#NHW1_adab menuntut ilmu
Belajar Menjadi Diri yang Utuh
Oleh: Noor Aini Prasetyawati
Semenjak saya kecil sampai menjelang menikah, saya nyaris
tidak pernah melakukan pekerjaan teknis rumah tangga. Saya diberi kesempatan
seluas-luasnya oleh kedua orangtua saya untuk mengembangkan potensi akademik
dan organisasi saya. Bapak dan Ibu saya sama-sama sibuk bekerja di luar rumah
demi memenuhi kebutuhan keluarga. Saya anak pertama dari empat bersaudara.
Keluarga kami selalu mempunyai asisten rumah tangga yang sigap menyelesaikan
urusan teknis di rumah. Bapak dan Ibu juga lebih sering meminta bantuan orang
lain untuk memperbaiki berbagai kerusakan di rumah, mulai dari memperbaiki kran
yang rusak (kalau soal ini kadang Bapak saya masih sempat melakukan) sampai
memperbaiki atap rumah yang bocor. Bapak dan Ibu saya sebenarnya cukup terampil
untuk mengerjakan semua itu, namun mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk
melakukannya. Ibu saya bisa menjahit baju, baju-baju beliau semasa gadis hampir
semua hasil karya beliau sendiri. Saya dan adik perempuan saya pun pernah
merasakan memakai baju karya Ibu saya. Meskipun demikian, ilmu dan ketrampilan
tersebut nyaris tidak saya kuasai sama sekali. Ibu saya sangat pintar memasak,
terutama masakan khas Jawa. Masakan beliau enak-enak. Ibu saya pernah mempunyai
warung makan dan berbisnis katering yang cukup besar (melayani karyawan pabrik
dan karyawan rumah sakit) ketika beliau masih aktif menjadi guru. Lagi-lagi,
keahlian beliau ini tidak saya kuasai. Setelah Bapak saya meninggal, keluarga
kami menjalankan bisnis katering sebagai bisnis keluarga. Semua anggota
keluarga terlibat sesuai kemampuan dan pilihan masing-masing. Saya cenderung
memilih menjadi bagian yang membuat proposal penawaran ke instansi-instansi,
menemani Ibu saya rapat atau mengajukan tender, belanja, mengawasi karyawan dan
mengerjakan urusan administrasi. Saya melakukan itu di antara waktu kuliah dan
bekerja di salah satu NGO di Yogyakarta. Sejak Bapak meninggal, saya semakin
memahami siapa Ibu saya. Beliau seorang perempuan hebat yang multi talented,
kompetitif, pandai berorganisasi dan selalu bersemangat melakukan semua
tugasnya, terutama untuk anak-anaknya. Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang
Ibu yang bekerja di luar rumah tetap bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi
suami dan anak-anaknya. Saya ingin seperti Ibu saya, yang tetap bisa berkarier
di luar rumah, namun keluarga tetap terurus dengan baik, dengan manajemen yang
tepat, termasuk membagi banyak pekerjaan dengan asisten rumah tangga dan orang
lain. Begitu kuat keyakinan saya itu, sehingga saya memilih untuk belajar ilmu
apa saja yang berorientasi pekerjaan di luar rumah. Saya ingat betul jawaban
saya ketika seorang teman bertanya tentang bekal apa yang sudah saya siapkan
untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, dengan penuh semangat saya jawab: “Bekal
untuk menjadi wanita karir. Pekerjaan rumah? Ya saya tinggal menggaji asisten
rumah tangga dong, biar nanti dia yang mengerjakan.”
Namun demikian, rupanya Allah berkehendak lain. Allah
memberi saya kesempatan belajar menjadi seorang Ibu rumah tangga yang tinggal
di rumah, produktif di rumah J
Sebelum menikah, saya terkena toxoplasma, rubella dan CMV yang cukup parah.
Penyakit itu benar-benar mengubah hidup saya. Saya tidak bisa seaktif dan
selincah dulu karena saya jadi gampang capek dan sering kambuh. Saya juga
selalu khawatir dengan kemampuan reproduksi saya dan kondisi anak yang kelak
saya lahirkan. Saya dan keluarga menempuh berbagai cara agar saya sembuh.
Alhamdulillah, ketika menikah, saya sudah sembuh dari penyakit ini. Kemudian,
ketika hamil, saya tes lagi, dan alhamdulillah, sudah negatif sehingga saya
bisa menjalani kehamilan dengan bahagia. Alhamdulillah, anak kami lahir
selamat, sehat, dan normal segala sesuatunya. Sungguh, saya merasa sangat lega J
Setelah melahirkan, saya terkena baby blues syndroma. Cukup parah sampai mengganggu kuliah S2 saya
sehingga terpaksa tidak saya selesaikan. Meskipun berat, namun langkah itu yang
paling realistis saya pilih waktu itu. Salah satunya karena kondisi tubuh saya
tidak memungkinkan untuk menempuh perjalanan Yogya Solo nyaris setiap hari.
Saya jadi mudah sekali merasa capek dan sering kambuh meski tidak separah dulu.
Oleh karena itu, suami saya menyarankan agar saya tinggal di rumah, konsentrasi
mendidik anak. Suami saya berpesan: “Ijazahmu adalah Roetji (anak kami)”. Pesan
suami saya ini yang sekarang menjadi amanah besar bagi saya. Kami pun memilih homeschooling sebagai jalur pendidikan
kami sekeluarga. Kami ingin belajar bersama, bertumbuh bersama. Sekarang, saya
mantap memutuskan untuk menjadi seorang ibu yang produktif dari rumah.
Berangkat dari latar belakang itulah kemudian saya melatih
diri saya untuk menjadi diri yang seutuhnya, yang sebisa mungkin menjalani
semua peran yang melekat pada diri saya, dengan iklas dan bahagia. Saya ingin
menjadi diri saya sendiri, anak yang berbakti kepada orangtua saya, istri yang
diridhoi suami dan ibu yang asyik bagi anak kami J
Saya menyadari bahwa bekal ilmu yang saya miliki saat ini
masih sangat kurang, tidak hanya kurang komplit namun juga kurang rapi. Saya
melihat Allah telah memberi saya bekal berupa pengalaman sepanjang hidup saya,
namun bekal itu seperti tapak-tapak yang terserak, belum tersusun rapi menjadi
alur perjalanan yang mantap untuk terus dilalui sampai tujuan. Tapak-tapak
bekal itu juga perlu saya mantapkan bersama keluarga kecil kami, untuk kami
lalui bersama, menuju tujuan bersama, tentu dengan iklas dan bahagia. Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini, saya memutuskan memilih ilmu untuk menjadi
ibu profesional. Saya berharap dengan bekal ilmu tersebut, saya bisa menjalani
peran saya seutuhnya dengan lebih
optimal, tidak sekedar mengalir bersama waktu. Saya berharap bisa memenuhi
amanah suami saya, memperoleh ‘ijazah’ saya dengan membersamai tumbuh kembang
anak kami sesuai fitrahnya, bersinergi dengan suami saya, menjalankan peran
suci kami. Kami menjadi keluarga pembelajar, menjalani Sekolah Rumah
(homeschooling) kami dengan seoptimal mungkin.
Dalam upaya saya untuk memperbaiki diri, Insyaallah saya
akan membuka diri, membuang mental block
saya, agar saya bisa menerima ilmu ini dengan sebaik-baiknya, tidak memilih
yang saya suka / setuju saja. Dan mengkomunikasikan ilmu yang saya peroleh
dengan suami saya, agar kami dapat berubah, bertumbuh dan berkembang bersama
dengan lebih baik. Terlebih ilmu ibu profesional ini bukan ilmu hafalan, ilmu
pasti, apalagi ilmu ghaib. Semua yang diajarkan di institute ini perlu
diresapi, dipilih dan dipilah dengan cermat dan pertimbangan yang matang, dan
tentu saja dipraktikkan dengan sebaik-baiknya.
Saya menyadari bahwa selama ini saya punya kecenderungan
untuk menganggap gampang beberapa hal sehingga sering kali tidak menyelesaikan
pembelajaran tersebut dengan baik. Misalnya, ketika membaca suatu buku, jika
buku tersebut tidak benar-benar menarik bagi saya, jarang saya baca utuh dari
bab pengantar sampai penutup. Sebelum selesai membaca buku tersebut, saya
beralih ke buku lain yang sekiranya lebih menarik. Selain itu, ketika membaca
suatu resep masakan, sering kali saya hanya berhenti pada membaca resep
tersebut, tidak saya praktekkan. Kalau suatu saat resep tersebut saya
praktekkan, acapkali resep tersebut berubah, menyesuaikan isi kulkas kami
(namun kalau membuat kue / roti, sebisa mungkin saya mengikuti resep). Atau,
saya sering menyusun menu mingguan untuk keluarga kami, namun tidak pernah saya
patuhi. Oleh karena itu, saya berharap dalam mencari ilmu ibu profesional ini,
saya mau dan bisa membacanya secara utuh dan mendalam, mempraktekkannya sesuai ‘resep’
untuk hal-hal yang memang lebih baik jika dilakukan sesuai ‘resep’ dan
memodifikasinya jika sekiranya akan lebih pas jika disesuaikan kebutuhan dan
kondisi kami. Saya juga akan belajar konsisten, menjalani semua yang sudah
dijadwalkan, dengan runut dan runtut sesuai tahap pembelajaran.
Bismillah, semoga tulisan ini bisa menjadi awalan langkah
saya membangun tapak-tapak kehidupan keluarga kami yang lebih baik J
Keren bunda. 😊
BalasHapusTulisanya.
Semangat menuntut ilmu bunda