar titipan Ilahi’ telah tertulis di NHW#3. Hasil pembacaan yang lebih utuhlah yang menjadi batu pijakan kami dalam menyusun RPP keluarga AIR. Sedangkan terkait dengan NHW#5 dan target belajar di Institut Ibu Profesional ini lebih untuk pengembangan kapasitas diri saya sebagai pribadi, istri dan ibu, maka tulisan ini akan lebih fokus pada proses saya dalam menyusun RPP keluarga AIR.
***
Jurusan ilmu yang saya pilih di universitas kehidupan ini adalah jurusan Ibu Profesional. Oleh karena itu saya akan belajar semua ilmu turunannya, baik yang terkait secara langsung atau pun tidak. Supaya saya tidak mengalami (lagi) kebingungan menentukan tujuan, jalur pembelajaran dan bahan-bahan pembelajaran yang perlu saya siapkan maka saya harus menyusun rencana pembelajaran yang lebih detil, aplikatif, khas kula sanget.
Sebagian tapaknya sudah tertulis di NHW#3, di RPP Keluarga AIR, dan sebagian lainnya masih diangan-angan alias baru dipikirkan. Namun demikian, saya tetap akan mencoba menyusun rencana belajar saya sebaik mungkin agar bisa saya praktekkan bersama keluarga dan menjadi kesempatan belajar menyusun rencana belajar anak kami.
‘Membuat BISA itu mudah, tapi membuat SUKA itu baru tantangan’. Saya setuju dan suka sekali dengan quote ini. Rasa suka itu bisa menjadi energi tersendiri yang adakalanya sangat besar untuk melakukan sesuatu, termasuk belajar.
Oleh karena itu, dalam menyusun rencana belajar saya, saya akan mencoba membedah diri saya sendiri untuk menuliskan tantangan-tantangan yang perlu saya atasi untuk mengubah BISA menjadi SUKA.  
1.       Membersamai anak nyaris sepanjang hari – menjadi ibu sepenuh hati, menjadi guru, menjadi fasilitator, menjadi teman
2.       Rutinitas pekerjaan rumah tangga – menjadi ibu rumah tangga yang cekatan, disiplin, pandai mengelola waktu dan pekerjaan, mengubah mind set pekerjaan rumah menjadi games, dll ;
3.       Berlama-lama ada di rumah – menjadi pribadi yang bisa berkarya produktif dan bermanfaat bagi banyak pihak dengan tetap menjadikan rumah sebagai ruang utama.

Belajar Membersamai Anak Nyaris Sepanjang Hari
Dalam ilmu ini saya, insyaAllah, berkomitmen dengan rencana belajar saya mempelajari tiga hal penting:
1.       Belajar hal yang berbeda
Dalam kesempatan belajar ini saya akan fokus mempelajari hal-hal yang dapat:
a.       Menguatkan iman –
Saya ingin membangun keluarga yang percaya terhadap Allah, Kitab, Rasul, Hari Kiamat dan Qada’ dan Qadar dengan imaji positif yang menggerakkan.
Prinsip yang saya pegang adalah Basmallah, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Saya ingin kami sekeluarga tumbuh menjadi pribadi yang lebih mudah mengapresiasi dan menerima hal baik yang dikaruniakan Allah dan mensyukurinya. Bagi saya pribadi, hal ini merupakan tantangan tersendiri, karena sejak kecil saya lebih sering diajari bahwa Allah itu mudah marah, sedikit-sedikit dosa, mengancam dengan azab, kalau sakit itu tanda Allah sedang menghukum kita, orangtua itu boleh mengancam anak akan durhaka jika tidak mau menuruti keinginan / saran orangtua dan bahwa kita sangat mudah masuk neraka. Ajaran bahwa Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang hanya menjadi hafalan dan teori, yang sering diucapkan saja. Tidak mendarah daging dalam setiap gerak dan ucapan kita. Hal ini membuat saya lebih mudah melihat sisi negatif orang lain atau pun keadaan, lebih mudah marah, dan kurang bersyukur atas semua hal baik yang saya alami. Bismillah, saya ingin mengubah cara pandang ini untuk menjadi pribadi yang beriman tanpa rasa takut, pribadi yang beriman dengan sepenuh cinta.

b.       Menumbuhkan karakter yang baik
Saya menyadari bahwa banyak kebiasaan saya yang kurang baik sehingga menjadi bagian dari karakter saya. Saya menyadari bahwa mengubah kebiasaan itu bukan perkara gampang. Oleh karena itu, saya akan belajar sepenuh hati, melibatkan suami dan anak dalam proses bersama untuk saling menumbuhkan dan membangun karakter yang baik.
Sejak membuat NHW#2, saya mulai membiasakan membuat cek list untuk membantu membangun kebiasaan baik. Meskipun saat ini cek list tersebut masih banyak yang bolong dan berantakan, saya akan belajar menerima dengan sepenuh hati, tidak banyak alasan untuk memaklumi atau pun memaafkan diri saya. Kemudian berusaha memperbaiki cek list dan aktivitas saya bersama keluarga.

c.       Menemukan passion (panggilan hati)
Saya akan lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca dan berdialog dengan diri saya sendiri. Juga akan lebih sering ngobrol santai dengan suami dan memintanya membantu saya membaca diri saya.
Semenjak tidak bekerja di luar rumah, saya merasa banyak hal yang berbeda dalam diri saya. Termasuk panggilan hati saya. Sebenarnya saya menyadari bahwa panggilan hati saya adalah berkerja di luar rumah. Namun demikian, karena kesepakatan dan komitmen kami sekeluarga untuk fokus mendidik anak di rumah dan membangun pondasi keluarga di tempat baru maka untuk beberapa tahun ini saya belum bisa berkarya di luar rumah dengan optimal. Oleh karena itu, saat ini kami masih mencari binar-binar di mata saya dan mengusahakannya lebih sering muncul kembali meskipun saya tidak bekerja di luar rumah.  Dalam upaya ini saya akan lebih intensif melibatkan suami dan anak kami karena mereka lah yang paling sering berinteraksi dengan saya dan insyaAllah mau jujur menyampaikan pendapat mereka.
Sementara ini saya merasa bahagia ketika saya bisa menuliskan pengalaman bermain dan belajar bersama Roetji,  menuliskan pemikiran-pemikiran saya dan angan-angan saya. Selain itu, suami saya melihat binar-binar di mata saya ketika saya menjadi fasilitator pertemuan orangtua homeschooling, baik formal maupun informal. Saya juga bersemangat ketika berdiskusi dengan orang-orang yang sevisi, terlebih ketika membahas tentang pengasuhan anak, homeschooling dan kebudayaan.

2.       Cara belajar yang berbeda
Sejak dulu saya mendidik diri menjadi pribadi yang kritis, tidak mudah percaya pada omongan orang dan senang mengajukan pertanyaan serta berdiskusi dengan banyak orang. Akan tetapi, semenjak saya memilih untuk (sementara) fokus di rumah, maka cara belajar yang seperti ini mengalami banyak perubahan.
Saya masih ingat ketika Roetji sedang belajar berbicara, pertanyaan yang paling sering ia kemukakan adalah “bagaimana”, baru kemudian pertanyaan “apa” dan “kenapa”. Sekarang, ia paling senang bertanya “kenapa?”
Saya dan suami berkomitmen untuk semakin mengembangkan rasa ingin tahu Roetji dan melatihnya agar berani dan terampil bertanya, serta menemaninya menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya dan memancingnya untuk mengajukan pertanyaan lagi dari jawaban yang ditemukannya. Begitu seterusnya sebagai siklus sampai ia merasa cukup puas akan pertanyaan dan jawabannya itu. Sebisa mungkin kami akan membiasakan Roetji menanyakan 5W (what, where, why, who, when) + 2H (how, howcame) dengan mengaktifkan panca indranya. Sebisa mungkin kami membiasakan diri untuk tetap berpikir dan bersikap kritis, terutama kepada hal-hal yang baru bisa kami dengar dan lihat, terutama yang kami dengar dan lihat dari ‘katanya’ media (massa atau pun sosial) dan orang lain.
Komitmen itu akan kami wujudkan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan saya membiasakan diri melakukan hal tersebut. Bukankah anak akan belajar lebih banyak dengan meniru apa yang dilakukan orangtuanya? J

3.       Semangat belajar yang berbeda
Semasa kecil sampai kuliah dan bekerja, saya dididik dan mendidik diri dengan mental kompetisi. Mental ini membuat saya terpacu, melawan diri saya dan orang lain. Semakin saya bertambah umur, saya menyadari bahwa semangat berkompetisi ini tidak selamanya bagus bagi diri saya, rasanya sungguh melelahkan. Seperti peribahasa “menang dadi areng, kalah dadi awu”.
Alhamdulillah, saya dipertemukan Allah dengan suami saya yang bermental kolaborasi dengan mengutamakan kompetensi. Rasanya lebih damai dan menyenangkan. Saat ini, saya sedang mendidik diri dan anak kami agar lebih mengutamakan memenuhi kompetensinya, berjuang agar diri ini hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari pada hari ini. Semangat berkompetisi lebih kami tekankan kepada berkompetisi dengan diri sendiri. Kami mempercayai prinsip yang diajarkan Ibu Septi Peni bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses. Capaian orang lain lebih kami pandang sebagai sarana untuk kami melakukan pengukuran, benchmark, atas kompetensi kami. Sebab kami tidak bisa benar-benar mengetahui bagaimana ia / mereka berproses untuk mencapai prestasinya tersebut.  
Dengan semangat yang sama pula, kami berkomitmen untuk menggunakan strategi meninggikan bukit, bukan meratakan lembah. Kami akan fokus untuk mengenali dan mengembangkan potensi kami, passion kami, agar kami dapat mencapai tujuan pembelajaran dan tujuan hidup kami. ‘Bukit dan lembah’ yang ada dalam diri kami menjadi modal dasar untuk berkolaborasi dengan orang lain yang mempunyai ‘bukit dan lembah’ mereka sendiri, sehingga menghasilkan ‘bentang alam’ yang lebih baik dan berharga. Untuk itu, kami juga berusaha agar Roetji bisa mengenal keberagaman sebagai Sunnatullah, sesuatu yang wajar, alamiah dan indah. Untuk itu, kami berusaha memaparkan banyak ragam fisik dan adat istiadat manusia, bentang alam dan ruang angkasa, serta budaya dunia kepada Roetji dengan berbagai cara yang sekiranya menarik untuk ia pelajari secara mandiri.
Roetji sudah bisa menulis ketika ia berumur 5 tahun. Ia juga senang menuliskan pengetahuan yang ia peroleh dari kami, buku yang ia baca, film / video yang ia tonton dan pendapat orang lain. Sering kali ia menyampaikan pendapatnya dalam bentuk gambar-gambar yang ada tulisannya, ada yang merupakan pemaparan dari satu tema tertentu dan kadang merupakan gabungan dari berbagai hal. Ia senang membuat cerita dan meminta saya mengetikkannya karena ia belum lancar mengetik. Saat ini ia baru bisa mengetik sekitar 1-2 paragraf pendek. Kami melihat bahwa Roetji mewarisi salah satu passion kami: menulis. Oleh karena itu, kami bersepakat untuk terus mengembangkan ketertarikan Roetji untuk menulis menjadi salah satu minat dan hobinya. Karena kami yakin menulis merupakan salah satu keterampilan dan seni yang dapat membantu kita menstrukturkan gagasan dan pendapat, memilih dan mengolah kata yang tepat, dan melatih berkomunikasi dengan orang lain yang tidak bertatap muka dengan kita. Supaya kami bisa optimal mendampingi Roetji belajar menulis, maka saya juga harus rajin menulis dan belajar ilmu menulis. Bismillah, saya berkomitmen untuk lebih rajin menuliskan proses pembelajaran keluarga kami di blog keluarga AIR.
Selain menulis, Roetji sepertinya juga mewarisi salah satu passion orangtuanya untuk berbagi dengan orang lain melalui cerita / presentasi. Saat ini ia sudah berani dan bisa bercerita / berpendapat di depan banyak orang yang tidak ia kenal dengan baik. Ia sudah dua kali presentasi di depan komunitas teman sebaya dan orang dewasa: di kemah Kampung Komunitas Indonesia (Kamtasia), Salatiga dan di pertemuan keluarga homeschoolers Koprol Solo dan PKBM Saung Impian Matahari di Tawangmangu. Di Salatiga dan di Tawangmangu, Roetji presentasi tentang belalang yang ia tangkap di area kemah dan menjelaskannya dengan dibantu Bapak e menggunakan mikroskop digital. Di Tawangmangu, Roetji juga presentasi tentang sampah dan pengelolaannya, setelah ia ikut berkunjung di tempat pengelolaan sampah organik dan menonton film tentang sampah. Bagi kami, ini modal dasar yang perlu kami bantu fasilitasi agar berkembang dengan lebih tepat, lebih baik, dan lebih bermanfaat. Kami juga melihat presentasi ini merupakan salah satu cara Roetji untuk belajar. Dengan presentasi ia belajar menyusun pikirannya dengan runut, memilih bahasa dan alat yang tepat, berani mengungkapkan pendapatnya di depan (banyak) orang selain keluarganya, dan menerima respon / pendapat orang lain akan dirinya. Roetji juga jadi belajar adab berada di forum besar, menjadi pendengar dan pembicara yang baik.

Dengan menyadari passion kami sebagai salah satu modal dasar untuk mencapai tujuan hidup maka kami berkomitmen bisa memfasilitasi dan membersamai Roetji mengenali dan mengembangkan passionnya dengan optimal. Kami akan mengembangkan budaya ngobrol keluarga kami dengan diskusi-diskusi kecil yang bisa melibatkan Roetji sehingga Roetji terbiasa mengetahui dan menghargai perbedaan pendapat dan mampu mempertahankan pendapat yang ia yakini benar dengan baik dan sopan. Selain itu, kami juga akan melengkapi koleksi perpustakaan keluarga dengan buku-buku dan video yang bergizi dan perlu, melengkapi peralatan audio visual kami, melengkapi peralatan uji coba science secara mandiri, menyiapkan fasilitas internet yang aman, termasuk melatih Roetji menggunakan teknologi dengan baik dan bertanggungjawab, serta menyiapkan laptop / komputer yang sesuai kebutuhan belajar Roetji pada waktunya nanti. Kami berencana membuka rumah kami menjadi ruang baca dan ruang menonton bagi tetangga sekitar, dengan melibatkan Roetji secara optimal. Kami juga akan membuat forum anak di rumah keluarga anggota komunitas Koprol Solo sebagai sarana bagi Roetji dan teman-temannya belajar mempresentasikan ide dan karya mereka, dan anak-anak belajar menerima respon orang lain. Selain itu, forum ini bisa menjadi sarana belajar bagi orang dewasa untuk menerima dan menghargai anak sebagai pribadi yang utuh.
Kami berharap dengan cara ini Roetji dapat mengembangkan kebiasaan dan pola belajarnya selama ini yang berangkat dari ketertarikannya, rasa ingin tahunya, dengan mengoptimalkan sumberdaya yang kami miliki. Kami akan berusaha mendampinginya menemukan alat atau bahan belajar yang diperlukannya agar ia dapat terus mengembangkan siklus pertanyaan-jawabannya dengan caranya sendiri. Semoga dengan cara ini Roetji dapat tumbuh menjadi pribadi pembelajar yang mandiri dan bertanggungjawab sehingga dapat memenuhi harapan kami Roetji bisa mengenal dirinya dengan lebih baik dan lebih dini. Kami berharap ketika ia berumur 10 tahun, kami sudah mengetahui minat dan bakat Roetji yang paling ingin dan perlu ia kembangkan dan dalami. Sehingga kami dapat membantu memfasilitasinya dengan baik dan tepat sesuai fitrah kami. Dengan demikian, ia akan siap menjadi pribadi akil baligh yang sesuai fitrahnya, tepat pada waktunya (15 tahun). Menjadi pribadi yang merdeka, tahu pasti tujuan hidup dan cita-citanya, sehingga siap mencapainya dengan bahagia dan bertanggungjawab.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa proses pembelajaran kami sekeluarga akan menjadi proses mencapai tujuan jika dapat kami pantau dengan baik. Salah satu alat untuk memantaunya adalah tulisan, dokumentasi proses kami. Dokumentasi ini akan menjadi bahan untuk melakukan refleksi dan menyusun aksi selanjutnya.
Oleh karena itu, saya berkomitmen akan lebih rajin menuliskan proses pembelajaran kami dalam buku besar keluarga dan membagi sebagian diantaranya, yang sekiranya bermanfaat bagi orang lain dan bukan hal privat kami, di blog keluargaAIR yang telah saya buat. Saya juga akan belajar mengelola blog tersebut dengan lebih baik dan menarik, sehingga selain menjadi rekam digital proses pembelajaran kami, juga bisa menjadi salah satu upaya saya memperoleh penghasilan dari rumah J
Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas saya sebagai ibu yang senantiasa membersamai anak, maka saya akan belajar beberapa hal sebagai berikut:
a.       Al Qur’an, terjemah, dan tafsirnya – sebisa mungkin secara rutin dan insidental ketika ada kesempatan yang tepat.
b.       Hadits-hadits Nabi, terutama yang berkaitan dengan keluarga, pengasuhan anak dan muamalah.
c.       Buku-buku parenting – baik yang berbasis agama Islam dan umum
d.       Buku-buku keterampilan – menulis, mengelola blog, membuat video dan foto, percobaan science sederhana yang dapat dilakukan di rumah
e.       Mengikuti pelatihan (online dan offline) terkait parenting, dan keterampilan yang kami butuhkan
f.        Mencari dan menjalin silaturahmi dengan para ahli di bidang yang menjadi minat / passion kami, terutama Roetji
g.       Mencari tempat, acara / kegiatan yang sekiranya bisa meningkatkan kapasitas kami dengan baik dan tepat.


Rutinitas pekerjaan rumah tangga – menjadi ibu rumah tangga yang cekatan, disiplin, pandai mengelola waktu dan pekerjaan, mengubah mind set pekerjaan rumah menjadi games, dll ;
Dalam upaya saya belajar melakukan pekerjaan rumah tangga, saya berkomitmen akan belajar membagi waktu, menyusun dan menepati to do list yang telah saya buat, mengisi cek list dengan benar dan rapi, melatih anak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga secara bertahap sesuai kesiapannya, tidak mudah mengeluh dan berusaha menikmati pekerjaan rumah tangga, melatih keterampilan membagi pekerjaan, dan membangun rasa percaya kepada orang lain yang membantu pekerjaan saya. Saya juga berkomitmen untuk mengatur penggunaan gadget di waktu luang, sehingga tidak menjadi jebakan yang melenakan.
Untuk menambah ilmu terkait hal ini maka saya akan membaca buku Marie Kondo dan buku-buku / blog lain tentang pengorganisasian rumah, belajar dari Ibu dan mertua saya, dan belajar dari pembantu rumah tangga di rumah ibu saya yang sedemikian pintar membagi waktu kerjanya. Saya juga akan menabung untuk membuat / membeli alat-alat rumah tangga yang sekiranya bisa memudahkan saya melakukan rutinitas di rumah.

Berlama-lama ada di rumah – menjadi pribadi yang bisa berkarya produktif dan bermanfaat bagi banyak pihak dengan tetap menjadikan rumah sebagai ruang utama.
Saya berharap rumah kami akan menjadi rumah yang produktif dengan karya-karya yang dapat menjadi alternatif jalan rezeki bagi keluarga kami dan tetangga sekitar. Rumah kami juga menjadi rumah yang menumbuhkan pribadi kami, terutama Roetji.
Oleh karena itu, saya akan belajar ilmu yang berkaitan dengan perdagangan dan pemasaran online, memproduksi barang / jasa yang bisa dijual online, dan mengelola blog / website keluarga AIR sehingga menjadi blog / website yang bisa menginspirasi banyak orang dan menghasilkan uang bagi kami. Selain itu, saya juga akan belajar mengelola perpustakaan dan bioskop komunitas, literasi media, dan ilmu membuat video pendek. Saya juga akan melatih kembali kemampuan presentasi dan menulis saya sehingga saya bisa menyampaikan pendapat saya, secara langsung dan tidak langsung, dengan lebih tepat dan padat.aka saya akan membaca buku Marie Kondo dan buku-buku / blog lain tentang pengorganisasian rumah, belajar dari Ibu dan mertua saya, dan belajar dari pembantu rumah tangga di rumah ibu saya yang sedemikian pintar membagi waktu kerjanya. Saya juga akan menabung untuk membuat / membeli alat-alat rumah tangga yang sekiranya bisa memudahkan saya melakukan rutinitas di rumah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar