“Kata-kata yang kita pilih dalam berinteraksi dengan anak-anak punya kekuatan untuk menyembuhkan atau menyakiti, menciptakan jarak atau memupuk keintiman, mengunci perasaan-perasaan atau menyentuh hati dan membukanya, untuk memperkuat ketergantungan atau memberdayakan.” Itulah pesan penting yang hendak Naomi Aldort sampaikan dalam sesi wawancara kesembilan Conscious Parenting Summit.
Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan psikologi, kita akan merasakan besarnya aura ‘penyembuh jiwa’ dari diri Naomi. Sebenarnya dia tidak pernah menyangka akan menjadi konselor pengasuhan anak kelas internasional seperti sekarang. Naomi dulu bersekolah di bidang musik dan bekerja sebagai guru piano. Namun, para orangtua dari murid-murid pianonya mendapati bahwa setelah les piano pada Naomi, anak-anak mereka mengalami perubahan perilaku yang mencolok, menjadi jauh lebih positif. Akhirnya para orangtua itu bukan sekedar minta les piano, tapi juga sesi konseling. Naomi sendiri terkejut melihat hasilnya: para orangtua dan anak-anak sembuh dari trauma masa lalu masing-masing dan memiliki koneksi batin satu sama lain yang jauh lebih erat. Saya sudah membaca tuntas (bahkan bolak-balik) buku Naomi, Raising Our Children Raising Ourselves. Saya dapati buku ini betul-betul mengubah cara pengasuhan saya pribadi menjadi lebih positif! Ditambah uraian Naomi dalam sesi wawancara CPS kali ini, saya semakin memahami dan mengagumi satu resep sederhana yang Naomi rumuskan untuk menciptakan relasi orangtua-anak yang bebas konflik. Namanya adalah validasi emosi. Apa itu validasi emosi? Kita menerima, menghargai, mengatakan “Ya, saya mengerti!” secara verbal ataupun non-verbal kepada setiap ekspresi emosional yang anak tunjukkan. Validasi berkebalikan dari negasi atau penyangkalan – entah itu tidak mau mengakui, meremehkan, merendahkan, atau menyuruh anak menyembunyikan perasaannya. Contoh paling sederhana dari penyangkalan terjadi ketika anak kita jatuh. Lututnya mungkin merah. Kita pikir, tidak ada yang lecet, pasti tidak terlalu sakit (menurut kita). Tapi anak menangis keras-keras, seolah dunia mau runtuh, berlebihan (menurut kita). Maka apa yang akan kita katakan? “Diam, gitu aja nangis!” “Sudah, tidak apa-apa, sebentar juga sakitnya hilang!” “Kan nggak lecet, nggak terlalu sakit itu!” “Ngapain sih nangis keras-keras? Cengeng banget kamu!” Jadi, kita menyangkal perasaan anak. Dia merasa sakit, tapi kita memaksanya untuk yakin bahwa dia tidak sakit. Dia membayangkan sakit itu akan berlangsung lama, dan kita berkeras bahwa sakit itu cuma sebentar. Lalu kita menyuruh mereka untuk berhenti menangis, padahal mereka merasa ingin menangis. “Dan anak-anak tidak punya kendali atas keinginan menangis itu,” kata Naomi. Setiap penyangkalan semacam ini, entah disampaikan secara halus maupun kasar, membuat anak-anak jadi tak kenal diri dan perasaan-perasaan mereka sendiri, bahkan merasa bersalah atas emosi mereka. “Aku tak boleh menangis! Aku tak boleh sedih! Aku tak boleh marah!” dan seterusnya. Sangat tidak sehat secara emosional baginya dalam jangka panjang. Selain itu, penyangkalan memblokir koneksi batin antara anak dan orangtua. Anak merasa bahwa orangtua tidak menerima dirinya apa adanya, hanya mau melihat yang baik-baik saja, tidak mempercayai perasaannya. Tak heran ia di kemudian hari belajar untuk menyembunyikan perasaannya dari orangtuanya, dan makin lama orangtua dan anak makin tidak mengenal satu sama lain – dan makin banyak konflik yang muncul! Sekarang bandingkan dengan teknik validasi emosi. Anak jatuh, lututnya merah, dan ia menangis keras-keras. Kita menduga-duga kebutuhan apa sebetulnya yang anak ingin ekspresikan lewat tangisan itu. Kita menemaninya selama dia menangis dan tidak berusaha menghentikan tangisan itu. Kita memandang dan mendengar semua isakannya dengan penuh perhatian sambil kita gambarkan pengalamannya dan terima perasaannya, “Kau tadi lari-lari, tersandung batu, lalu jatuh. Lututmu terantuk, tentu sakit. Apa kau ingin Mama memelukmu?” atau “Kemarin waktu Mama jatuh, rasanya juga sakit sekali. Nah, Mama ada di sini. Kau ingin lututmu diplester?” Atau “Wah, kau jatuh. Kau butuh bantuan? Oh, kau ingin bermain lagi? Baiklah.” Pada dasarnya, anak itu tangguh secara emosional dan tidak suka berlama-lama berkubang di perasaan tertentu, asalkan dia yakin bahwa dia dimengerti. Ketika perasaannya divalidasi, anak – yang masa lampaunya tidak banyak trauma – dengan cepat akan melewati perasaan negatifnya lalu kembali ke mood gembira. Namun, kalau sebelumnya anak sering disangkal, barangkali dia akan butuh menangis dulu lebih keras atau lebih lama untuk melepas luka-luka lamanya. Tidak perlu dihentikan. Tetaplah menemani dan mendengar dengan sabar sampai dia betul-betul puas mengungkapkan pendaman emosinya. Peluk dia, tanpa banyak bicara. Namun, peringatan keras: jangan mendramatisir situasi! Validasi bukan dramatisasi. “Aduh, sakit sekali ya! Kasihan sekali kamu! Dasar batu nakal! Huh, nih, Mama sudah pukul batu ini, yang bikin kamu jatuh. Ya ampun, sampai lecet begitu? Sayangku, hei, hei, Pa, sini lihat, dedek luka nih gara-gara jatuh!” Dramatisasi semacam itu akan membuat anak menangis lebih keras, bukan karena dia butuh menangis, tapi karena dia dibuat yakin bahwa situasinya lebih mengerikan dari yang dia rasakan. Dan barangkali lain kali dia akan menangis keras-keras semacam itu hanya karena merasa senang dengan segala perhatian yang ia peroleh dari tangisannya. Siapa bilang anak-anak itu bodoh? :)
Teknik validasi emosi musti berangkat dari dua prinsip penting: sikap percaya dan respek orangtua terhadap anak. Teknik ini akan kontraproduktif ketika orangtua meyakini bahwa “anak-anak terlahir liar dan harus dijinakkan”, karena itu akan menciptakan atmosfir menang/kalah. Pengasuhan anak menjadi pertarungan kehendak, siapa yang lebih kuat, lebih ngeyel, lebih keras suaranya, dia yang menang!
Naomi menyarankan agar, ketika berurusan dengan anak, orangtua membayangkan dia sedang berhadapan dengan tamu atau sahabat orang dewasa yang dia hormati. Kita tidak mungkin membentak-bentak tamu seperti itu, bukan? Kita tidak mungkin merebut barang dari tangannya sambil menjewer telinganya atau menyeretnya masuk ke rumah, bukan? Katakanlah sahabat kita itu duduk di kursi roda dan tidak bisa berkegiatan seterampil kita, kita tetap akan menghormatinya. Begitu pula, anak-anak. Mereka mungkin berbadan lebih kecil, belum terampil mengerjakan tugas-tugas harian, belum bisa membaca, tapi kalau kita betul-betul percaya bahwa anak itu terlahir sebagai manusia yang berderajat setara dengan kita, maka kita pun akan memperlakukannya penuh respek. Apakah atas nama respek, lantas kita harus membiarkan anak bertingkah semaunya? Tentu saja tidak. Orangtua memperoleh kehormatan untuk menjadi pembimbing setiap anaknya. Dalam hal ini, Naomi Aldort dan Charlotte Mason punya titik temu yang mencolok. Keduanya sama-sama menganjurkan respek penuh pada kepribadian anak, dengan tetap memelihara kesadaran bahwa anak bukan orang dewasa. Anak belum sepenuhnya tahu apa yang baik dan apa yang buruk dan kekuatan moral mereka untuk memilih yang baik relatif lemah, jika di hadapan mereka digelar pilihan-pilihan yang buruk. Maka, orangtua harus bijaksana membantu anak membuat pilihan-pilihan yang baik. Misalnya, Naomi tidak setuju jika orangtua memberikan terlalu banyak alternatif kepada anak batita. “Kamu mau pakai topi yang merah atau yang putih atau yang hijau?” Itu akan membuat anak kewalahan dan dia menghabiskan energinya untuk pilihan yang tidak penting. Lebih baik, kata Naomi, “Pilihkan dan langsung pakaikan saja satu topi ke kepalanya, kecuali dia memang minta memakai topi yang lain.” Pesan moral dari contoh di atas: menghargai pilihan anak bukan berarti kita harus selalu menyediakan banyak pilihan baginya. Dan dalam hal tertentu, bisa jadi anak tidak punya pilihan sama sekali, seperti dalam hal hukum kesehatan. Anak belum bisa memahami bahwa makan permen itu tidak sehat. Ketika dia makan permen, itu bukan pilihan yang dibuat secara sadar, hanya hawa nafsu yang dia belum bisa kelola. Maka, orangtua perlu membuat aturan: tidak boleh makan permen. Ketika anak menangis ingin permen? Validasilah perasaan sedihnya, tapi tetap jauhkan permennya. Dan kalau memang Anda membuat aturan “kita tidak makan permen” ya jangan ajak dia ke toko permen! Jangan berikan stimulasi yang melampaui kemampuan anak untuk menanggungnya. Jangan ekspos anak pada situasi-situasi menggoda yang membuat ia sulit mengendalikan dirinya.
Nah, sekarang kita akan bicara kendala yang paling besar untuk melaksanakan teknik validasi emosi ini. Kendala itu tak lain adalah diri kita sendiri! Kita terlalu gampang naik darah, terlalu cepat melontarkan kata-kata pedas, tangan kita terlalu cepat bergerak, mata kita terlalu cepat melotot, emosi kita terlalu mudah meledak … itulah kendala terbesar yang musti kita tangani lebih dulu. Bagaimana caranya?
Bayangkan pikiran kita adalah layar komputer. Ketika anak kita menangis atau tantrum atau rewel atau apa pun bahasa kita untuk itu, di layar benak kita akan bermunculan jendela-jendela (windows) yang bertuliskan pikiran-pikiran buruk. “Kurang ajar!” atau “Dasar cengeng!” atau “Tidak tahu diri!” atau “Pengganggu!” dan seterusnya. Semua pikiran buruk ini barangkali adalah kata-kata yang dulu kita dengar dari orangtua atau orang-orang di sekitar kita ketika kita masih kecil. Mungkin juga itu muncul dari ketakutan-ketakutan lain yang tersembunyi dalam diri kita. “Program-program lama ini menyuruh kita mengatakan atau melakukan sesuatu yang buruk kepada anak. Kalau kita langsung menuruti perintah mereka itu, kita pasti menyesal!” amar Naomi. Jadi, langkah penting sebelum melakukan validasi emosi adalah tutup semua jendela program-program lama yang bermunculan di kepala kita itu. Tarik nafas, tahan diri sampai semuanya reda, baru setelah itu kita akan terhubung dengan kesadaran tentang apa yang sebaiknya dikatakan atau dilakukan. Kita akan terhubung dengan diri kita yang sejati – sisi ‘orangtua bijak dan penuh cinta’ yang menjadi gambaran ideal kita. Tentu saja butuh praktek dan kemauan keras untuk berubah di sini. Itulah yang Naomi maksudkan ketika berkata: mendidik anak sama dengan mendidik diri sendiri, raising children is raising ourselves. “Yang kita perlu lakukan adalah meningkatkan kepekaan tentang apa yang terjadi dalam diri kita sendiri maupun anak kita, merawat apa yang ada, terkoneksi dengan anak, bersikap respek dan mempercayai anak. Maka kita akan mendapatkan anak yang berperilaku manis bukan karena kita menakut-nakutinya, bukan karena dia takut kita marahi atau berusaha menyenangkan kita supaya disayangi. Namun, kita memperoleh anak yang bahagia dan damai, yang berperilaku sepenuhnya baik karena keinginannya sendiri, atas pilihan bebasnya sendiri, sebab perlakuan orangtuanya padanya memungkinkan itu!” Demikian sekilas sinopsis dari sesi wawancara #9 CPS. Masih tersisa beberapa sesi lagi yang juga menantang keyakinan dan pikiran sampai tanggal 1 Agustus 2012 mendatang. Jika tertarik Anda bisa berkunjung ke situsConscious Parenting Summit 2012. Oh ya, sekedar informasi, apabila Anda membeli produk di situs CPS ini, entah video, buku, atau transkrip wawancara, sebagian dari dana Anda akan didonasikan pada Yayasan Bumi Sehat yang dikelola Robin Lim.
penulis: Ellen Kristi (praktisi pendidikan berbasis rumah dg metode charlote mansion)
|
Sabtu, 14 September 2013
Belajar HS dg Charlotte Mansion
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar