Pagi itu, Minggu, 25 Januari 2015, kami sangat bersemangat bersiap-siap mengikuti PACALIK (Pasar'e Cah Cilik) 3, di rumah tante Dominika Oktavira. Kami sangat bersemangat karena tema kali ini: belajar bercocok tanam di sawah.
Menjelang berangkat, sekitar jam 8 pagi, huaaaa, Roetji nangis keras karena jempol kaki kirinya kejatuhan kursi makan yg ia coba berdirikan. Jempol kakinya berdarah, cukup banyak, dan sepertinya kukunya rusak :(
Sy bersihkan luka tsb dg air hangat kemudian sy olesin betadine salep. Kemudian sy tutup kasa steril dan plester yg barusan dibeli suami bersama dg minol. (*pelajaran penting banget bagi kami: isi kotak P3K dg baik dan benar).
Alhamdulillah, Roetji sangat kooperatif, ia bisa dengan tenang melihat lukanya sy obati, tidak rewel, dan hanya sebentar nangis. Sungguh, sy malu. Sy sangat gampang menyerah dg sakit, sedangkan Roetji, ia sangat, sangat, dewasa menghadapi luka 'besar' nya ini. Sy sebenarnya panik dan sedih banget, tapi harus bisa tenang dan tetap fokus supaya Roetji bisa tertangani dg baik, tidak infeksi dan tidak trauma.
Sampai siang harinya, ketika kasa sterilnya sy ganti, sy masih melihat bercak darah di situ. Duh, kalau sampai sore masih berdarah, sepertinya harus dibawa ke dokter, khawatir kalau ada infeksi.
Sore hari, ketika sy lap badannya dan ganti kassa, sy masih melihat kassa nya kotor. Dan, akhirnya kami mengajak Roetji ke RSA UGM. Sepanjang jalan kami harus beberapa kali berhenti karena Roetji teriak-teriak perbannya akan lepas, bukan karena kesakitan.
Sesampainya di IGD rumah sakit, luka dibersihkan perawat dan dicek oleh dokter. Alhamdulillah, luka sudah mengering dan tidak ada gejala infeksi. Dokter juga menyatakan bahwa kuku Roetji bisa dipertahankan alias tidak perlu dicabut, nanti akan lepas / ganti kuku baru sendiri.
Dan, hebatnya Roetji, di IGD pun ia bisa menjelaskan kronologis lukanya dg runtut kepada dokter dan perawat. Ia bercerita kalau tadi ia coba mengangkat kursi, trus kursinya jatuh, trus kena jempolnya, trus ada darahnya. Roetji juga bilang ke perawat kalau ia merasa sakit karena syaraf2 di kakinya terluka.Semua ia jelasin dg bahasa Jawa kromo yg cukup halus. Alhasil, perawat dan dokter pun tergelak :)
Menurut kami, pelayanan di rumkit ini lumayan oke. Rumkitnya sepi, bahkan di IGD sekalipun. Hanya di farmasi yg cukup bikin kami heran, mungkin krn hari minggu, jadi petugasnya hanya satu orang saja. Ia mengurusi penerimaan resep, menyiapkan obat, mengambil obat di gudang, sampai menyerahkan obat ke pasien. Tarif dokter di rumkit ini pun cukup murah, hanya 25rb utk jasa dokter. Tindakan atas luka kecil (<3 cm) di IGD, tarifnya 33rb. Total 75rb. Meski begitu, kami berharap kami tidak perlu lagi ke rumkit manapun, hehehe..
Ketika perawat membebat lukanya, Roetji memperhatikan dg cermat, termasuk memperhatikan sy. Ternyata ia bisa membandingkan cara dan hasil membebat luka yg sy lakukan dg yg dilakukan perawat :) Pagi harinya, alhamdulillah, ketika sy mandikan, Roetji tidak berteriak
kesakitan, berarti lukanya sudah benar2 kering. Selesai mandi, sy
bersihkan lukanya dan ganti perbannya. Ketika sy ganti perbannya, Roetji protes, ia minta lukanya dibebat dg kencang dan rapi, seperti yg perawat lakukan. Sy coba jelaskan kalau sy belum mahir, Roetji protes: "Kan kemarin Ibu sudah belajar dari perawat to? Jadi sekarang harus sudah bisa lebih baik" Duh, nak, ibumu ini memang kurang terampil dan perlu banyak melatih ketrampilan tangan. (*PR besar bagi kami: mengoptimalkan kemampuan motorik halus mu ya Nak)
Kami belajar banyak dari luka kecil ini. Dan, kami mendapat hadiah yg sangat super dariNya: karena takut lukanya jadi kotor, Roetji jadi mau pup di WC :) (Ya, selama ini, sejak ia terpeleset di WC (ketika umur 2th-an), Roetji tidak pernah mau pup di WC, maunya di lantai KM. Sampai2 kami sedia serok khusus untuk memindahkan pup Roetji dari lantai ke lubang kloset (*maaf ya, vulgar)).
Selain itu, Roetji juga jadi mau tidur siang, setiap selesai makan siang, sy biasakan mengolesi lukanya dg minol sambil mengajaknya tiduran. Sy temani sebentar, ia sudah terlelap. Sungguh, Roetji anak yg sangat kooperatif dan mau menerima penjelasan kami dg cukup cepat.
Setelah 1 minggu, kuku jempolnya tambah panjang, jadi mencuat. Sy sangat khawatir kalau-kalau ini bisa membuatnya terluka. Sy potong sedikit ujung kukunya, alhamdulillah, ia tidak kesakitan. Kami membeli pemotong kuku yg baru untuk Roetji, dg harapan bisa lebih tajam, bersih dan aman. Setiap akan sy pakai untuk memotong kukunya, pemotong kuku tsb sy guyur dg revanol.
Menjelang PACALIK keempat, berarti 2 minggu setelah peristiwa, Roetji mau kuku jempol nya sy potong lagi. Dan, sepertinya kuku kakinya yg 'njengat' itu tidak mempengaruhi aktivitasnya. Ia tetap bersemangat jalan keliling PUSKAT, lari2 menangkap belalang, dll.
Pada hari rabu malam, 11 Februari, ketika Roetji tidur, sy potong lagi kuku jempolnya, cukup pendek, sehingga bagian pangkal kuku yg melekat di sisi kiri dan kanannya ikut lepas (duh, maaf ya nak), tanpa membuat Roetji terbangun karena kesakitan. Langsung sy tetesin minol di jempol kakinya ini.
Pagi harinya, Roetji beraktivitas seperti biasa. Namun ketika mandi, ia sedikit berjingkat ketika jempol kakinya terkena air. Sepertinya, ada sedikit luka dari pangkal kukunya yg terlepas. Setelah mandi, sy minol lagi, dg sedikit bujuk rayu dan sembunyi2, krn Roetji menolak. Mungkin lukanya terasa sedikit perih.
Siang harinya, Roetji sambil bermain, bertanya: "Bu, kalau kukunya mas Roetji copot, nanti tumbuh lagi ya?" Sy jawab iya, tanpa mengamati kuku jempolnya. (*plak, teledor lagi deh sy, hiks).
Tahu-tahu, sore harinya, Roetji mengulangi pertanyaan yg sama sambil menunjuk jempol kakinya yg sudah tidak ber-kuku. Alhamdulillah, kuku jempol nya yg 'njengat' mengkhawatirkan itu bisa lepas sendiri, tanpa menyebabkan Roetji kesakitan.
Sampai sekarang, Roetji sering mengamati jempol kakinya dan berkata: "Bu, kok kuku jempol e mas Roetji belum tumbuh lagi ya?"
Sabar ya Nak, kuku butuh waktu yg cukup lama untuk tumbuh dan tambah panjang. Jawaban sy itu menimbulkan pertanyaan: "kenapa kuku lama tumbuhnya?" dan, diskusi kami ini terus berulang, sampai hari ketika sy menulis ini (18 Februari 2015).
Semoga kuku jempol kiri mu akan tumbuh dg lebih sehat dan lebih baik ya Nak. (Ctt: sebelum kejatuhan kursi, kuku jempol kiri Roetji memang terlihat ada sedikit garis, sepertinya efek tersandung beberapa waktu sebelumnya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar