NHW#5 Belajar Bagaimana Caranya Belajar
Belajar Menjadi Kebo
Nusu Gudhel
Materi NHW#5 ini sangat menantang dan bertepatan dengan
waktu kami menyusun Rencana Pokok Pembelajaran Keluarga AIR (Aji Iin Roetji)
sebagai keluarga homeschooler. Saat ini, RPP tersebut sedang dalam proses
penyusunan, sehingga materi NHW#5 ini bisa menjadi bahan yang tepat J
Kami membayangkan kalau design pembelajaran atau kami
menyebutnya Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) Keluarga AIR akan menjadi semacam
buku besar yang menjadi panduan bagi kami dalam melangkah sebagai keluarga,
terutama dalam membersamai anak kami belajar, bertumbuh dan berkembang sesuai
fitrahnya seoptimal mungkin. RPP ini akan sangat khas, unik, berdasarkan
kebutuhan kami dan menyesuaikan kondisi kami. Porsi terbesar adalah porsi
pembelajaran pendidikan Roetji. Oleh karena kami memilih homeschooling sebagai
cara kami memenuhi hak anak akan pendidikan yang terbaik untuknya, maka kami
berkomitmen akan turut mendidik diri kami sebagai pribadi dan orangtua yang
semakin baik pula. Kami ingin menjadi orangtua pembelajar yang mau dan bisa
terus belajar agar pantas membersamai anak belajar.
Kami ingin menemani Roetji menyadari siapa dirinya sehingga
bisa mencapai sesuatu yang dicita-citakannya meskipun cita-cita tsb, pada saat
ia pilih / nyatakan, seolah-olah ‘terlalu tinggi’. Jika cita-citanya itu diibaratkan
dalam peribahasa ‘Bagai pungguk merindukan bulan’ maka kami akan berusaha
membantu dan menemani pungguk tersebut meraih bulannya. Kami akan bersama-sama menyiapkan
pribadinya dan membangun alat yang tepat untuk meraih bulan tersebut. Bisa jadi
kami akan mencoba berbagai cara, bisa dengan membangun tangga atau roket atau pun
mesin waktu atau sesuatu yang saat ini belum mampu kami bayangkan. Kami ingin mempunyai cukup waktu untuk
menyusun itu semua, sehingga saat ini, ketika Roetji berumur 6 tahun, kami rasa
merupakan waktu yang tepat untuk memulai.
Selama ini (0-6 tahun) kami memilih untuk menjadi pembaca ‘buku
besar titipan Ilahi’ yang bernama Roetji Noor Soepono, sealami mungkin, dengan
meminimalisir campur tangan orang lain (sekolah dan mainan pabrikan yang kurang
melibatkan partisipasi anak). Kami memilih mengkondisikan buku besar ini apa
adanya, tidak diedit dengan berlebihan supaya tidak bias. Kami memilih
membersamai tahun-tahun awalnya dengan metode unschooling, tidak terstruktur,
spontan dan menggunakan apa yang ada dan yang kami adakan semampu kami.
Sebagian kecil dari hasil sementara pembacaan kami atas ‘buku
besar titipan Ilahi’ telah tertulis di NHW#3. Hasil pembacaan yang lebih
utuhlah yang menjadi batu pijakan kami dalam menyusun RPP keluarga AIR. Sedangkan
terkait dengan NHW#5 dan target belajar di Institut Ibu Profesional ini lebih
untuk pengembangan kapasitas diri saya sebagai pribadi, istri dan ibu, maka
tulisan ini akan lebih fokus pada proses saya dalam menyusun RPP keluarga AIR.
***
Jurusan ilmu yang saya pilih di universitas kehidupan ini
adalah jurusan Ibu Profesional. Oleh karena itu saya akan belajar semua ilmu
turunannya, baik yang terkait secara langsung atau pun tidak. Supaya saya tidak
mengalami (lagi) kebingungan menentukan tujuan, jalur pembelajaran dan
bahan-bahan pembelajaran yang perlu saya siapkan maka saya harus menyusun
rencana pembelajaran yang lebih detil, aplikatif, khas kula sanget.
Sebagian tapaknya sudah tertulis di NHW#3, di RPP Keluarga AIR,
dan sebagian lainnya masih diangan-angan alias baru dipikirkan. Namun demikian,
saya tetap akan mencoba menyusun rencana belajar saya sebaik mungkin agar bisa
saya praktekkan bersama keluarga dan menjadi kesempatan belajar menyusun
rencana belajar anak kami.
‘Membuat BISA itu mudah, tapi membuat SUKA itu baru
tantangan’. Saya setuju dan suka sekali dengan quote ini. Rasa suka itu bisa
menjadi energi tersendiri yang adakalanya sangat besar untuk melakukan sesuatu,
termasuk belajar.
Oleh karena itu, dalam menyusun rencana belajar saya, saya
akan mencoba membedah diri saya sendiri untuk menuliskan tantangan-tantangan
yang perlu saya atasi untuk mengubah BISA menjadi SUKA.
1.
Membersamai anak nyaris sepanjang hari – menjadi
ibu sepenuh hati, menjadi guru, menjadi fasilitator, menjadi teman
2.
Rutinitas pekerjaan rumah tangga – menjadi ibu
rumah tangga yang cekatan, disiplin, pandai mengelola waktu dan pekerjaan,
mengubah mind set pekerjaan rumah menjadi games, dll ;
3.
Berlama-lama ada di rumah – menjadi pribadi yang
bisa berkarya produktif dan bermanfaat bagi banyak pihak dengan tetap
menjadikan rumah sebagai ruang utama.
Belajar Membersamai
Anak Nyaris Sepanjang Hari
Dalam ilmu ini saya, insyaAllah, berkomitmen dengan rencana
belajar saya mempelajari tiga hal penting:
1.
Belajar hal yang berbeda
Dalam kesempatan belajar ini saya akan fokus mempelajari hal-hal yang
dapat:
a.
Menguatkan iman –
Saya ingin membangun keluarga yang percaya terhadap Allah, Kitab, Rasul,
Hari Kiamat dan Qada’ dan Qadar dengan imaji positif yang menggerakkan.
Prinsip yang saya pegang adalah Basmallah, Allah itu Maha Pengasih dan
Maha Penyayang. Saya ingin kami sekeluarga tumbuh menjadi pribadi yang lebih
mudah mengapresiasi dan menerima hal baik yang dikaruniakan Allah dan
mensyukurinya. Bagi saya pribadi, hal ini merupakan tantangan tersendiri,
karena sejak kecil saya lebih sering diajari bahwa Allah itu mudah marah,
sedikit-sedikit dosa, mengancam dengan azab, kalau sakit itu tanda Allah sedang
menghukum kita, orangtua itu boleh mengancam anak akan durhaka jika tidak mau
menuruti keinginan / saran orangtua dan bahwa kita sangat mudah masuk neraka. Ajaran
bahwa Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang hanya menjadi hafalan dan
teori, yang sering diucapkan saja. Tidak mendarah daging dalam setiap gerak dan
ucapan kita. Hal ini membuat saya lebih mudah melihat sisi negatif orang lain
atau pun keadaan, lebih mudah marah, dan kurang bersyukur atas semua hal baik
yang saya alami. Bismillah, saya ingin mengubah cara pandang ini untuk menjadi
pribadi yang beriman tanpa rasa takut, pribadi yang beriman dengan sepenuh
cinta.
b.
Menumbuhkan karakter yang baik
Saya menyadari bahwa banyak kebiasaan saya yang kurang baik sehingga menjadi
bagian dari karakter saya. Saya menyadari bahwa mengubah kebiasaan itu bukan
perkara gampang. Oleh karena itu, saya akan belajar sepenuh hati, melibatkan
suami dan anak dalam proses bersama untuk saling menumbuhkan dan membangun karakter
yang baik.
Sejak membuat NHW#2, saya mulai membiasakan membuat cek list untuk membantu membangun kebiasaan baik. Meskipun saat ini
cek list tersebut masih banyak yang bolong dan berantakan, saya akan belajar
menerima dengan sepenuh hati, tidak banyak alasan untuk memaklumi atau pun
memaafkan diri saya. Kemudian berusaha memperbaiki cek list dan aktivitas saya bersama keluarga.
c.
Menemukan passion (panggilan hati)
Saya akan lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca dan berdialog
dengan diri saya sendiri. Juga akan lebih sering ngobrol santai dengan suami
dan memintanya membantu saya membaca diri saya.
Semenjak tidak bekerja di luar rumah, saya merasa banyak hal yang berbeda
dalam diri saya. Termasuk panggilan hati saya. Sebenarnya saya menyadari bahwa
panggilan hati saya adalah berkerja di luar rumah. Namun demikian, karena
kesepakatan dan komitmen kami sekeluarga untuk fokus mendidik anak di rumah dan
membangun pondasi keluarga di tempat baru maka untuk beberapa tahun ini saya
belum bisa berkarya di luar rumah dengan optimal. Oleh karena itu, saat ini kami
masih mencari binar-binar di mata saya dan mengusahakannya lebih sering muncul
kembali meskipun saya tidak bekerja di luar rumah. Dalam upaya ini saya akan lebih intensif
melibatkan suami dan anak kami karena mereka lah yang paling sering
berinteraksi dengan saya dan insyaAllah mau jujur menyampaikan pendapat mereka.
Sementara ini saya merasa bahagia ketika saya bisa menuliskan pengalaman
bermain dan belajar bersama Roetji,
menuliskan pemikiran-pemikiran saya dan angan-angan saya. Selain itu,
suami saya melihat binar-binar di mata saya ketika saya menjadi fasilitator pertemuan
orangtua homeschooling, baik formal maupun informal. Saya juga bersemangat
ketika berdiskusi dengan orang-orang yang sevisi, terlebih ketika membahas tentang
pengasuhan anak, homeschooling dan kebudayaan.
2.
Cara belajar yang berbeda
Sejak dulu saya mendidik diri menjadi pribadi yang kritis, tidak mudah
percaya pada omongan orang dan senang mengajukan pertanyaan serta berdiskusi
dengan banyak orang. Akan tetapi, semenjak saya memilih untuk (sementara) fokus
di rumah, maka cara belajar yang seperti ini mengalami banyak perubahan.
Saya masih ingat ketika Roetji sedang belajar berbicara, pertanyaan yang
paling sering ia kemukakan adalah “bagaimana”, baru kemudian pertanyaan “apa”
dan “kenapa”. Sekarang, ia paling senang bertanya “kenapa?”
Saya dan suami berkomitmen untuk semakin mengembangkan rasa ingin tahu
Roetji dan melatihnya agar berani dan terampil bertanya, serta menemaninya
menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya dan memancingnya untuk mengajukan
pertanyaan lagi dari jawaban yang ditemukannya. Begitu seterusnya sebagai
siklus sampai ia merasa cukup puas akan pertanyaan dan jawabannya itu. Sebisa mungkin
kami akan membiasakan Roetji menanyakan 5W (what, where, why, who, when) + 2H
(how, howcame) dengan mengaktifkan panca indranya. Sebisa mungkin kami
membiasakan diri untuk tetap berpikir dan bersikap kritis, terutama kepada
hal-hal yang baru bisa kami dengar dan lihat, terutama yang kami dengar dan
lihat dari ‘katanya’ media (massa atau pun sosial) dan orang lain.
Komitmen itu akan kami wujudkan dengan berbagai cara, diantaranya adalah
dengan saya membiasakan diri melakukan hal tersebut. Bukankah anak akan belajar
lebih banyak dengan meniru apa yang dilakukan orangtuanya? J
3.
Semangat belajar yang berbeda
Semasa kecil sampai kuliah dan bekerja, saya dididik dan mendidik diri
dengan mental kompetisi. Mental ini membuat saya terpacu, melawan diri saya dan
orang lain. Semakin saya bertambah umur, saya menyadari bahwa semangat
berkompetisi ini tidak selamanya bagus bagi diri saya, rasanya sungguh
melelahkan. Seperti peribahasa “menang dadi areng, kalah dadi awu”.
Alhamdulillah, saya dipertemukan Allah dengan suami saya yang bermental
kolaborasi dengan mengutamakan kompetensi. Rasanya lebih damai dan
menyenangkan. Saat ini, saya sedang mendidik diri dan anak kami agar lebih mengutamakan
memenuhi kompetensinya, berjuang agar diri ini hari ini lebih baik dari pada
hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari pada hari ini. Semangat berkompetisi
lebih kami tekankan kepada berkompetisi dengan diri sendiri. Kami mempercayai
prinsip yang diajarkan Ibu Septi Peni bahwa hasil tidak pernah mengkhianati
proses. Capaian orang lain lebih kami pandang sebagai sarana untuk kami
melakukan pengukuran, benchmark, atas
kompetensi kami. Sebab kami tidak bisa benar-benar mengetahui bagaimana ia /
mereka berproses untuk mencapai prestasinya tersebut.
Dengan semangat yang sama pula, kami berkomitmen untuk menggunakan
strategi meninggikan bukit, bukan meratakan lembah. Kami akan fokus untuk
mengenali dan mengembangkan potensi kami, passion kami, agar kami dapat
mencapai tujuan pembelajaran dan tujuan hidup kami. ‘Bukit dan lembah’ yang ada
dalam diri kami menjadi modal dasar untuk berkolaborasi dengan orang lain yang
mempunyai ‘bukit dan lembah’ mereka sendiri, sehingga menghasilkan ‘bentang
alam’ yang lebih baik dan berharga. Untuk itu, kami juga berusaha agar Roetji
bisa mengenal keberagaman sebagai Sunnatullah, sesuatu yang wajar, alamiah dan
indah. Untuk itu, kami berusaha memaparkan banyak ragam fisik dan adat istiadat
manusia, bentang alam dan ruang angkasa, serta budaya dunia kepada Roetji
dengan berbagai cara yang sekiranya menarik untuk ia pelajari secara mandiri.
Roetji sudah bisa menulis ketika ia berumur 5 tahun. Ia juga senang
menuliskan pengetahuan yang ia peroleh dari kami, buku yang ia baca, film /
video yang ia tonton dan pendapat orang lain. Sering kali ia menyampaikan
pendapatnya dalam bentuk gambar-gambar yang ada tulisannya, ada yang merupakan pemaparan
dari satu tema tertentu dan kadang merupakan gabungan dari berbagai hal. Ia senang
membuat cerita dan meminta saya mengetikkannya karena ia belum lancar mengetik.
Saat ini ia baru bisa mengetik sekitar 1-2 paragraf pendek. Kami melihat bahwa
Roetji mewarisi salah satu passion kami: menulis. Oleh karena itu, kami bersepakat
untuk terus mengembangkan ketertarikan Roetji untuk menulis menjadi salah satu
minat dan hobinya. Karena kami yakin menulis merupakan salah satu keterampilan
dan seni yang dapat membantu kita menstrukturkan gagasan dan pendapat, memilih
dan mengolah kata yang tepat, dan melatih berkomunikasi dengan orang lain yang
tidak bertatap muka dengan kita. Supaya kami bisa optimal mendampingi Roetji
belajar menulis, maka saya juga harus rajin menulis dan belajar ilmu menulis. Bismillah,
saya berkomitmen untuk lebih rajin menuliskan proses pembelajaran keluarga kami
di blog keluarga AIR.
Selain menulis, Roetji sepertinya juga mewarisi salah satu passion
orangtuanya untuk berbagi dengan orang lain melalui cerita / presentasi. Saat ini
ia sudah berani dan bisa bercerita / berpendapat di depan banyak orang yang
tidak ia kenal dengan baik. Ia sudah dua kali presentasi di depan komunitas
teman sebaya dan orang dewasa: di kemah Kampung Komunitas Indonesia (Kamtasia),
Salatiga dan di pertemuan keluarga homeschoolers Koprol Solo dan PKBM Saung
Impian Matahari di Tawangmangu. Di Salatiga dan di Tawangmangu, Roetji
presentasi tentang belalang yang ia tangkap di area kemah dan menjelaskannya dengan
dibantu Bapak e menggunakan mikroskop digital. Di Tawangmangu, Roetji juga
presentasi tentang sampah dan pengelolaannya, setelah ia ikut berkunjung di
tempat pengelolaan sampah organik dan menonton film tentang sampah. Bagi kami,
ini modal dasar yang perlu kami bantu fasilitasi agar berkembang dengan lebih
tepat, lebih baik, dan lebih bermanfaat. Kami juga melihat presentasi ini
merupakan salah satu cara Roetji untuk belajar. Dengan presentasi ia belajar
menyusun pikirannya dengan runut, memilih bahasa dan alat yang tepat, berani
mengungkapkan pendapatnya di depan (banyak) orang selain keluarganya, dan
menerima respon / pendapat orang lain akan dirinya. Roetji juga jadi belajar
adab berada di forum besar, menjadi pendengar dan pembicara yang baik.
Dengan menyadari passion kami sebagai salah satu modal dasar untuk
mencapai tujuan hidup maka kami berkomitmen bisa memfasilitasi dan membersamai
Roetji mengenali dan mengembangkan passionnya dengan optimal. Kami akan
mengembangkan budaya ngobrol keluarga kami dengan diskusi-diskusi kecil yang
bisa melibatkan Roetji sehingga Roetji terbiasa mengetahui dan menghargai
perbedaan pendapat dan mampu mempertahankan pendapat yang ia yakini benar
dengan baik dan sopan. Selain itu, kami juga akan melengkapi koleksi
perpustakaan keluarga dengan buku-buku dan video yang bergizi dan perlu, melengkapi
peralatan audio visual kami, melengkapi peralatan uji coba science secara
mandiri, menyiapkan fasilitas internet yang aman, termasuk melatih Roetji
menggunakan teknologi dengan baik dan bertanggungjawab, serta menyiapkan laptop
/ komputer yang sesuai kebutuhan belajar Roetji pada waktunya nanti. Kami berencana
membuka rumah kami menjadi ruang baca dan ruang menonton bagi tetangga sekitar,
dengan melibatkan Roetji secara optimal. Kami juga akan membuat forum anak di
rumah keluarga anggota komunitas Koprol Solo sebagai sarana bagi Roetji dan
teman-temannya belajar mempresentasikan ide dan karya mereka, dan anak-anak
belajar menerima respon orang lain. Selain itu, forum ini bisa menjadi sarana
belajar bagi orang dewasa untuk menerima dan menghargai anak sebagai pribadi
yang utuh.
Kami berharap dengan cara ini Roetji dapat mengembangkan kebiasaan dan
pola belajarnya selama ini yang berangkat dari ketertarikannya, rasa ingin
tahunya, dengan mengoptimalkan sumberdaya yang kami miliki. Kami akan berusaha
mendampinginya menemukan alat atau bahan belajar yang diperlukannya agar ia
dapat terus mengembangkan siklus pertanyaan-jawabannya dengan caranya sendiri. Semoga
dengan cara ini Roetji dapat tumbuh menjadi pribadi pembelajar yang mandiri dan
bertanggungjawab sehingga dapat memenuhi harapan kami Roetji bisa mengenal
dirinya dengan lebih baik dan lebih dini. Kami berharap ketika ia berumur 10
tahun, kami sudah mengetahui minat dan bakat Roetji yang paling ingin dan perlu
ia kembangkan dan dalami. Sehingga kami dapat membantu memfasilitasinya dengan
baik dan tepat sesuai fitrah kami. Dengan demikian, ia akan siap menjadi
pribadi akil baligh yang sesuai fitrahnya, tepat pada waktunya (15 tahun). Menjadi
pribadi yang merdeka, tahu pasti tujuan hidup dan cita-citanya, sehingga siap
mencapainya dengan bahagia dan bertanggungjawab.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa proses pembelajaran kami
sekeluarga akan menjadi proses mencapai tujuan jika dapat kami pantau dengan
baik. Salah satu alat untuk memantaunya adalah tulisan, dokumentasi proses
kami. Dokumentasi ini akan menjadi bahan untuk melakukan refleksi dan menyusun
aksi selanjutnya.
Oleh karena itu, saya berkomitmen akan lebih rajin
menuliskan proses pembelajaran kami dalam buku besar keluarga dan membagi sebagian
diantaranya, yang sekiranya bermanfaat bagi orang lain dan bukan hal privat
kami, di blog keluargaAIR yang telah saya buat. Saya juga akan belajar
mengelola blog tersebut dengan lebih baik dan menarik, sehingga selain menjadi
rekam digital proses pembelajaran kami, juga bisa menjadi salah satu upaya saya
memperoleh penghasilan dari rumah J
Selain itu, untuk meningkatkan kapasitas saya sebagai ibu
yang senantiasa membersamai anak, maka saya akan belajar beberapa hal sebagai
berikut:
a.
Al Qur’an, terjemah, dan tafsirnya – sebisa mungkin
secara rutin dan insidental ketika ada kesempatan yang tepat.
b.
Hadits-hadits Nabi, terutama yang berkaitan
dengan keluarga, pengasuhan anak dan muamalah.
c.
Buku-buku parenting
– baik yang berbasis agama Islam dan umum
d.
Buku-buku keterampilan – menulis, mengelola
blog, membuat video dan foto, percobaan science sederhana yang dapat dilakukan
di rumah
e.
Mengikuti pelatihan (online dan offline) terkait
parenting, dan keterampilan yang kami
butuhkan
f.
Mencari dan menjalin silaturahmi dengan para
ahli di bidang yang menjadi minat / passion kami, terutama Roetji
g.
Mencari tempat, acara / kegiatan yang sekiranya
bisa meningkatkan kapasitas kami dengan baik dan tepat.
Rutinitas pekerjaan
rumah tangga – menjadi ibu rumah tangga yang cekatan, disiplin, pandai
mengelola waktu dan pekerjaan, mengubah mind set pekerjaan rumah menjadi games,
dll ;
Dalam upaya saya belajar melakukan pekerjaan rumah tangga,
saya berkomitmen akan belajar membagi waktu, menyusun dan menepati to do list
yang telah saya buat, mengisi cek list dengan benar dan rapi, melatih anak
terlibat dalam pekerjaan rumah tangga secara bertahap sesuai kesiapannya, tidak
mudah mengeluh dan berusaha menikmati pekerjaan rumah tangga, melatih
keterampilan membagi pekerjaan, dan membangun rasa percaya kepada orang lain
yang membantu pekerjaan saya. Saya juga berkomitmen untuk mengatur penggunaan
gadget di waktu luang, sehingga tidak menjadi jebakan yang melenakan.
Untuk menambah ilmu terkait hal ini maka saya akan membaca
buku Marie Kondo dan buku-buku / blog lain tentang pengorganisasian rumah, belajar
dari Ibu dan mertua saya, dan belajar dari pembantu rumah tangga di rumah ibu
saya yang sedemikian pintar membagi waktu kerjanya. Saya juga akan menabung
untuk membuat / membeli alat-alat rumah tangga yang sekiranya bisa memudahkan
saya melakukan rutinitas di rumah.
Berlama-lama ada di
rumah – menjadi pribadi yang bisa berkarya produktif dan bermanfaat bagi banyak
pihak dengan tetap menjadikan rumah sebagai ruang utama.
Saya berharap rumah kami akan menjadi rumah yang produktif
dengan karya-karya yang dapat menjadi alternatif jalan rezeki bagi keluarga
kami dan tetangga sekitar. Rumah kami juga menjadi rumah yang menumbuhkan
pribadi kami, terutama Roetji.
Oleh karena itu, saya akan belajar ilmu yang berkaitan
dengan perdagangan dan pemasaran online, memproduksi barang / jasa yang bisa
dijual online, dan mengelola blog / website keluarga AIR sehingga menjadi blog
/ website yang bisa menginspirasi banyak orang dan menghasilkan uang bagi kami.
Selain itu, saya juga akan belajar mengelola perpustakaan dan bioskop
komunitas, literasi media, dan ilmu membuat video pendek. Saya juga akan
melatih kembali kemampuan presentasi dan menulis saya sehingga saya bisa
menyampaikan pendapat saya, secara langsung dan tidak langsung, dengan lebih
tepat dan padat.aka saya akan membaca
buku Marie Kondo dan buku-buku / blog lain tentang pengorganisasian rumah, belajar
dari Ibu dan mertua saya, dan belajar dari pembantu rumah tangga di rumah ibu
saya yang sedemikian pintar membagi waktu kerjanya. Saya juga akan menabung
untuk membuat / membeli alat-alat rumah tangga yang sekiranya bisa memudahkan
saya melakukan rutinitas di rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar