Kamis, 16 Juli 2020

Narasi #2 Menyusun Kurikulum Pendidikan Anak Berbasis Metode Pendidikan Charlotte Mason

Kemarin, sewaktu saya menarasikan cerita mbak Ellen Kristi tentang salah satu ARTnya yang tidak bisa membaca dengan baik, padahal ARTnya sudah berumur 17 tahun dan telah lulus SMP, R nimbrung lagi. Awalnya ia bertanya "Kok bisa, lulus SMP tapi belum bisa baca? Bukankah lulus SD sudah harus bisa baca?" 

Saya jelaskan bahwa yang dimaksud adalah tidak bisa membaca buku yang isinya tulisan saja, cukup panjang dan saling terhubung/berlanjut, seperti novel. R pun kemudian berkata "Oh, begitu maksudnya. Bisa jadi karena selama sekolah, ia hanya membaca buku-buku tebal yang isinya hanya soal-soal dan jawaban soal-soal." 

Saya paham yang dimaksud R adalah buku-buku teks garing yang hanya berisi tumpukan data dan fakta yang disampaikan tanpa narasi yang menarik, alih-alih dengan bahasa yang sastrawi menggugah hati. Padahal data dan fakta itu tidak merasuk ke dalam akal budi anak, hanya sekedar untuk menjawab soal ujian. Dan memang data dan fakta itu sering kali tidak perlu untuk dihafalkan sampai sesudah ujian selesai. Buktinya, kita sekarang sudah lupa nyaris semua data dan fakta yang bertahun-tahun dijejalkan dalam setiap persiapan ujian sekolah kita bukan? Dan, ketika para pejabat berpidato tentang suatu kasus spesifik, mereka sering kali membaca data yang telah disiapkan, bukan menghafalnya. Jadi, kenapa anak sekolah justru dituntut hafal banyak sekali data terkait banyak kasus (dalam hal ini, mata pelajaran)? 😁

Mbak Ellen menyampaikan cerita tentang salah satu ARTnya itu ketika ia menjelaskan tentang pentingnya membaca lantang untuk melatih anak membaca dengan baik dan benar. CM memasang target tinggi akan kemampuan membaca ini, yaitu agar kita bisa membuat teks yang kita baca menjadi hidup (membaca tingkat tinggi). Mbak Ellen memberi contoh kemampuan membaca tingkat tinggi itu seperti cara membaca Pak Landung Simatupang ketika membaca cerpen Anton Chekov. Cerita yang dibacakannya menjadi sedemikian hidup, meninggalkan kesan yang mendalam dalam benak mbak Ellen yang ikut mendengarnya. Mendengar penjelasan mbak Ellen ini saya jadi tahu salah satu manfaat menyimak acara pembacaan cerpen atau novel oleh para sastrawan. Kegiatan yang selama ini tidak pernah saya nikmati karena minimnya pengetahuan saya tentang sastra. (*syukurlah ada yutub, jadi bisa langsung ngintip dan nyicip sambil berharap suatu saat bisa ngajak R ikut menikmati acara ini secara langsung). 

Kemampuan untuk membaca dengan baik dan benar ini merupakan salah satu manfaat yang bisa kita peroleh dari membaca pustaka hidup (living books). Pustaka hidup adalah buku-buku yang menyajikan ide-ide hidup dan menggugah akal budi, disampaikan secara naratif dan sastrawi, sehingga layak untuk tertanam di benak anak, menambah kuat obor dalam diri anak yang siap terpantik sewaktu-waktu itu.

Melatih kemampuan membaca ini seperti melatih indra pencecap kita. Kita akan sulit mengenal beragam rasa enak jika lidah kita terbiasa dibuai oleh rasa artifisial yang menipu. Membuat kita memilih sekedar makanan enak dan kenyang sesaat, alih-alih makanan yang bergizi dan menyehatkan. Sekedar membaca tumpukan buku yang berisi data dan fakta yang dihafalkan untuk memperoleh angka nilai tinggi atau pun buku-buku yang membuat kita  terbuai mimpi menjadi seorang putri, daripada buku-buku yang padat berisi dan bergizi. 

Aah, lagi-lagi saya diajak untuk berefleksi, melihat ke dalam diri... 

#HSKeluargaAIR
#kebonusugudel
#refleksidiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar